Podcast, Karpet Merah Baru Drama Audio Menuju Popularitas

CNN Indonesia | Minggu, 10/05/2020 12:35 WIB
Ilustrasi podcast aplikasi spotify. CNN Indonesia/Bisma Septalisma Ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sempat tergerus arus teknologi, drama audio yang dahulu menemani pendengar radio kini hadir kembali melalui kanal berbeda, podcast alias siniar. Podcast pun digadang-gadang menjadi "karpet merah" bagi drama audio menuju popularitas di era internet.

Sejatinya, drama audio di jagad podcast sudah ada sejak sekitar dua tahun lalu, tapi baru di momen Ramadan kala pandemi Covid-19 ini kehadirannya kian ramai.

Setidaknya, ada dua drama yang muncul dalam dua tahun belakangan sebelum bulan Ramadan ini, yaitu Gadis Pramugari yang diproduksi Kakus Podcast dan The Most Shocking Love Story gagasan Ruang Siar Juara.


Gadis Pramugari diadaptasi dari utas dengan pembaca terbanyak di Kaskus. Ternyata, konten itu berhasil menarik pendengar baru sehingga Kaskus ketagihan untuk kembali membuat drama audio.

Hingga akhirnya pada Ramadan ini, Kaskus Podcast pun memutuskan untuk membuat konten drama audio baru bernama 2 Doa 1 Dunia.

"Bulan Januari lalu kami sudah persiapan 2 Doa 1 Dunia. Kami ingin membuat drama audio karena bulan Ramadan adalah momen yang tepat. Di bulan Ramadan banyak orang yang kangen dengan drama audio yang bisanya diputar di radio," kata produser Kaskus Podcast, Gonzaga Jalu Jagad.

[Gambas:Instagram]

Menengok ke belakang, drama audio memang menjadi salah satu hiburan paling populer Indonesia, tepatnya di dekade 1980-an sampai 1990-an. Banyak stasiun radio yang memutar drama audio, bahkan bukan hanya di bulan Ramadan.

Sampai awal dekade 2000-an, masih ada sejumlah radio yang memutar drama audio. Namun kian lama, teknologi semakin canggih dan sumber hiburan lebih banyak. Drama audio di radio pun semakin tak terdengar.

Pengajar dan pengamat media digital dari Universitas Multimedia Nusantara, Albertus Magnus Prestianta, tak heran drama audio di radio kian tergerus, mengingat begitu banyak batasan di medium tersebut.

Rintangan itu di antaranya durasi terbatas, jam siar tidak fleksibel, dan sejumlah radio menyediakan slot iklan lebih banyak ketimbang konten.

"Kalau dalam podcast, tidak ada batasan durasi dan bisa didengarkan kapan pun, fleksibel, yang pegang kendali pendengar. Kekurangannya hanya satu, konsistensi jaringan internet di Indonesia," kata Albertus.
Shot of a woman speaking into a microphone in a recording studioIlustrasi rekaman podcast. (Istockphoto/Nicola Katie)
Ia pun menyambut positif ihwal drama audio yang mulai ramai di jagad podcast Indonesia, terutama pada bulan Ramadan ini.

Sebut saja Mau Gak Mau karya Rapot, Kelas Puber dari Makna Talks, 2 Doa 1 Dunia gagasan Kaskus Podcast, hingga Ramadan Pak Budi hasil kolaborasi Box2Box dan Netflix Indonesia.

Produser Kaskus Podcast, Gonzaga Jalu Jagad, mengatakan bahwa sampai saat ini, 2 Doa 1 Dunia mendapat respons positif.

Ia mencontohkan pada episode 9, drama itu diputar sebanyak 3.000 kali dalam waktu kurang dari 24 jam. Secara keseluruhan, sudah ada 13 episode 2 Doa 1 Dunia dengan total dengar sekitar 38 ribu kali.

Aga, demikian sapaan akrab Gonzaga, yakin total pendengar masih akan bertambah karena 2 Doa 1 Dunia akan berisi 24 episode.

Dengan data sekarang saja, menurut Aga, pendengar drama audio ini tiga kali lebih banyak ketimbang konten reguler Kasus Podcast bertema sejarah. Namun, jumlah pendengarnya masih sama jika dibandingkan dengan konten reguler bertema horor.

Angka tersebut terbilang banyak untuk konten drama audio yang baru mulai ramai. Albertus optimistis momen saat ini bisa menjadi jalan drama audio untuk populer kembali. Podcast sebagai medium audio bisa menjadi karpet merah untuk drama audio.

Mungkin, kata Albertus, tidak akan sehebat drama audio di dekade 1980-an sampai 1990-an karena audiens sudah tersedot ke medium-medium lain. Namun, ia yakin drama audio di podcast akan memiliki pendengar yang banyak.

"Indonesia sedang gandrung sama podcast yang baru tumbuh dua tahun belakangan ini. Banyak kesempatan dan peluang yang bisa dieksplorasi lebih dalam, salah satunya drama audio," kata Albertus.

Namun, Albertus mengingatkan sejumlah hal yang harus diperhatikan untuk membuat drama audio bertahan lama.

Pertama, kualitas cerita. Ia selalu percaya bahwa orang akan haus dengan cerita.

"Cerita juga penting. Kalau cerita sudah bagus, ya harus cari pemain yang bagus juga," kata Albertus.

Lebih jauh, ekosistem juga harus dijaga bersama agar drama audio konsisten di jagad podcast Indonesia. Ekosistem yang baik akan melahirkan model bisnis yang bagus. Di situlah ada keuntungan yang bisa diputar untuk membuat konten.

[Gambas:Video CNN]

Ia menilai saat ini ekosistem podcast di Indonesia belum maksimal, pun begitu model bisnisnya. Keuntungan yang dikeruk pun tidak banyak, sementara membuat drama audio membutuhkan biaya tak sedikit.

Tim siniar Rapot mengakui fakta tersebut setelah membuat konten Mau Gak Mau. Manajer bisnis Rapot, Melon, mengatakan bahwa bujet produksi Mau Gak Mau setara dengan biaya produksi tiga album musik.

Menurut Albertus, ekosistem harus berjalan dengan baik agar semua podcaster dari berbagai kalangan bisa membuat drama audio atau konten berbiaya besar lainnya.

"Kalau ekosistem sudah berjalan baik, podcaster terus membuat konten berbiaya besar, seperti drama audio, dan pendengar terpuaskan. Bila tidak, hanya pemodal besar dan perusahaan media yang bisa membuat konten berbiaya besar," kata Albertus. (adp/has)