Video ala Lego The Movie itu bertajuk Once Upon a Virus dan dirilis oleh media pemerintah China, Xinhua, pada akhir April lalu dan telah ditonton jutaan kali di internet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penolakan itu, disebut Hollywood Reporter, menggambarkan bantahan Presiden AS Donald Trump akan virus tersebut pada awal masa pandemi.
"Terus kenapa?" kata patung Liberty.
"Itu berbahaya," kata prajurit itu. "Itu cuma flu," balas patung Liberty.
"Tetap di rumah," kata prajurit. "Itu melanggar hak asasi manusia," bantah patung Liberty.
Bantahan demi bantahan dilontarkan patung Liberty hingga kemudian AS mengalami sendiri pandemi tersebut. Namun AS justru menuding China menutupi data sesungguhnya dari pandemi tersebut.
"Kami selalu benar, meskipun kami membantah diri kami sendiri," kata patung Liberty.
"Itulah mengapa kami mencintaimu orang Amerika, kalian konsisten," kata prajurit tersebut.
[Gambas:Youtube]
Hollywood Reporter melaporkan, sejak dirilis pada 29 April, video itu telah disaksikan nyaris 2 juta kali di Twitter. China sendiri memblokade akses Twitter, Facebook, Instagram, dan YouTube sebagai bagian dari sistem sensor yang dikenal sebagai The Great Firewall.
Business Insider melaporkan seorang perwakilan Lego mengatakan kepada media tersebut bahwa "kami tidak terlibat dalam pembuatan animasi tersebut. Sebagai sebuah perusahaan mainan, kami berfokus membawa permainan ke anak-anak dan keluarga,"
Video animasi ala The Lego Movie itu muncul seiring dengan 'perang' tanggung jawab antara China dan Amerika Serikat.
[Gambas:Video CNN]
Trump menuding China bertanggung jawab atas pandemi yang terjadi, bahkan menyebut virus corona penyebab Covid-19 berasal dari laboratorium di Wuhan. Namun China membantah tudingan tersebut.
Bukan hanya itu, Amerika Serikat menuding China sengaja menyembunyikan tingkat keparahan penyebaran virus corona (Covid-19) dari dunia internasional.
"Mereka hanya memiliki satu tujuan: melalaikan tanggung jawab atas tindakan pencegahan dan pengendalian epidemi yang buruk, dan mengalihkan perhatian publik," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang kepada wartawan dalam menanggapi tudingan dari AS, Selasa (28/4). (end)