Sejatinya, film ini masih sama dengan serial Charlie's Angels (1976-1981) dan film Charlie's Angels (2000) dan Charlie's Angels: Full Throttle (2003). Semuanya mengisahkan tiga spionase wanita.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu terbukti dari banyak perpindahan adegan yang kaku dan terasa memaksa. Satu adegan belum rampung tapi sudah berpindah ke adegan lain, kemudian kembali ke adegan sebelumnya.
Pada adegan tersebut juga ada bukti naskah yang belum matang, yaitu dialog yang tidak penting antara Sabina dengan Jane mengenai pengalaman di Istanbul. Akan lebih baik kalau adegan itu tidak ada. Dialog yang tidak penting seperti itu juga terjadi di banyak adegan lain.
Sejatinya, film ini masih sama dengan serial Charlie's Angels (1976-1981) dan film Charlie's Angels (2000) dan Charlie's Angels: Full Throttle (2003). (Dok. Columbia Pictures) |
Bukti lain bahwa naskah belum matang adalah kemunculan beberapa adegan yang tidak penting dan terasa memaksakan. Salah satunya ketika Sabina dan Jane melakukan foto box sebelum beraksi.
Adegan itu sama sekali tidak berguna. Nampaknya adegan itu hanya dibuat agar film yang disutradarai Elizabeth Banks menjadi film laga dengan bumbu komedi. Tapi sayangnya usaha itu gagal.
Kekurangan lain dalam film ini adalah efek visual yang sangat buruk untuk kelas produksi internasional. Hal itu terlihat ketika Sabina naik helikopter setelah misi selesai.
Dari segi cerita, secara tidak langsung film ini berkaitan dengan Charlie's Angels (2000) dan Charlie's Angels: Full Throttle (2003). Ada adegan yang menampilkan foto Natalie Cook (Cameron Diaz), Dylan Sanders (Drew Barrymore) dan Alex Munday (Lucy Liu).
Kelebihan lain dalam Charlie's Angels adalah beberapa dialog membahas kesetaraan gender. (Dok. Columbia Pictures) |
Selain itu ada juga adegan yang membahas sejarah Charlie's Angels, di mana ada salah satu agen yang membelot. Agen tersebut adalah Madison Lee (Demi Moore) yang diceritakan dalam film Charlie's Angels: Full Throttle (2003).
Namun dari segi adegan laga, film ini lebih menarik dibanding film-film Charlie's Angels sebelumnya. Adegan baku hantam lebih variatif karena turut menggunakan senjata api dan senjata tajam, tidak hanya tangan kosong.
Kemampuan akting Stewart, Scott dan Baliskan tidak perlu diragukan lagi. Namun sedikit catatan untuk Kristen Stewart, aksinya sebagai agen yang bengal belum bisa menandingi Drew Barrymore.
Kelebihan lain dalam Charlie's Angels adalah beberapa dialog membahas kesetaraan gender, yang menekankan wanita tidak bisa dipandang sebelah mata dan bisa melakukan berbagai hal yang dilakukan pria. (end)
Sejatinya, film ini masih sama dengan serial Charlie's Angels (1976-1981) dan film Charlie's Angels (2000) dan Charlie's Angels: Full Throttle (2003). (Dok. Columbia Pictures)
Kelebihan lain dalam Charlie's Angels adalah beberapa dialog membahas kesetaraan gender. (Dok. Columbia Pictures)