"Teman-teman terkasih, setiap hari, 100 orang Amerika ditembak dan tewas karena senjata. Kita mengubah negara indah ini menjadi Zona Perang. Bersama, mari kita hadirkan kembali Amerika sebagai ladang hijau perdamaian," tulis Ono melalui Twitter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ono lantas membalas kicauannya sendiri dengan menulis, "Kematian orang tercinta merupakan pengalaman yang menyakitkan. Setelah 39 tahun, Sean, Julian, dan saya masih merindukannya."
Di akhir kicauan itu, Ono melampirkan sederet tagar, yaitu #enoughisenough, #peace, #guncontrolnow, #gunviolence, #nra, #guns, #gunsafety, #firearms, dan #endgunviolence.
[Gambas:Twitter]
Meski penembakan terus terjadi, pemerintah AS tak kunjung memperketat aturan, diduga karena sejumlah pihak di parlemen menjalin hubungan dekat dengan para pelobi senjata.
Lennon sendiri tewas akibat tembakan yang dilepaskan oleh Mark Chapman. Pada 2018, permohonan bebas bersyarat Chapman ditolak.
Menurut Ono, Chapman memang tidak seharusnya dibebaskan karena sampai saat ini, ia masih takut jika mengingat sosok pembunuh gitaris The Beatles itu.
"Sangat sangat sulit bagi saya untuk memikirkan Chapman, terutama karena ia tidak merasa bersalah. Jika dia sudah melakukannya sekali, dia bisa melakukannya lagi terhadap orang lain. Bisa saya, Sean, atau siapapun," katanya sebagaimana dikutip NME. (has)