Menakik Rezeki di Balik Drama Podcast

CNN Indonesia | Minggu, 10/05/2020 14:45 WIB
Ilustrasi podcast aplikasi spotify. CNN Indonesia/Bisma Septalisma Ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Melalui gurauan atau terselip dalam perbincangan, konten iklan kerap kali menyusup di drama audio yang kini mulai ramai ditemukan di kanal podcast atau siniar.

Penempatan iklan ini tidak main-main. Pada siniar 2 Doa 1 Dunia gagasan Kaskus Podcast, misalnya, semua iklan sudah disepakati sebelum drama digarap.

"Iklan produk yang disiarkan tergantung paket yang dibeli sama pengiklan. Kalau di 2 Doa 1 Dunia, pengiklan ambil paket brand story di tiga episode," kata produser Kaskus Podcast, Gonzaga Jalu Jagad, kepada CNNIndonesia.com.


Setelah sepakat dengan pengiklan, pihak Kaskus Podcast membawa materi iklan ke penulis naskah, dalam hal ini adalah Wahana Kreator dan Gina S. Noer sebagai pengembang cerita.

Aga meminta pada Wahana Kreator dan Gina untuk menempatkan produk secara halus agar tidak terasa seperti berjualan. Ia juga meminta produk ditempatkan pada bagian yang tepat agar tidak mengganggu alur cerita.

Gina dan Wahana Kreator menyanggupi tugas yang diberikan Kaskus Podcast, meski sebenarnya ia sadar bahwa menempatkan produk dalam konten selalu menjadi tantangan.

Namun, ia dan Wahana Kreator sudah memiliki formula untuk menempatkan produk dalam konten. Menurutnya, produk harus muncul pada adegan yang pas agar tidak terasa seperti jualan.

"Misal ketika adegan berantem, seseorang minta tolong temannya ambilkan minum dengan menyebut produk minuman. Kami spot momen yang penting secara emosi, tapi tidak mengganggu produk," kata Gina.

Secara keseluruhan, ada beberapa opsi penempatan iklan. Ada yang di awal serta akhir cerita. Ada pula yang menjadi satu dengan cerita pada beberapa episode.

Mengenai tarif, kata Aga, beriklan dalam drama audio lebih mahal ketimbang konten reguler. Biaya produksi drama juga lebih mahal ketimbang konten reguler karena ia harus membayar pemain dan penulis cerita.

Bukan hanya Kaskus Podcast, Rapot yang membuat drama Mau Gak Mau juga menaikkan tarif iklan karena biaya produksi mahal. Dalam Mau Gak Mau, terdapat iklan produk permen dalam tujuh episode pertama yang menjadi satu dengan cerita.
Podcast Rapot akan merilis seri bertajuk Mau Gak Mau selama bulan Ramadan 1441 Hijriyah. Seri tersebut rilis setiap hari pukul 17:00 WIB selama bulan Ramadan tahun 2020, dengan begitu episode rehuler Rapot tidak dirilis untuk sementara waktu.Foto: Dok. RapotIlustrasi. (Dok. Rapot)
"Untuk Mau Gak Mau sendiri bujet produksi seperti membuat tiga album musik," kata manajer bisnis Rapot, Melon.

Bila dilihat dari segi keuntungan, kata Aga, pendapatan bersih dari iklan di drama audio dengan reguler sama saja. Namun menurutnya, drama audio yang mulai ramai bisa menjadi tambang keuntungan baru bagi podcaster.

"Keuntungan suatu produk kalau iklan di drama audio itu bisa muncul di banyak cerita dan orang pasti mendengarkan cerita dari awal sampai akhir. Pendengar bisa kemakan iklan," kata Aga.

Pengajar dan pengamat media digital dari Universitas Multimedia Nusantara, Albertus Magnus Prestianta, sependapat dengan Aga. Menurutnya, drama audio bisa jadi sumber keuntungan asal disertai dengan ekosistem yang baik.

"Harus ada kerja sama antar-pihak untuk membangun ekosistem yang saling menguntungkan. Untuk membuat iklan masuk juga tidak mudah. Podcaster harus konsisten membuat konten dan menjaga pertumbuhan pendengar," kata Albertus.

[Gambas:Video CNN]

Menurut Albertus, akan lebih baik jika dalam jagad podcast Indonesia memiliki rasio pengukuran iklan yang biasa disebut cost per mille (CPM) atau biaya per 1.000 kali impresi.

Albertus mengakui masih ada sejumlah kekurangan dalam CPM. Namun, model tersebut lah yang paling memungkinkan saat ini.

"CPM ini kan yang diharapkan. Harus ada satuan ukur yang jelas sehingga semua bisa transparan," kata Albertus. (adp/has)