Review Film: Charlie's Angels

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Jumat, 15/11/2019 19:01 WIB
Review Film: Charlie's Angels Sejatinya, film Charlie's Angels masih sama dengan versi serial pada 1976-1981, Charlie's Angels (2000), dan Charlie's Angels: Full Throttle (2003). (Dok. Columbia Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sulit untuk mengatakan Charlie's Angels adalah film yang bagus. Faktanya, film yang digarap rumah produksi Columbia Pictures ini tergolong tak ada yang spesial meski sudah berganti pemeran.

Sejatinya, film ini masih sama dengan serial Charlie's Angels (1976-1981) dan film Charlie's Angels (2000) dan Charlie's Angels: Full Throttle (2003). Semuanya mengisahkan tiga spionase wanita.

Kali ini, tiga wanita tersebut adalah Sabina Wilson (Kristen Stewart), Elena Houghlin (Naomi Scott) dan Jane Kano (Ella Balinska). Mereka harus menggagalkan produksi sebuah alat yang bisa membahayakan manusia.


Sebenarnya cerita itu menarik. Tapi sayang ide itu tidak dieksekusi dengan baik, dan naskah film ini tampak belum benar-benar matang.

Hal itu terbukti dari banyak perpindahan adegan yang kaku dan terasa memaksa. Satu adegan belum rampung tapi sudah berpindah ke adegan lain, kemudian kembali ke adegan sebelumnya.

Salah satunya ketika Wilson, Elena dan Jane membahas misi ke Istanbul dengan Bosley yang diperankan Elizabeth Banks. Di tengah pembahasan misi yang asik, adegan malah berpindah sehingga terasa tak tuntas.

Pada adegan tersebut juga ada bukti naskah yang belum matang, yaitu dialog yang tidak penting antara Sabina dengan Jane mengenai pengalaman di Istanbul. Akan lebih baik kalau adegan itu tidak ada. Dialog yang tidak penting seperti itu juga terjadi di banyak adegan lain.

Review Film: Charlie's AngelsSejatinya, film ini masih sama dengan serial Charlie's Angels (1976-1981) dan film Charlie's Angels (2000) dan Charlie's Angels: Full Throttle (2003). (Dok. Columbia Pictures)

Bukti lain bahwa naskah belum matang adalah kemunculan beberapa adegan yang tidak penting dan terasa memaksakan. Salah satunya ketika Sabina dan Jane melakukan foto box sebelum beraksi.

Adegan itu sama sekali tidak berguna. Nampaknya adegan itu hanya dibuat agar film yang disutradarai Elizabeth Banks menjadi film laga dengan bumbu komedi. Tapi sayangnya usaha itu gagal.

Kekurangan lain dalam film ini adalah efek visual yang sangat buruk untuk kelas produksi internasional. Hal itu terlihat ketika Sabina naik helikopter setelah misi selesai.

Dari segi cerita, secara tidak langsung film ini berkaitan dengan Charlie's Angels (2000) dan Charlie's Angels: Full Throttle (2003). Ada adegan yang menampilkan foto Natalie Cook (Cameron Diaz), Dylan Sanders (Drew Barrymore) dan Alex Munday (Lucy Liu).

Review Film: Charlie's AngelsKelebihan lain dalam Charlie's Angels adalah beberapa dialog membahas kesetaraan gender. (Dok. Columbia Pictures)

Selain itu ada juga adegan yang membahas sejarah Charlie's Angels, di mana ada salah satu agen yang membelot. Agen tersebut adalah Madison Lee (Demi Moore) yang diceritakan dalam film Charlie's Angels: Full Throttle (2003).

Namun dari segi adegan laga, film ini lebih menarik dibanding film-film Charlie's Angels sebelumnya. Adegan baku hantam lebih variatif karena turut menggunakan senjata api dan senjata tajam, tidak hanya tangan kosong.

Kemampuan akting Stewart, Scott dan Baliskan tidak perlu diragukan lagi. Namun sedikit catatan untuk Kristen Stewart, aksinya sebagai agen yang bengal belum bisa menandingi Drew Barrymore.

Kelebihan lain dalam Charlie's Angels adalah beberapa dialog membahas kesetaraan gender, yang menekankan wanita tidak bisa dipandang sebelah mata dan bisa melakukan berbagai hal yang dilakukan pria. (end)