One Piece, Payung Fantasi Generasi Jepang yang Hilang Arah

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Sabtu, 25/07/2020 08:23 WIB
Berlatar petualangan bajak laut, One Piece langsung melesat ke puncak popularitas saat terbit pada 1997, kala Jepang sedang mengarungi badai krisis ekonomi. Ilustrasi. (CNN Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Berlatar tema petualangan bajak laut, manga One Piece langsung melesat ke puncak popularitas saat pertama kali diterbitkan pada 1997, ketika Jepang sebenarnya sedang mengarungi badai krisis ekonomi.

Akademisi Sastra Jepang Universitas Bina Nusantara, Roberto Masami Prabowo, tak heran melihat fenomena ini karena tema cerita One Piece memang sangat relevan dengan kehidupan di Negeri Sakura saat itu.

Di tengah terpaan panas hidup kala itu, One Piece hadir menjadi payung bagi anak-anak muda untuk berfantasi, melanglang buana meninggalkan sejenak kepenatannya.


"Pilihan sebagai nakhoda bajak laut itu karena ingin berpetualang dengan tanpa aturan, seperti aturan sosial yang ada, nilai, dan norma," kata Roberto kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat beberapa waktu lalu.

Roberto kemudian menjelaskan bahwa beberapa tahun sebelum One Piece dirilis, tepatnya pada 1989, Jepang dilanda krisis moneter yang mengakibatkan perusahaan bangkrut, inflasi, dan kasus pemecatan karyawan secara sepihak.

Sementara itu, perusahaan yang bertahan memilih merumahkan karyawan untuk menghemat biaya upah pekerja.

Kondisi ini lantas mengubah cara pikir masyarakat terhadap masa depan mereka. Mereka yang memiliki impian bersekolah tinggi di universitas bergengsi dan semangat bekerja di perusahaan besar, terpaksa mengubur semua angannya.

"Ketidakpastian ekonomi dan pemecatan karyawan perusahaan ini membuat para masyarakat dan khususnya mahasiswa-mahasiswi menjadi berubah pandangan terhadap masa depannya. Generasi ini dikenal dengan lost generation dan ada juga yang menyebutnya 'ice age generation,'" kata Roberto.

Ilustrasi Komik One PieceIlustrasi. (CNN Indonesia)

Kehadiran berbagai karya seni, termasuk manga, kemudian mengisi kehampaan anak muda kala itu dengan berbagai fantasi.

"Umumnya karya seni itu membangun sebuah fantasi. Ada yang berdasarkan kejadian nyata, tetapi ending ada yang diubah untuk membangun konsep dramatisirnya," ujar Roberto.

Secara garis besar, One Piece sendiri berfokus pada kisah Monkey D. Luffy, seorang pria muda yang terinspirasi oleh idola masa kecilnya, seorang bajak laut kuat bernama Red Haired Shanks.

Ia memulai perjalanan dari Laut Biru Timur untuk menemukan harta karun bernama One Piece sembari mengejar mimpi menjadi Raja Bajak Laut.

Luffy membangun kekuatan kru sendiri yang diberi nama kelompok Bajak Laut Topi Jerami. Kru pertama yang bergabung adalah Roronoa Zoro.

One Piecedok. Toei AnimationIlustrasi. (Dok. Toei Animation)

Dalam perjalanannya, mereka memperkuat formasi dengan mengajak Nami sebagai navigator dan pencuri; Usopp, penembak jitu dan pembohong yang patologis; dan Vinsmoke Sanji, koki.

Penyatuan kekuatan ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para generasi Jepang yang sedang hilang arah kala itu.

"Hal yang diutamakan adalah konsep kolektivisme yang terdiri dari beberapa individu atau ego yang berbeda-beda, baik dari mencari teman dan aliansi dengan musuh," katanya.

(has)