Review Single

Racikan Segar Tame Impala dalam 'It Might Be Time'

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 29/10/2019 12:27 WIB
Racikan Segar Tame Impala dalam 'It Might Be Time' Tame Impala memberi sajian menawan dalam lagu terbaru 'It Might Be Time'. (Foto: Emma McIntyre/Getty Images for Coachella/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tame Impala, nama panggung untuk Kevin Parker, mengumumkan bakal mengeluarkan album baru pada Februari 2020. Sebelumnya, sepanjang 2019 ia telah merilis dua single, yakni Patience dan Borderline.

Pada akhir Oktober, ia menggoda dengan merilis audio lagu bertajuk It Might Be Time, setelah beberapa waktu sebelumnya mengumumkan kehadiran album baru The Slow Rush pada Februari mendatang.

Jika Patience dan Borderline memiliki vibrasi serupa album Currents (2015), maka potongan audio It Might Be Time di bawah ini terdengar berbeda. Parker masih menunjukkan kecintaan terhadap psychedelic rock lewat keyboard yang tetap jadi instrumen utama.


Beberapa hal masih sama seperti yang terdahulu, seperti nuansa tahun 70-an, suara drum dan sentuhan elektronik yang mengokohkan karakter Tame Impala. It Might Be Time memiliki sejumlah ornamen kecil yang memperkaya aransemen secara keseluruhan, banyak kejutan dalam single ini.

Kevin Parker juga menggunakan bunyi sirene menjelang akhir lagu, menambah ketegangan sebelum tiba-tiba It Might Be Time usai.

"It might be time to face it // You ain't as young as you used to be," kata Parker, penuh peringatan.

It Might Be Time dibuka dengan manis dan hangat, sekilas mengingatkan  sementara Parker mengeluh, "I'm only tired of all these voices // Always saying nothing lasts forever."

Lagu ini memiliki beberapa 'rasa' sekaligus, naik turun yang menyenangkan, lebih kaya dan menarik dibandingkan kedua single sebelumnya. Tapi, semua tetap pada jalurnya. Dan tentu saja, artwork yang menyertai bercita rasa khas Tame Impala.

[Gambas:Youtube]

Secara umum tidak ada perubahan drastis yang mengejutkan, Parker seolah sengaja melakukannya secara perlahan, sama seperti caranya mengumumkan materi-materi baru selama ini: seperti patukan ular. Datang tak terduga, tiba-tiba ada, dan membekas di hati.

Pitchfork menyebutkan Kevin Parker menggarap The Slow Rush di Los Angeles dan di studio pribadi di rumahnya di Australia. Seperti yang lalu, kali ini ia juga merekam, memproduksi, dan me-mixing 12 materi terbarunya sendiri. Borderline serta sebagai salah satu materi, namun tidak demikian dengan Patience. Tampaknya album ini menjadi salah satu yang harus diantisipasi di pembukaan 2020.

(rea)