Bela Imigran di AS, Seribu Musisi Independen Boikot Amazon

CNN Indonesia | Jumat, 01/11/2019 07:39 WIB
Bela Imigran di AS, Seribu Musisi Independen Boikot Amazon Ilustrasi. (AFP Photo/Johannes Eisele)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lebih dari seribu musisi independen meneken petisi untuk memboikot Amazon yang dianggap mendukung kebijakan anti-imigran pemerintahan Amerika Serikat karena bekerja sama dengan badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE).

"Kami tak akan membiarkan Amazon mengeksploitasi kreativitas kami untuk mempromosikan brand sementara mereka mendukung penyerangan terhadap imigran, komunitas kulit berwarna, pekerja, dan ekonomi lokal," demikian bunyi surat terbuka para musisi yang dikutip NME.

Dalam surat yang dilansir di situs Fight for the Future tersebut, tertera nama-nama musisi pendukung gerakan boikot Amazon tersebut, mulai dari DIIV, Chastity Belt, Deerhof, hingga Girlpool.

"Artis yang memberikan tanda tangan di bawah ini geram karena Amazon terus memberikan bantuan teknis yang mendukung pelanggaran HAM oleh ICE. Kami tidak akan berpartisipasi dalam acara yang disponsori Amazon, atau terlibat kerja sama dengan Amazon," tulis mereka.


Gerakan ini bermula ketika Amazon mengadakan festival musik dengan bintang tamu mulai dari Foo Fighters, Beck, Anderson Paak, hingga The Black Madonna. Tak lama setelah daftar penampil diumumkan, The Black Madonna mengundurkan diri karena menemukan fakta mengenai Amazon.

Sebagaimana dilansir NME, salah satu anak perusahaan Amazon, Amazon World Service, memang bekerja sama dengan Palantir. Perusahaan penambang data tersebut menyediakan teknologi bagi ICE yang membantu mereka melacak imigran ilegal untuk kemudian dideportasi.

Kini, Amazon World Service juga sedang mengembangkan perangkat lunak kontroversial yang dapat digunakan untuk mengenali wajah.

Para musisi pun berjanji tak akan bekerja sama dalam bentuk apapun hingga Amazon memenuhi tiga tuntutan utama mereka.
Bela Imigran di AS, Ribuan Musisi Independen Boikot AmazonPara musisi pun berjanji tak akan bekerja sama dalam bentuk apapun hingga Amazon memenuhi tiga tuntutan utama mereka. (AFP Photo/John Macdougall)
Pertama, para musisi independen itu mendesak Amazon menanggalkan semua kontrak dengan militer, aparat penegak hukum, dan badan-badan pemerintahan lainnya, mulai dari ICE, Perlindungan Perbatasan, hingga Kantor Penempatan Pengungsi.

Mereka juga meminta Amazon mengakhiri pengembangan perangkat lunak pengenal wajah yang dikhawatirkan dapat meningkatkan diskriminasi berdasarkan warna kulit.

Terakhir, ribuan musisi itu mendesak Amazon World Service menghentikan secara permanen layanan dan peralatan bagi perusahaan-perusahaan seperti Palantir.

Gerakan para musisi ini terinspirasi dari berbagai kelompok masyarakat lain yang sudah menyerukan aksi serupa sebelumnya, mulai dari kalangan pengembang teknologi hingga komunitas komik.

Komunitas-komunitas ini geram dengan sikap pemerintahan AS di bawah komando Presiden Donald Trump yang dianggap sangat anti-imigran.

Sejak awal menjabat, Trump memang sudah memicu sentimen anti-imigran dengan janji untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko.

Di bawah pemerintahannya, Trump juga menerapkan kebijakan untuk memisahkan anak imigran dengan keluarganya selama proses verifikasi.

Terakhir, Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyatakan bahwa mereka sedang mengembangkan rencana pengumpulan DNA imigran ilegal yang nantinya bakal dimasukkan ke dalam basis data profil DNA kriminal.

[Gambas:Video CNN]
Kebijakan pengambilan sampel DNA tersebut memicu kritik dari para advokat hak-hak sipil. Menurut Vera Eidelman, pengacara dari Serikat Kebebasan Sipil Amerika, pengambilan DNA secara paksa berdampak pada kebebasan dan otonomi masyarakat.

Ia kemudian menyoroti tujuan pengumpulan DNA yang awalnya sebagai salah satu bentuk investigasi kriminal menjadi alat pengawasan populasi, berlawanan dengan hak dasar manusia untuk mendapatkan kebebasan dan otonomi. (has/has)