Mengeruk Uang dari Mimpi di Ajang Pencarian Bakat Korea

CNN Indonesia | Minggu, 17/11/2019 14:50 WIB
Mengeruk Uang dari Mimpi di Ajang Pencarian Bakat Korea Di Korea, masyarakat menggemari ajang pencarian bakat karena memungkinkan orang biasa jadi idola. (Screenshoot via Instagram @produce101_official)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ajang pencarian bakat atau audisi menjadi salah satu tontonan yang digemari banyak masyarakat dunia, salah satunya Korea Selatan. Program audisi pun berkembang pesat selama puluhan terakhir di Negara Gingseng tersebut.

Beberapa acara audisi bertahan dari tahun ke tahun seperti Superstar K dan K-pop Star yang telah melahirkan banyak musisi kenamaan Korea seperti Seo In-guk, Huh Gak, John Park, Roy Kim, Park Ji-min, Lee Hi, Akdong Musician dan Nakjoon.

Namun, ajang audisi sesungguhnya telah dimulai lebih dari 38 tahun lalu melalui KBS Korean Sings (Jeonguk Norae Jarang). Namun, acara yang rilis pada dekade '80-an itu tak terlalu populer di masyarakat.


Masyarakat Korea Selatan mulai tertarik dengan acara audisi sejak Superstar K musim kedua tayang dan persaingan ketat terjadi antara Huh Gak dan John Park.

Acara tersebut diwarnai drama dari pendukung kedua kontestan. Huh Gak merupakan pria yang berasal dari keluarga kurang mampu dan berpenampilan kurang menarik.

Sementara itu, John Park merupakan campuran Amerika-Korea Selatan yang tampan, tinggi dan berasal dari keluarga mampu.

Profesor Departemen Sosiologi Universitas Ewha Lee Joo-hee mengatakan hal itu menggambarkan keinginan masyarakat Korea Selatan atas kesetaraan dalam kompetisi di dunia nyata.

"Penonton berfantasi kemampuan seseorang biasa bisa diakui dalam sebuah kompetisi yang berjalan adil karena dalam kehidupan nyata tak berlaku," kata Lee seperti dilaporkan Korea Herald.

"Mereka mendapatkan kesenangan melihat orang biasa menjadi bintang," tuturnya.

Tak hanya itu, mereka juga merasa berperan atas kesuksesan artis tersebut karena penonton dilibatkan dalam perhitungan suara melalui pesan singkat atau online voting.

Sehingga, acara audisi tersebut terus berkembang dari tahun ke tahun. Seri Produce pun dinilai menjadi salah satu yang paling terpopuler dalam tiga tahun terakhir karena menghasilkan I.O.I dan WANNA ONE.

Mengeruk Uang dari Mimpi di Ajang Pencarian Bakat Korea Seri Produce pun dinilai menjadi salah satu yang paling terpopuler dalam tiga tahun terakhir karena menghasilkan I.O.I dan Wanna One. (Screenshoot via Instagram/@wannaone.official)

Pergeseran Sistem

Acara audisi atau survival show awalnya bertujuan untuk memberikan kontrak kepada pemenang dengan satu label agensi tertentu seperti Superstar K dan K-pop Star.

Dua acara tersebut bersifat mencari musisi-musisi berbakat dan pemenang akan masuk agensi dari panelis.

Para juri Superstar K dan K-pop Star terbilang tak main-main, mulai dari para petinggi Big 3, Yang Hyun-suk, Park Jin-young, BoA, hingga musisi senior lainnya seperti Lee Hyori dan Lee Seung-chul.

Namun, seiring dengan meningkatnya perhatian dari penggemar, survival show tersebut mulai berubah menjadi model bisnis co-producer dan turut mendapatkan keuntungan.

Yonhap melaporkan, CJ ENM selaku pemilik dan yang mengoperasikan Mnet, mendapatkan 25 persen dari keuntungan aktivitas WANNA ONE selaku pemenang Produce 101 musim kedua.

Mengeruk Uang dari Mimpi di Ajang Pencarian Bakat KoreaDi musim ketiga dan keempat, Produce melahirkan IZ*ONE dan X1. (dok. TvN)

Sementara itu, sisanya dibagi kepada 11 member WANNA ONE dan masing-masing agensi atau sekitar 4,5 persen untuk tiap orang dan label.

Dengan sistem seperti itu, acara tersebut masih terus berlanjut hingga 2019. Di musim ketiga dan keempat, Produce melahirkan IZ*ONE dan X1.

Namun, dua musim terakhir harus berhadapan dengan hukum karena diduga manipulasi suara yang dilakukan petinggi.

Hal tersebut tak menyurutkan niatan Mnet untuk merilis program audisi baru. Petinggi Mnet mengatakan telah membuat strategi untuk meningkatkan program audisi seperti pemilihan melalui misi, evaluasi para ahli, dan dukungan via V Live.

Mereka juga berupaya meningkatkan program audisi melalui 'sistem pengamat yang terdiri dari orang biasa dan orang asing yang mengawasi voting via pesan singkat untuk menentukan hasil. (chri/end)