Voting dan Pertaruhan Kredibilitas Ajang Pencarian Bakat

CNN Indonesia | Minggu, 17/11/2019 13:50 WIB
Voting dan Pertaruhan Kredibilitas Ajang Pencarian Bakat Pada beberapa kasus, ketertarikan penonton atas ajang pencarian bakat berujung tanda tanya melihat hasil pemenang. (Istockphoto/ Jgroup)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa hal dibutuhkan ajang pencarian bakat untuk membuat acara tersebut menarik untuk ditonton. Mulai dari kemampuan para kontestan, juri berkompeten, hingga peran serta pendukung atau penonton.

Dukungan dari penonton bisa ditunjukkan melalui SMS voting. Persentase perolehan suara biasanya ditampilkan ketika acara sedang tayang di layar kaca.

Melansir hasil studi Mobilox yang dilansir Digital Market Asia, sekitar 37 persen penonton rutin mengirimkan SMS voting kepada kontestan favorit, 30 persen beberapa kali mengirimkannya dan 21 persen merupakan pemilih pertama kali.


Voting dan Pertaruhan Kredibilitas Ajang Pencarian BakatIlustrasi voting berdasarkan SMS di ajang pencarian bakat. (Foto: AFP PHOTO / ROSLAN RAHMAN)
Namun, hasil studi tersebut menunjukkan sebagian besar responden lebih memilih missed call dibandingkan SMS jika layanan tersebut tersedia. Sekitar 48 persen responden menilai hal tersebut lebih mudah, 37 persen berpendapat lebih murah karena cuma-cuma.

Sementara itu, hanya 10 persen yang tetap memilih SMS karena dinilai bisa sekaligus memberikan 'pesan cinta' kepada kontestan favorit mereka.

Namun, kredibilitas dan integritas turut berpengaruh atas umur acara pencarian bakat. Ketertarikan penggemar membuat mereka tetap mengamati tiap episode acara tersebut.

Tak jarang penonton bertanya-tanya ketika melihat hasil akhir ajang tersebut, seperti ketika kekalahan Adam Lambert dari Kris Allen pada American Idol 2009, hingga kasus terbaru yakni manipulasi perhitungan suara Produce X 101.
Sehingga, sistem perhitungan suara acara pencarian bakat pun makin dipertanyakan. Namun, hal tersebut tidak pernah diungkap oleh pihak penyelenggara maupun penyedia jasa telekomunikasi.

Fremantle salah satunya. Sebagai pihak yang menangani Indonesian Idol sejak beberapa tahun silam, mereka enggan membeberkan tahapan pengumpulan data voting penonton yang digunakan untuk menentukan pemenang.

"Yang kami tekankan, semuanya telah terbukti Indonesian Idol sejak 2004 dengan 10 season masih bertahan, itu sebagai bukti bahwa Indonesia percaya dengan acara ini," kata Co-Managing Director Fremantle Victor Ariesza kepada CNNIndonesia.com.

CNNIndonesia.com juga sudah berusaha menghubungi jasa penyedia telekomunikasi yang kerap bekerja sama dalam ajang pencarian bakat, namun mereka enggan memberikan tanggapan atas proses pemilihan suara ini. (chri/end)