Review Film: Tune in for Love

CNN Indonesia | Rabu, 13/11/2019 18:35 WIB
Review Film: Tune in for Love Tune in for Love menampilkan kisah romansa dua manusia sebatang kara yang berjuang di tengah kehidupan penuh godaan, kesulitan ekonomi, trauma, dan stigma. (dok. Kobiz/ MOVIEROCK)
Jakarta, CNN Indonesia -- Istilah "jodoh tak lari ke mana" yang acapkali didengungkan kini tergambar dalam film Korea Tune in for Love, meski begitu banyak aral melintang.

Tune in for Love yang disutradarai oleh Jung Ji-woo menampilkan kisah romansa dua manusia sebatang kara yang berjuang di tengah kehidupan penuh godaan, kesulitan ekonomi, trauma psikis, dan stigma.

Kondisi cerita itu senada dengan film Crazy/Beautiful yang dibintangi Kristen Dunst dan Jay Hernandez pada 2001. Walaupun, Tune in for Love tak seekstrem Crazy/Beautiful karena perbedaan latar belakang para karakternya.


Cerita Tune in for Love dimulai ketika Hyun-woo (Jung Hae-in) mendatangi toko roti milik Mi-soo (Kim Go-eun) guna membeli tahu.

Mi-soo yang mewarisi toko roti dari mendiang ibunya dan mengelola bersama juru masak Eun-ja (Kim Gook-hee) tak bisa memenuhi permintaan Hyun-woo tersebut.

Keinginan Hyun-woo ini membuat Mi-soo dan Eun-ja menduga pria itu baru keluar dari penjara, mengingat mengonsumsi tahu adalah tradisi para warga binaan Lapas Korea ketika menghirup udara bebas.

Begitu mendapatkan tahu, Hyun-woo dan Mi-soo terlibat dalam perbincangan terkait kehidupan masing-masing. Keduanya ternyata 'senasib' dan Hyun-woo pun diizinkan untuk menyambung hidup dengan bekerja paruh waktu di toko roti itu.

Seiring waktu berjalan, benih asmara antara keduanya tumbuh perlahan. Tak banyak kata atau aksi, hanya sorotan mata mereka yang berbicara soal asmara itu. Selayaknya film romansa lain, perjalanan cinta kedua anak manusia dengan latar belakang dan sifat berbeda itu juga tak selamanya mulus.

Cerita Tune in for Love dimulai ketika Hyun-woo (Jung Hae-in) mendatangi toko roti milik Mi-soo (Kim Go-eun) guna membeli tahu. (dok. Kobiz/ MOVIEROCK)

Sutradara Jung Ji-woo berhasil membangun karakter kedua tokoh film ini secara perlahan dan tersirat melalui adegan-adegan yang membuat penonton bisa menarik kesimpulan.

Tutur cerita Tune in for Love melalui mimik dan sedikit percakapan mengingatkan pada film-film indie yang cenderung lambat, sepi, dan pelit dengan percakapan.

Penonton harus sepenuhnya berkonsentrasi untuk bisa memutuskan bahwa Mi-soo adalah seorang perempuan sebatang kara yang memiliki cita-cita menghidupkan kembali toko roti warisan dari ibunya yang terpaksa ditutup.

Tidak dijelaskan alasan toko roti itu tutup. Tapi lewat gambar, sutradara Jung Ji-woo berusaha menggambarkan bahwa krisis finansial yang melanda Asia pada 1997 jadi penyebabnya.

Film ini memiliki rentang waktu yang lama dan setiap melewati tahun-tahun yang penting, sutradara mengaitkan kisah dalam film dengan peristiwa nyata yang terjadi.

[Gambas:Youtube]

Bukan hanya peristiwa, Tune in for Love juga mencampurkan kisah Mi-soo dan Hyun-woo dengan musik dan situasi Korea. Hal ini jadi tantangan bagi penonton di luar Korea atau mereka yang tak akrab dengan perjalanan negara tersebut.

Salah satunya adalah lagu Forever Love milik Fin.K.L dari 1999. Lagu ini digunakan ketika Hyun-woo berhasil mengontak Mi-soo pada 2000. Keputusan menggunakan lagu ini terbilang cerdik, karena bukan hanya menggambarkan alur cerita, namun juga situasi era tersebut.

Penulis Lee Jin-hyuk secara perlahan juga membawa penonton untuk mengerti alasan trauma Hyun-woo dan insiden di masa lalu.

Meski cerita inti ditampilkan dengan indah dan puitis secara visual lewat akting kuat Kim Go-eun, ada sejumlah bagian cerita yang tidak tuntas dan membuat penonton hanya bisa berspekulasi.

Hal ini tipikal alur cerita film Korea, termasuk drama, yang tak pernah sederhana dan selalu ada sub-plot penuh nilai juga norma kehidupan yang dibiarkan untuk ditafsir penonton.

Bukan hanya peristiwa, Tune in for Love juga mencampurkan kisah Mi-soo dan Hyun-woo dengan musik dan situasi Korea. (dok. Kobiz/ MOVIEROCK)

Padahal secara sederhana, Tune In For Love sebenarnya tidak memerlukan perluasan cerita yang tak rampung itu. Hal ini karena kisah Mi-soo dan Hyun-woo sudah cukup kuat dan memikat.

Kredit pantas diberikan kepada Kim Go-eun. Tanpa penampilan apik dari aktris ini, visi sutradara dan penulis naskah tak bisa terwujud secara utuh.

Kerja sama Kim dengan sutradara Jung Ji-woo dalam Tune in for Love ini adalah kali kedua setelah bertemu pertama kali dalam A Muse (2012), yang juga jadi momen debut Kim Go-eun sekaligus menuai banyak pujian.

Akting Kim Go-eun dalam A Muse yang menuai pujian sempat tak muncul saat aktris 28 tahun itu beraksi di serial drama Cheese in the Trap dan Goblin yang sangat populer.

Namun akting prima Kim Go-eun kembali muncul dalam Tune in for Love. Ia dengan mulus menampilkan akting tanpa mesti banyak berkata-kata.

Cukup dengan mimik dan gerakan tubuh, Kim Go-eun bisa menjelaskan Mi-soo dengan baik. Belum lagi dengan memaksa penonton menduga jalan pikiran Mi-soo atas berbagai keputusan yang ia buat.

[Gambas:Youtube]

Sedangkan untuk Jung Hae-in, aksinya kali ini kembali bersama Kim Go-eun terbilang tak mengecewakan. Meskipun, dirinya kerap 'kalah panggung' karena pesona Kim Go-eun saat mereka beradu dalam satu frame.

Sutradara Jung Ji-woo dan penulis naskah Lee Jin-hyuk terbilang sanggup bekerja sama dengan baik, serta mampu menampilkan hal detail pada semua aspek cerita dengan cermat namun mudah dimengerti.

Satu hal yang mungkin jadi kritik kecil adalah film ini adalah kurang mampu membuat penonton merasakan sepi yang dialami dua karakter utama. Hal ini bisa jadi berbeda bila diproduksi oleh Jepang, yang lihai memainkan suasana kelam.

Pada akhirnya, film Tune in for Love mengajarkan bahwa jodoh memang tak akan ke mana. Akan selalu ada cara untuk menemukan cinta, apa pun cobaannya. (yns/end)