'Trump' Ditabrak Mobil dalam Video Musik Teranyar Neon Indian

CNN Indonesia | Sabtu, 16/11/2019 09:40 WIB
'Trump' Ditabrak Mobil dalam Video Musik Teranyar Neon Indian Musisi Neon Indian merangkum perjalanan sebagai imigran Meksiko melalui lagu teranyar, Toyota Man. Di video lagunya, boneka serupa Donald Trump tertabrak mobil. (Jason Kempin/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Musisi bernama panggung Neon Indian merangkum perjalanan hidupnya sebagai imigran Meksiko yang mencari peruntungan ke Amerika Serikat melalui lagu teranyarnya, Toyota Man. Dalam video lagu itu, terlihat boneka serupa Donald Trump tertabrak mobil.

Di awal video yang diunggah melalui kanal YouTube Neon Indian tersebut, musisi penyandang nama lahir Alan Palomo itu terlihat berdiri di Meksiko, dekat perbatasan dengan AS.

Adegan kemudian berpindah ke latar sebuah pesta, di mana satu boneka manusia berbentuk mirip Trump duduk.

Video itu kemudian mengikuti perjalanan "Trump" dari Monterrey, Meksiko, menuju Nuevo Laredo, kemudian San Antonio di AS hingga tiba di Austin.


Dalam perjalanannya, "Trump" melewati berbagai rintangan, mulai dari kejaran seorang nenek-nenek, hingga anak-anak sampai akhirnya tertabrak satu mobil yang sedang melintas.

[Gambas:Youtube]

Lirik lagu tersebut juga terdengar bak mars pro-imigran. Salah satu penggalan liriknya berbunyi, "Kami datang untuk belajar. Kami mau bekerja."

Ini merupakan kali pertama Palomo menggunakan bahasa Spanyol dalam lagunya. Toyota Man juga merupakan lagu perdana Palomo yang berbau politik.

"Meski musik saya biasanya tak berbau politik, saya sadar ketika merekam lagu ini, tidak mungkin menulis sesuatu yang bersifat biografis tanpa politis sama sekali. Kisah keluarga saya tiba-tiba dipolitisasi," ucap Palomo seperti dilansir Pitchfork.

[Gambas:Video CNN]

Belakangan, isu pengungsi menjadi sorotan setelah Trump menjabat. Sejak kampanye, Trump kerap memicu sentimen anti-imigran dengan janji untuk membangun tembok di sepanjang perbatasan AS dan Meksiko.

Di bawah pemerintahannya, Trump juga menerapkan kebijakan untuk memisahkan anak imigran dengan keluarganya selama proses verifikasi.

Terakhir, Kementerian Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) menyatakan bahwa mereka sedang mengembangkan rencana pengumpulan DNA imigran ilegal yang nantinya bakal dimasukkan ke dalam basis data profil DNA kriminal. (has/has)