Bocor Suara Dangdut dan Sederet Pahit-Manis Bioskop Lokal

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Minggu, 19/01/2020 09:56 WIB
Bocor Suara Dangdut dan Sederet Pahit-Manis Bioskop Lokal Ilustrasi. Meski tak seperti jaringan bioskop besar yang bergelimang modal dan mesti ditempuh puluhan kilometer, bioskop kecil di daerah diminati oleh masyarakat.(CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sepasang daun pintu kaca tegak berdiri di balik meja-meja yang memenuhi ruangan food court sebuah pusat perbelanjaan modern satu-satunya di Rangkasbitung, Banten, pada pertengahan Januari 2020 yang kebetulan cerah.

Pintu kaca itu adalah gerbang dari bioskop modern pertama di Rangkasbitung. Sebuah bioskop yang baru saja didirikan, tepatnya pada pekan pergantian tahun.

Selama puluhan tahun sebelumnya, masyarakat harus menempuh lebih dari 50 kilometer ke Cilegon atau Jakarta hanya untuk menonton film terbaru atau merasakan pengalaman sinematik seperti kebanyakan orang di kota besar.


Biasanya, bila mengacu pada gambaran bioskop modern di mal-mal besar Jakarta, nama bioskop akan terpampang jelas dan megah di bagian depan bangunan mal atau pun kala memasuki bioskop.

Namun itu tak terjadi di Rangkasbitung.

Plangnya hanya berupa neon box rangkaian nama bioskop di atas sebuah papan berukuran sekitar 50x200 centimeter, di bagian atas dinding kiri dari pintu.


Plang nama destinasi hiburan baru masyarakat Rangkasbitung itu pun tertutup oleh stan jajanan. Maklum, letaknya saja di food court mal.

Hanya suasana di balik pintu kaca itu yang menunjukkan identitas ruangan tersebut adalah bioskop, agak remang tapi nyaman, terlihat modern, dan berisi beberapa poster film berbingkai yang terpasang di dinding.

Desain dalam lobi bioskop itu pun terbilang agak mirip dengan salah satu jaringan bioskop terbesar di Indonesia, mulai dari karpet, pencahayaan, hingga konsep loket penjualan tiket juga makanan dan minuman.

Bedanya, lobi yang kira-kira hanya seluas 60 meter persegi itu amat sepi, untuk ukuran penayangan film jam makan siang di hari kerja. Hanya ada saya, sepasang pengunjung lainnya, dua petugas bioskop di meja loket, dan tiga petugas lain di meja penjualan makanan.

Aroma brondong jagung yang biasanya semerbak kala memasuki bioskop pun tak tercium begitu kaki melangkah ke dalam. Aroma ciri khas ruangan baru pun masih terasa di sela-sela udara.

Alunan musik terdengar sayup-sayup menemani sejumlah pengunjung yang menunggu film pilihannya diputar.


Borong atau Ganti

Meski tak seperti jaringan bioskop besar yang bergelimang modal untuk dekorasi, bioskop independen di daerah ini cukup nyaman. Apalagi, film yang dijaja masih terbilang baru dirilis.

Penasaran bagaimana menonton film di bioskop pedalaman, saya pun mulai memilih film untuk ditonton. Sebuah film horor pun dipilih. Namun nyatanya film ini tak bisa saya tonton sesuai jam yang tertera meski tiket dibeli 20 menit sebelumnya.

"Karena yang beli baru satu orang. Film bisa diputar kalau empat tiket sudah terjual. Bisa ditunggu dulu," ucap petugas penjual tiket yang sempat membuat saya terbengong untuk beberapa saat.

Sang petugas kemudian menyobek sebuah kertas putih, menuliskan nama film, jam tayangnya, dan paketan makanan juga minuman yang saya dapat kala membeli tiket itu seharga Rp36 ribu.


"Baru NKTCHI yang tayang dari tadi karena ratingnya bagus. Jadi ramai juga yang nonton," cerita sang petugas.

Menurut petugas tersebut, rating film di internet jadi salah satu hal yang mengkurasi film yang akan dijaja. Alasannya, kalau rating atau komentar film bagus, masyarakat akan lebih tertarik untuk menonton.

"Kalau memang ratingnya bagus, film tetap banyak yang nonton walau hari biasa. Tapi kalau Sabtu Minggu semua film rata-rata tayang," tuturnya.

Selama perbincangan, beberapa keluarga datang untuk melihat-lihat jadwal film yang dipajang di meja petugas penjual. Namun tak ada yang membeli tiket. "Itu biasa," kata si petugas.

Puluhan Kilometer Cari Kepuasan Sinematik di Bioskop DaerahMasyarakat menikmati keberadaan bioskop di daerah-daerah terpencil meski menempuh puluhan kilometer. (CNN Indonesia/Christie Stafanie)

Lima menit jelang jadwal film saya diputar, tiket masih baru satu terjual. Atas berbagai pertimbangan, saya pun merogoh dompet dan membeli tiga tiket lagi. Demi film bisa diputar. Hasilnya, empat tiket plus empat minuman. Borongan ke dalam teater.

Petugas yang berada di balik meja penjualan tiket beranjak dan berjalan di belakang saya menuju ke depan pintu salah satu dari dua studio. Ia tersenyum ketika merobek empat tiket tersebut.

Ruang teater tak jauh berbeda dengan jaringan besar lainnya. Bangku merah empuk berjejer. Setidaknya ada 200 kursi merah membisu kala saya memasuki bioskop. Film horor pun diputar. Sampai sepuluh menit pertama, saya masih sendiri. Sound yang kencang membuat suasana menjadi lebih horor.

Rasa horor agak berkurang ketika sepasang penonton masuk. Sebenarnya mereka hendak melihat film lain, tapi kemudian menyerah karena kuota empat penonton tak kunjung tercapai dan memilih mengikuti film yang sudah diputar.

Mengubah judul film menjadi salah satu pilihan bagi penonton di sana. Sebab, hampir seluruh film hanya ditayangkan satu kali sehari. Sehingga, apabila film tersebut batal tayang, penonton harus mengganti judul film atau datang kembali di hari lain jika benar-benar ingin menonton film tersebut.

Sayangnya, di tengah sound horor yang mencekam, ada sayup-sayup suara dangdut dari food court di luar bioskop.

Bocor Suara Dangdut dan Sederet Pahit-Manis Bioskop LokalTiket sederhana dengan kuota penonton masih ditemukan di bioskop daerah. (CNN Indonesia/Christie Stafanie)

Hal tersebut ternyata juga dirasakan beberapa penonton. Keluhan itu disampaikan lewat komentar di laman resmi bioskop mulai dari kebocoran suara dari luar, toilet yang hanya ada di luar bioskop, hingga ketiadaan neon box bioskop di sisi luar mal.

Menempuh Puluhan Kilometer

Namun, kondisi tersebut tak melunturkan minat warga sekitar untuk menonton di bioskop. Buktinya, puluhan orang sudah bersiap di depan pintu studio menyaksikan film lain, begitu saya rampung.

Minat yang tinggi atas bioskop di daerah, apa pun kondisinya, juga tergambar dari kisah Diana, seorang warga Leuwidamar yang jarak kediamannya 24 kilometer dari bioskop ini.

Diana mengatakan, tiap kali mau menonton bersama keluarganya, pasti akan merencanakan kepergian mereka terlebih dahulu. Lebih mirip seperti piknik.

"Disiapin karena rumah saya jauh kalau dari sini sekitar 20 kilometer. Jadi harus lihat dulu di Instagram jadwalnya, enggak langsung dadakan ke sini," kata Diana.

Meski puluhan kilometer, Diana menyebut Rangkasbitung adalah yang terdekat dari rumahnya. Bila ia ingin mencicipi bioskop jaringan besar dengan segala fasilitasnya yang lebih nyaman, setidaknya ia mesti ke Cilegon yang berjarak 80 kilometer atau ke Jakarta sejauh 126 kilometer.

Puluhan Kilometer Cari Kepuasan Sinematik di Bioskop DaerahIlustrasi. Masyarakat di kota besar terbiasa dengan akses yang dekat dengan bioskop. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Hal yang agak berbeda dilakukan oleh Susan. Salah satu langganan bioskop ini mengaku lebih memilih langsung datang ke bioskop dan membeli tiket. Selain karena ia adalah penduduk Rangkasbitung, ia juga mencari nafkah di mal modern yang berdiri sejak 2004 itu.

"Kalau sedikit kan film enggak diputar. Kalau sudah tiga orang, film tetap enggak tayang. Memang harus empat tiket dulu. Jadi kalau ditunggu tetap belum empat orang ya ganti film. Enggak apa-apa sih, memang lebih suka nonton di bioskop," cerita Susan.

Pengalaman mesti mengganti film di bioskop juga dirasakan oleh Rosila, warga Serang yang berjarak 38 kilometer dari Rangkasbitung. Kala ditemui, ia mengaku baru pertama kali menjajal bioskop tersebut.

Biasanya, ia lebih memilih menonton di salah satu bioskop jaringan besar di Serang, atau sekalian ke Jakarta sejauh 88 kilometer bersama kekasihnya.

Semua dilakukan demi merasakan pengalaman sinematik dalam bioskop yang tak bisa didapatkan melalui televisi apalagi streaming, meskipun harus mengorbankan lebih banyak uang daripada seharga tiket bioskop.

"Biasanya kalau enggak di Jakarta ya Cilegon. Lebih sering di sana," jawab Rosila.


Tulisan ini merupakan bagian dari FOKUS (serial artikel) CNN Indonesia yang bertajuk Menjeremba Bioskop di Daerah.


(end)