Mencintai Anime, dari TV hingga Merogoh Uang Belasan Juta

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Minggu, 28/06/2020 11:48 WIB
Gantungan kunci, poster, buku-buku perihal anime Jepang juga ramai diburu para pengunjung. Ilustrasi penggemar anime. Tayangan di televisi diakui banyak penggemar anime jadi awal mula kecintaan itu muncul, lalu berkembang hingga rela merogoh belasan juta rupiah. (CNN Indonesia/Diana)
Jakarta, CNN Indonesia --

Suasana Minggu pagi selalu ditunggu oleh Aulia semasa kecil. Ia rela bangun pagi di tanggal merah tersebut hanya untuk melakukan satu hal: nongkrong di depan televisi dan selama berjam-jam menonton sederet anime yang tayang di sejumlah stasiun.

Televisi kala Minggu pagi jelas dikuasai Aulia dan anak-anak yang tumbuh di masa tersebut.

Mulai dari Let's & Go dan Ultraman yang biasa tayang sekitar pukul 6.30 WIB, kemudian Chibi Maruko Chan, Kobo Chan, Hamtaro, P-Man, Digimon, Doraemon, Detective Conan, hingga Dragon Ball, secara bergantian tayang di depan anak-anak.


Tapi itu terjadi pada era 90-an hingga 2000-an lalu. Kini, Aulia telah jelang usia 30 dan televisi di Minggu pagi tak lagi ramai dengan anime. Namun kenangan itu masih membekas dalam benaknya. Bahkan membuahkan satu hal: label sebagai penggemar anime.

"Karena pas masih kecil enggak punya teman, jadi banyak nonton televisi. Kalau akhir pekan dari pagi sampai siang ada anime tuh, sore juga ada lagi. Makanya jadi suka," kenang Aulia kala berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Doraemon: Nobita's Chronicle of the Moon Exploration (2019).Doraemon: Nobita's Chronicle of the Moon Exploration (2019). (dok. Fujiko Productions/TV Asahi/Shin Ei Animation via IMDb)

Adalah Doraemon dan Dragon Ball yang menjadi anime paling berkesan bagi Aulia sejak dulu. Dua anime itu pula yang menggerakkan dirinya mulai mengoleksi benda terkait dua anime itu, seperti manga hingga action figures.

Aulia mengaku kala masih bocah, ia gemar membeli action figures Dragon Ball yang dijaja oleh 'abang-abang' di pinggir jalan. Alasannya? Hanya untuk menyenangkan hati sekaligus menyalurkan kegemarannya akan anime itu.

Namun seiring umur bertambah, ia mulai serius menjadikan hal tersebut sebagai hobi, terutama dalam mengoleksi action figures Nobita.

"Sebenarnya karena merasa saya mirip Nobita. Jadinya serius koleksi. Orang tua saya juga bilang begitu [mirip]. Tapi lama-lama ya sudah semuanya aja termasuk Doraemon, Shizuka, Suneo dan Giant-nya," tutur Aulia.

Pengalaman serupa juga dialami oleh Ega. Tayangan maraton anime di televisi pada dua dekade lalu membuatnya tertarik dengan karya sinematik dari Jepang itu. Ketertarikannya semakin mendalam ketika lingkungan Ega juga menyukai anime.

"Gara-gara lingkup sosial dari dulu memang banyak yang suka diskusi anime. Jadinya terbawa sampai sekarang," cerita Ega.

Kesukaan itu kian berkembang dan mendalam ketika mulai masuk dalam forum di internet yang membawanya mengenal lebih banyak anime, termasuk yang tidak tayang di Indonesia.

Hal itu membuat Ega sempat melumrahkan layanan ilegal seperti DVD bajakan anime yang dijaja di pinggir jalan.


Balas Budi dan Politis


Seiring perkembangan teknologi, akses kepada dunia anime terbuka lebih luas lewat layanan streaming berbayar bahkan channel resmi YouTube yang bisa diakses secara gratis.

Berawal dari hanya menikmati menonton anime, Ega mengaku perlahan mulai menyisihkan penghasilannya untuk membeli merchandise resmi atau album lagu tema anime yang disaksikan.

"Kebetulan memang karena hobi saja sama hitung-hitung investasi atau balas budi ke kreator yang sudah bikin karya untuk menghibur orang-orang," ujarnya.

Ega memperkirakan telah mengeluarkan sekitar Rp11 juta-Rp13 juta untuk membeli merchandise resmi.

koleksi action figures animeKoleksi action figures anime milik Ega. (Dok.Pribadi)

Orang tuanya pun kerap berkomentar kala melihatnya pulang ke rumah membeli action figure yang baru. Apalagi, sejumlah action figure masih terbungkus rapi dalam kotaknya karena lemari pajang yang telah penuh.

"Paling komentar 'dih beli mainan lagi'. Tapi selepas dari itu, enggak ada komentar lainnya. Kayaknya sih sudah maklum," kata Ega.

Kebetulan [koleksi action figure karakter anime] memang karena hobi saja, sama hitung-hitung investasi atau balas budi ke kreator yang sudah bikin karya untuk menghibur orang-orangEga, penggemar anime.

Tak hanya mengoleksi merchandise, Ega juga tak ragu berpetualang melihat lokasi-lokasi yang muncul di anime atau yang lebih dikenal dengan istilah anime pilgrimage. Mengikuti konvensi anime juga menjadi hal yang tak boleh dilewatkan dan amat dirindukan saat ini.

Bagi Ega, melihat penyanyi asli lagu tema pembuka atau penutup dari anime sembari bernyanyi bersama dengan penggemar lainnya bak konser adalah momen "luar biasa". "Kayaknya bakal susah terjadi selama new normal ini,"

Jika Ega masih mencintai anime hingga kini, beda lagi dengan Alex yang sudah tak mengikuti satu anime apapun. Ia pertama kali menonton anime Cowboy Bebop pada 2000-an. Lagu tema membuatnya menyukai anime kala itu.

"Saya menyukai itu karena lagu temanya. Hal itu membuat saya menyukai jazz hingga saat ini," ucap Alex.

Koleksi GundamKoleksi Gundam milik Alex. (Dok. Pribadi)

Setelah itu, ia mulai menonton beberapa acara dan film Gundam. Tak hanya itu, Alex juga mengoleksi model Gundam dan berlibur ke Tokyo untuk melihat Gundam raksasa di Diver City.

Kendati demikian, kesukaannya terhadap anime perlahan menghilang. Menurutnya, unsur politik dalam jalan cerita semakin terasa. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk berhenti menyaksikan anime. Attack on Titan musim kedua menjadi anime terakhir yang ditonton sekitar tiga tahun lalu.

"Sejujurnya saya kecewa terhadap anime karena terlalu politis," ujarnya.

Meski tak lagi menyaksikan anime, Alex tetap mengoleksi Gundam dan menjadikannya hobi hingga kini.

(end)