Teater Koma Minta Mendikbud Wajibkan Pelajar Nonton Teater

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 30/10/2019 08:35 WIB
Teater Koma Minta Mendikbud Wajibkan Pelajar Nonton Teater Pertunjukan teater yang ditonton langsung diyakini akan memberikan sensasi berbeda. (Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendiri Teater Koma Ratna Riantiarno mengungkapkan bahwa apreasiasi terhadap pementasan teater masih belum merata. Untuk itu, dia menaruh harapan agar Menteri Pendidikan yang baru, Nadiem Makarim dapat membuat aturan khusus agar penonton teater lebih banyak.

"Saya ingin sekali Mendikbud yang baru mewajibkan anak sekolah satu kali saja nonton teater, live perfomance dan bandingkan dengan nonton lewat YouTube. Itu jauh berbeda," harap Ratna saat ditemui dalam jumpa pers pentas 'J.J Sampah-Sampah Kota' di Sanggar Teater Koma, Selasa (29/10).

Menurut Ratna, kurangnya apreasiasi terhadap pertunjukan teater karena belum ada pelajaran khusus di sekolah.


"Guru-guru belum menganjurkan, 'Itu ada pertunjukan, tonton', karena mereka enggak ada pelajaran teater. Beda dengan lomba matematika. Itu luar biasa didukung karena sudah menjadi pelajaran," katanya.

Selain itu, dia pun memaparkan bahwa bila tidak pernah menonton pertunjukan akan sulit untuk bisa merasakan bahwa ada kenikmatan dan sesuatu yang beda menonton langsung.

"Kalau dibandingkan dengan film di bioskop, mereka menonton apa yang sudah ditentukan kameranya. Mereka melihat yang sudah dikonsep. Dan kalau di panggung, mereka akan dipuaskan dengan apa yang ingin mereka ingin lihat. Sebuah pengalaman yang luar biasa juga," katanya.

"Mudah-mudahan sekolah-sekolah dan orangtua bisa mewajibkan anak-anaknya untuk menonton," harap Ratna.

Sebagai pelaku seni di bidang teater, Ratna mengungkapkan sulitnya sebuah produksi teater yakni karena pementasan teater tidak menjadi idola untuk disponsori sektor privat atau pemerintah.

Teater Koma Minta Mendikbud Baru Wajibkan Pelajar Nonton TeatPertunjukan teater dijamin memiliki 'rasa' berbeda ketika ditonton langsung. (Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
"Apalagi ini acara independen, menyelenggarakan sesuatu sesuai yang kita mau, bukan pesanan. Mencari mitra selalu tidak mudah karena bukan pertunjukan pesanan," katanya

"Kalau bicara kesulitan apresiasi masyarakat, Teater Koma mainnya dua minggu sedangkan penduduk Jakarta berapa juta coba, enggak 0,0 persennya yang datang. Sedih sebetulnya, harusnya lebih banyak," tambah Ratna.

Dalam waktu dekat, Teater Koma telah siap untuk mementaskan kembali produksi terbarunya berjudul J.J Sampah-Sampah Kota. Lakon yang menjadi produksi ke-159 ini akan dipentaskan pada 8-17 November 2019 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Lakon yang sama ditulis oleh N. Riantiarno dan telah dipentaskan oleh Teater Koma pada 1979. Setelah 40 tahun berlalu, Teater Koma mementaskan ulang J.J Sampah-Sampah Kota dengan arahan Rangga Riantiarno yang berperan sebagai sutradara. Ini merupakan kali kedua penyutradaraan Rangga di Teater Koma setelah Antigoneo pada 2011 yang lalu.

"Saya memilih untuk mementaskan kembali lakon ini karena kisah para pemegang kekuasaan mempermainkan orang-orang kecil nyatanya dan ironisnya, tidak lekang oleh waktu. Selalu terjadi, terulang kembali, tak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia," kata Rangga di Taman Ismail Marzuki, Selasa (29/10).

Lakon J.J Sampah-Sampah Kota berkisah tentang sepasang suami istri bernama Jian dan Juhro yang hidup di sebuah gubuk di kolong jembatan. Jian bekerja sebagai kuli pengangkut sampah. Ia digaji harian dan tidak punya jaminan masa depan. Meski begitu dia tetap bekerja dengan jujur, rajin, giat dan gembira. Bersama Juhro, yang tengah hamil tua, dia hidup bahagia.

Semua ini tak lepas dari pengawasan Mandor Kepala dan tiga mandor bawahannya, Tiga Pemutus. Mereka ingin melihat sampai sejauh mana kejujuran Jian bisa dipertahankan. Suatu hari, Para Pemutus menjatuhkan tas berisi uang yang amat banyak di sekitar tempat Jian bekerja. Jian panik. Apa yang sebaiknya dia lakukan?

"Bicara soal sampah dan penguasa korup memang seolah tak ada habisnya di setiap era. Namun bagaimana dengan kejujuran? Seperti apa rasanya mempertahankan nilai kejujuran pada era di mana ketidakadilan dan ketidakjujuran bisa dengan mudahnya ditemui di sudut kota mana pun?" demikian keterangan dalam siaran pers terkait kisah J.J Sampah-Sampah Kota.

"Jawabannya, tentu tidak sesederhana itu. Sama halnya dengan, betapa tidak sederhananya mementaskan kembali lakon yang sudah dipentaskan puluhan tahun lalu di era sekarang." (agn/rea)