Mengukur Umur Karaoke Massal Milenial

CNN Indonesia | Minggu, 15/12/2019 17:43 WIB
Mengukur Umur Karaoke Massal Milenial Kala menyebut tren, pertanyaan yang muncul adalah bilamana akan berakhir. Begitu pula dengan karaoke massal, para pelaku punya pandangan sendiri soal akhirnya. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika menyebut sesuatu sebagai tren, salah satu pertanyaan yang akan muncul adalah bilamana akhir dari semuanya. Begitu pula dengan tren karaoke massal yang kini sedang digandrungi anak muda Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Namun, khusus tren karaoke ini, sejumlah pelaku melihatnya dari berbagai sisi. Ada yang menilai akan terus bertahan, tapi kubu lain memprediksi akan berakhir begitu tren baru muncul.

Oomleo Berkaraoke, misalnya, salah satu pionir karaoke massal ini berpendapat tren itu akan terus bertahan selama industri musik dunia dan lokal masih stagnan. Menurutnya, orang akan terus merindukan kesenangan bernyanyi sing along untuk nostalgia.


"Selama industri dunia dan lokal masih stuck di ranah ini, gua rasa karaoke tetap jalan karena belum bisa tergantikan sih. Banyak banget lagu-lagu klasik, lagu-lagu yang sangat sing along dan bagus cuma terjadi di masa itu, enggak terjadi lagi di zaman sekarang," ujar Oomleo saat berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Senada dengan Oomleo, Ryo Wicaksono selaku salah satu pemilik bar yang rutin menggelar malam karaoke, Duck Down, juga mengatakan bahwa tren ini masih akan berlanjut, tapi butuh pembaruan agar terus menarik perhatian.

"Berakhir sih enggak, tapi harus ada gimmick-nya. Kalau sekadar karaoke biasa juga orang lama-lama pasti bosan. Hari gini emang harus pintar cari atau bikin gimmick," katanya.

Pendapat lain datang dari Mr. Nostalgila yang juga menyuguhkan penampilan karaoke massal dengan tembang nostalgia.

Pria bernama asli Janur ini semula berbagi pandangan bahwa tren karaoke massal merupakan wadah positif untuk dapat bernyanyi sambil bersenang-senang. Sama dengan karaoke konvensional, perkembangan pesat tren ini juga karena dasar budaya orang Indonesia yang senang bernyanyi.

"Karena sekarang wadah acaranya ada, penampil ada jadi deh 'meledak.' Sederhananya, semesta mendukung," katanya.

"Karaoke sangat relevan dan dekat sama audience di Indonesia. Cuma kalau tetap akan ada di bawah spotlight itu, kita lihat nanti. Jadi gua enggak bisa kasih tahu faktor berakhir, karena kayak artinya secara harafiah saja kara oke = nyanyi bersama. Jadi enggak bakal membuat kita berhenti buat nyanyi bersama."
Mengukur Umur Karaoke Massal Milenial (FOKUS)Oomleo berpendapat tren karaoke massal akan terus bertahan selama industri musik dunia dan lokal masih stagnan. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Di lain sisi, Adli Hafidh sebagai manajer Feel Koplo, grup pemandu karaoke yang selalu mengaransemen ulang lagu menjadi dangdut, mengakui bahwa tren ini akan ada akhirnya.

Ia pun sudah menyusun strategi tersendiri untuk mengantisipasi hal itu. Feel Koplo masih mengikuti tren, tapi juga membuat ciri khas yang setidaknya membuat "kapal dapat terus berlayar."

"Gua ngeh sama tren karaoke kan, tapi gua ngerasa enggak terlalu ada value-nya bagi para DJ atau musisi kalau cuman playback aja. Karaoke seru buat penonton, tapi gua rasa kalau enggak ada value lainnya ini hanya akan jadi tren semata. Gua butuh talent yang emang bisa punya value lebih daripada sekadar karaoke. Pas banget habis itu gua ketemu Feel Koplo," katanya.

"Mereka mau bawain lagu apa aja juga aman. Mau emo, top 40, indie, metal, aman karena value mereka di dangdut. Sampai Feel Koplo udah enggak lagi menaruh lirik di visual karena emang value mereka di dangdut, di jogetnya, bukan lagi karaokenya. Tapi tetap [Feel Koplo] ada di wave karaoke ini munculnya." (agn/has)