Pengguna Ramai-ramai Setop Langganan Netflix karena Cuties

CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 19:20 WIB
Jumlah pengguna Netflix yang berhenti langganan meningkat delapan kali lipat usai kontroversi film Cuties. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Daniela)
Jakarta, CNN Indonesia --

Jumlah pengguna Netflix yang berhenti langganan meningkat delapan kali lipat usai #CancelNetflix menggema di jagat maya terkait kontroversi film Cuties.

Fakta ini terungkap dalam laporan perusahaan riset YipitData yang pertama kali diberitakan oleh Variety pada Rabu (16/9).

Menurut YipitData, jumlah pengguna yang berhenti berlangganan mulai meningkat drastis sejak 10 September, sehari setelah perilisan Cuties di Netflix. Di hari yang sama, tagar #CancelNetflix merajai topik tren di jejaring sosial Twitter.


Dua hari kemudian, jumlah pengguna yang berhenti berlangganan melonjak nyaris delapan kali lipat dari rata-rata harian pada Agustus.

Jumlah setop langganan ini diperkirakan akan terus meningkat karena tagar #CancelNetflix masih menggema di berbagai jejaring sosial.

Kabar ini datang kala popularitas Netflix sedang meningkat karena peningkatan kebutuhan publik akan hiburan di tengah masa pandemi Covid-19. Jumlah pelanggan baru Netflix di tengah pandemi dilaporkan bertambah 25,9 juta.

Namun, sebagian pelanggan merasa terganggu dengan kehadiran film Cuties yang dianggap mengeksploitasi seksual anak.

Secara garis besar, Cuties mengisahkan pergulatan batin seorang gadis berusia 11 tahun bernama Amy. Ia baru saja tiba di kawasan kumuh Paris, Prancis, dari kampung halamannya di Senegal.

Di tengah kemelut dan kegamangan itu, Amy menemukan sekelompok grup tari sebaya yang tampak bebas dan lepas dalam menjalani hidup. 

Salah satu adegan yang paling dianggap tidak layak adalah ketika Cuties tampil pada sebuah acara. Mereka menari dengan pakaian ketat yang terbuka dan menampilkan koreografi eksotis, seperti twerking.

Di tengah kontroversi ini, perwakilan Netflix akhirnya buka suara terkait film yang disutradarai oleh Maimouna Doucoure tersebut.

"Film ini merupakan komentar atas efek negatif jika gadis praremaja dipandang sebagai objek seksual di media dan sosial media," ujar juru bicara Netflix.

Ia juga berkata, "Film ini disutradarai oleh Maimouna Doucoure dan telah memenangkan penghargaan di festival film Sundance tahun ini. Wawancara dengan sutradaranya dapat menjelaskan motivasinya dalam membuat film ini."