Review Film: Ashfall

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 03/01/2020 19:19 WIB
Menampilkan situasi kala Gunung Baekdu akan meletus, film Ashfall bukan hanya berisi kegentingan menyelamatkan diri. Menampilkan situasi kala Gunung Baekdu akan meletus, film Ashfall bukan hanya berisi kegentingan menyelamatkan diri. (dok. CJ Entertainment via HanCinema)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kalimat "momen awal tak mesti selalu sempurna" mungkin layak saya berikan pada film Ashfall, salah satu film kebencanaan vulkanologi pertama yang saya tonton dari Korea Selatan.

Sebagai penggemar film bencana terutama vulkanologi, saya sempat merengut di bagian-bagian awal Ashfall. Namun seiring cerita berjalan, film ini mampu membuat saya cukup betah duduk menghabiskan 128 menit di bioskop.

Ashfall mengisahkan perjuangan sekelompok tim yang ditugaskan oleh Pemerintah Korea Selatan untuk mencegah letusan besar Gunung Baekdu. Gunung ini diramal akan erupsi dalam tiga letusan besar, yang bila tak dibiarkan akan merusak sebagian besar Semenanjung Korea.


Dalam menjalankan misi, rencana gila dilakukan oleh Pemerintah Korea, salah satunya adalah menggunakan bahan senjata nuklir Korea Utara untuk mencegah ledakan Gunung Baekdu terjadi.

Ashfall dibuka dengan segala efek kekacauan yang menurut saya "lebay" untuk skala bencana sesuai ceritanya. Agaknya Lee Hae-jun dan Kim Byung-seo sebagai sutradara ingin memulai film dengan megah dan heboh, yang menurut saya justru terkesan norak.

Namun saya cukup memahami alasan menampilkan segala kekacauan bak kiamat di awal Ashfall, mengingat latar cerita film ini adalah letusan Gunung Baekdu yang keramat bagi masyarakat Korea.

Gunung Baekdu mungkin seperti Gunung Merapi bagi masyarakat Yogyakarta atau Gunung Agung bagi masyarakat Bali. Peran Gunung Baekdu sesakral itu.

Maka wajar sebenarnya, bila melihat dari kacamata sosial-budaya juga riwayat vulkanologi, masyarakat Korea begitu panik seolah kiamat telah terjadi ketika Gunung Baekdu meletus dengan masif.

Terakhir kali meletus besar atau pada 946 Masehi, gunung yang ada di perbatasan Korea Utara dan China itu mampu melontarkan 100-120 kilometer kubik atau setara 35-42 ribu ton material vulkanik dari perutnya dan menimbulkan kerusakan besar hingga mengubah iklim.

Namun setelah ragam aksi laga yang berbalut efek visual bencana yang amat 'penuh' di awal, Ashfall mulai lebih 'tenang' dan berjalan selayaknya film drama pada umumnya. Dari titik ini, saya mulai terkoneksi dengan film yang dibintangi banyak aktor besar Korea Selatan tersebut.

Review Film: AshfallAshfall mengisahkan kegalauan yang terjadi pada banyak karakter tanpa melupakan kegentingan bertahan hidup. (dok. CJ Entertainment via HanCinema)

Perlahan tapi pasti, Ashfall menunjukkan dirinya bukan hanya sekadar film kebencanaan ala Hollywood yang pernah saya tonton, seperti Twister, Volcano, atau Dante's Peak, dan sejenisnya. Hal ini terlihat dari narasi, konflik, hingga aksi laga yang muncul.

Seperti selayaknya film kebencanaan lain yang menjual sisi humanis, Ashfall juga menampilkan hal serupa.

Namun bila biasanya film-film Hollywood fokus pada satu-dua tokoh dengan dilema masing-masing yang berbalut upaya penyelamatan diri, Ashfall mengisahkan kegalauan yang terjadi pada banyak karakter tanpa melupakan kegentingan bertahan hidup.

Kompleksitas cerita itu yang membuat Ashfall jadi tidak membosankan, mulai dari masalah personal masing-masing karakter, keruwetan hubungan ayah dengan anak yang bisa menguras air mata, konflik ala gangster, dilema kebijakan politik, hingga masalah diplomatik antar negara yang bisa memicu peperangan.

Sajian Ashfall itu belum termasuk efek visual yang terbilang cukup baik untuk ukuran film Asia, karakter-karakter yang terbangun utuh secara perlahan dalam cerita, laga yang variatif, hingga komedi yang pas diselipkan di tengah narasi penuh kegentingan.
Review Film: AshfallSebagai film blockbuster yang memang bertujuan komersil dan menggaet banyak keuntungan, jelas Ashfall memenuhi kriteria tersebut: (dok. CJ Entertainment via HanCinema)

Sebagai film blockbuster yang memang bertujuan komersil dan menggaet banyak keuntungan, jelas Ashfall memenuhi kriteria tersebut alih-alih sebagai film dengan kualitas sinematik ala festival. Tujuan itu pun terbukti dari capaian 6 juta penonton dalam 13 hari penayangan.

Kemampuan Ashfall lainnya untuk mempertahankan penonton dari awal bukan hanya datang dari segi cerita, penampilan para pemain pun berperan optimal.

Film ini tak tanggung-tanggung dalam merekrut pemain. Nama besar seperti Lee Byung-hun, Ma Dong-seok alias Don Lee, Ha Jung-woo, hingga Jeon Hye-jin dan Bae Suzy dikumpulkan dalam satu proyek, bahkan dalam tim yang sama.

Acungan jempol saya berikan kepada Lee Byung-hun yang berperan sebagai 'pengkhianat' Korea Utara, kemudian Ma Dong-seok yang cukup meyakinkan sebagai profesor, dan Ha Jung-woo yang mampu bertingkah konyol setelah beberapa film terakhir selalu mendapat karakter serius.

Bae Suzy, meski dalam film ini tak memiliki peran signifikan dan nyata terlihat hanya sebagai pemanis, setidaknya sudah menjalankan tugas itu dengan cukup baik. Tanpa Suzy, film ini jelas akan amat terasa maskulin dan membosankan.

Segala hal itu lah yang membuat Ashfall menjadi film kebencanaan dengan paket paling komplit sekaligus 'penuh' yang pernah saya lihat, terlepas dari awal norak dan membuat saya tanpa sadar berujar "nanaonan ieu" di dalam bioskop yang gelap.

[Gambas:Youtube] (end)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK