Layanan streaming di Indonesia semakin banyak, dan masing-masing memiliki cara menarik pelanggan demi mengeruk cuan. (Istockphoto/ Tero Vesalainen)
Jakarta, CNN Indonesia --
Semakin lama layanan streaming yang menyajikan film dan serial atau konten semakin banyak. Setidaknya dalam waktu tiga tahun belakangan, muncul sejumlah layanan streaming lokal, yaitu Bioskop Online, Go Play, Klik Film, dan MAXstream.
Meski sama-sama menyajikan konten, setiap layanan streaming tersebut memiliki karakter tersendiri. MAXstream misalnya, layanan streaming yang merupakan bagian Telkomsel ini kerap menyajikan konten reality show sebagai andalan.
Hal itu diakui oleh GM Digital Content Creation Telkomsel, Aris Sudewo. Menurutnya, sebagai layanan streaming, MAXstream harus mencari jati diri dan berada di posisi yang tepat di antara pelanggan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu salah satu tipe konten yang kami kerjakan. Kami pikir yang paling cepat ditonton adalah konten ringan seperti di YouTube, tapi mohon maaf ada beberapa konten yang kurang filter," kata Aris saat wawancara virtual dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Ia melanjutkan, "Kami produksi dengan ambil artis profesional generated content seperti Raffi Ahmad dan Keluarga Halilintar. Itu salah satu metode kami untuk dapatkan crowd yang cepat, mereka sudah punya segmen besar di YouTube atau TV."
Aris menjelaskan bahwa MAXstream menjalin kerja sama dengan rumah produksi RANS Entertainment yang dibentuk oleh pasangan suami istri Raffi dan Nagita Slavina. Dua reality show dari kerja sama tersebut adalah Raffi's Garage dan Nagita's Corner.
Menurutnya, Raffi sebagai sosok yang sering terlihat dari RANS Entertainment bisa menyesuaikan diri agar suatu konten bisa masuk ke berbagai lapisan sosial-ekonomi. Dengan begitu, MAXstream bisa lebih banyak menjaring pelanggan.
"Tapi memang bisa dibilang RANS Entertainment itu strategic partner karena grooming talent banyak di sana. Mereka punya production power, punya massa, dan selalu ada konten. Ketika kami butuh, mereka ada," kata Aris.
Seiring berjalannya waktu konten seperti itu berhasil menarik pelanggan, terlebih di masa pandemi seperti sekarang. Sampai Agustus lalu MAXstream tercatat memiliki 8,2 juta pengguna, naik lebih dari dua kali lipat dari 2019 dengan 3,5 juta pengguna.
MAXstream menjalin kerja sama dengan rumah produksi RANS Entertainment yang dibentuk oleh pasangan suami istri Raffi dan Nagita Slavina. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Group CEO Visinema, Angga Dwimas Sasongko, memiliki pandangan yang jauh berbeda dengan Aris. Lewat Bioskop Online ia justru ingin membuat pasar baru dalam industri streaming, bukan berebut dalam ceruk pasar yang sudah ada.
Hal itu terlihat dari berbagai film yang tersaji dalam Bioskop Online yang mayoritas merupakan film-film festival dan film sidestream. Beberapa di antaranya adalah Ziarah, Tengkorak, Turah, Istirahatlah Kata-Kata, dan Nay.
Angga sangat sadar bahwa pasar film-film tersebut tersegmentasi atau bisa disebut sebagai niche market. Namun, ia yakin bahwa bermain dalam niche market bukan suatu masalah, terlebih ia sudah membuktikannya dengan film-film garapan Visinema.
"Bagi kami niche market jauh lebih terjangkau ketimbang mass market. Kami lebih paham produknya dan niche market seperti apa. Kalau kami bisa sentuh mereka, mereka akan cerita ke semua orang yang ada di sekitarnya," kata Angga.
Ia melanjutkan, "Kemudian pada satu titik produk kami akan menjadi mass market, dan itu terjadi karena konsistensi. Kami punya film Keluarga Cemara dan NKCTHI, bisa dapat mass market dan box office dengan pendekatan yang niche."
Bioskop Online sendiri resmi diluncurkan pada Juli lalu, kemudian pada Oktober kemarin merilis konten film orisinal pertama bertajuk Story of Kale: When Someone Love. Sampai saat ini Bioskop Online kurang lebih memiliki 600 ribu pengguna.
MAXStream dan Bioskop Online berbicara soal strategi menarik cuan dalam halaman selanjutnya...
Produksi Konten
Pada akhirnya setiap layanan produksi berlomba-lomba untuk membuat konten yang bisa menarik pelanggan juga cuan.
Setidaknya ada tiga macam konten yang tersaji dalam layanan streaming, yaitu konten orisinal, konten akuisisi, dan konten sewa yang tayang dalam kurun waktu tertentu.
Sudah pasti untuk menyajikan konten-konten tersebut layanan streaming membutuhkan banyak uang. Berdasarkan laporan Tech In Asia Indonesia, Netflix telah mengeluarkan uang sebesar Rp169 triliun pada 2018 hanya untuk membuat konten.
Sangat wajar bila Netflix mengeluarkan banyak uang lantaran mereka pemain besar dalam industri streaming dunia mau pun Indonesia. Hal itu membuat Angga tidak ingin berkompetisi dengan pemain besar seperti Netflix atau DisneyPlus karena memang tidak sebanding.
"Mereka itu perusahaan raksasa, multinasional dan world wild operation. Kalau kita punya katalog film luar, apa bisa dapet yang bagus kayak mereka? Berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk kompetisi sama mereka," kata Angga.
Meski demikian, bukan berarti Bioskop Online 'kalah sebelum perang' dengan pemain besar layanan streaming. Mereka justru memiliki cara lain untuk bisa bersaing dalam industri streaming Indonesia dengan cara sendiri serta persiapan dari segi konten dan keuangan.
"Tahun depan kami akan punya 20 film orisinal yang akan dibikin dengan banyak sutradara dan produser dari seluruh Indonesia. Saya enggak bisa ngomong sejauh itu [perbandingan biaya produksi konten orisinal dan sewa], itu dapur bisnis kami," kata Angga.
Dalam kesempatan terpisah, Aris menjelaskan konsistensi produksi konten MAXstream berjalan lancar. Setelah berdiri selama hampir dua setengah tahun, MAXstream memiliki 188 judul konten orisinal, Intellectual property (IP) dari 46 konten di antaranya dimiliki penuh oleh Telkomsel.
Sineas Angga Dwimas Sasongko Angga tidak ingin Bioskop Online berkompetisi dengan pemain besar seperti Netflix atau DisneyPlus karena memang tidak sebanding. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Meski tidak menjelaskan rinci, ia menjelaskan biaya yang dikeluarkan untuk produksi konten orisinal atau konten lain sama saja selama bertujuan untuk mempertahankan pelanggan. Tetapi konten orisinal butuh lebih upaya lebih untuk promosi agar diketahui banyak orang.
"Biaya untuk akuisisi atau sewa konten macam-macam, kalau eksklusif hanya untuk satu layanan streaming (berbiaya tinggi). Kalau sewa eksklusif tapi dengan batas waktu tertentu, harganya di bawah. Tergantung kesepakatan dua pihak," kata Aris.
Bukan hanya layanan streaming asing, layanan streaming lokal juga merupakan objek pajak. Pun begitu dengan MAXstream dan Bioskop Online sejak pertama kali dua layanan streaming lokal ini diluncurkan.
Sejauh ini Angga belum bisa melihat dengan jelas timbal balik yang didapat dari Bioskop Online menjadi objek pajak. Mengingat, seharusnya pajak yang diterima negara dikelola untuk pembangunan sehingga objek pajak merasa dapat timbal balik.
"Soal pajak harus ada roadmap yang jelas. Dunia lagi ke arah di mana internet gratis, sementara kita selalu gagap teknologi, kita telat. Jangan lagi kita telat," kata Angga.
Sementara itu, GM Digital Experience Strategy Telkomsel Luthfi C. Wibisono memiliki pandangan yang berbeda. "[Timbal balik] enggak mesti dalam bentuk infrastruktur hanya untuk platform streaming juga, tetapi juga untuk kebaikan bersama," kata Luthfi.
Jakarta, CNN Indonesia --
Semakin lama layanan streaming yang menyajikan film dan serial atau konten semakin banyak. Setidaknya dalam waktu tiga tahun belakangan, muncul sejumlah layanan streaming lokal, yaitu Bioskop Online, Go Play, Klik Film, dan MAXstream.
Meski sama-sama menyajikan konten, setiap layanan streaming tersebut memiliki karakter tersendiri. MAXstream misalnya, layanan streaming yang merupakan bagian Telkomsel ini kerap menyajikan konten reality show sebagai andalan.
Hal itu diakui oleh GM Digital Content Creation Telkomsel, Aris Sudewo. Menurutnya, sebagai layanan streaming, MAXstream harus mencari jati diri dan berada di posisi yang tepat di antara pelanggan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu salah satu tipe konten yang kami kerjakan. Kami pikir yang paling cepat ditonton adalah konten ringan seperti di YouTube, tapi mohon maaf ada beberapa konten yang kurang filter," kata Aris saat wawancara virtual dengan CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
Ia melanjutkan, "Kami produksi dengan ambil artis profesional generated content seperti Raffi Ahmad dan Keluarga Halilintar. Itu salah satu metode kami untuk dapatkan crowd yang cepat, mereka sudah punya segmen besar di YouTube atau TV."
Aris menjelaskan bahwa MAXstream menjalin kerja sama dengan rumah produksi RANS Entertainment yang dibentuk oleh pasangan suami istri Raffi dan Nagita Slavina. Dua reality show dari kerja sama tersebut adalah Raffi's Garage dan Nagita's Corner.
Menurutnya, Raffi sebagai sosok yang sering terlihat dari RANS Entertainment bisa menyesuaikan diri agar suatu konten bisa masuk ke berbagai lapisan sosial-ekonomi. Dengan begitu, MAXstream bisa lebih banyak menjaring pelanggan.
"Tapi memang bisa dibilang RANS Entertainment itu strategic partner karena grooming talent banyak di sana. Mereka punya production power, punya massa, dan selalu ada konten. Ketika kami butuh, mereka ada," kata Aris.
Seiring berjalannya waktu konten seperti itu berhasil menarik pelanggan, terlebih di masa pandemi seperti sekarang. Sampai Agustus lalu MAXstream tercatat memiliki 8,2 juta pengguna, naik lebih dari dua kali lipat dari 2019 dengan 3,5 juta pengguna.
MAXstream menjalin kerja sama dengan rumah produksi RANS Entertainment yang dibentuk oleh pasangan suami istri Raffi dan Nagita Slavina. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Group CEO Visinema, Angga Dwimas Sasongko, memiliki pandangan yang jauh berbeda dengan Aris. Lewat Bioskop Online ia justru ingin membuat pasar baru dalam industri streaming, bukan berebut dalam ceruk pasar yang sudah ada.
Hal itu terlihat dari berbagai film yang tersaji dalam Bioskop Online yang mayoritas merupakan film-film festival dan film sidestream. Beberapa di antaranya adalah Ziarah, Tengkorak, Turah, Istirahatlah Kata-Kata, dan Nay.
Angga sangat sadar bahwa pasar film-film tersebut tersegmentasi atau bisa disebut sebagai niche market. Namun, ia yakin bahwa bermain dalam niche market bukan suatu masalah, terlebih ia sudah membuktikannya dengan film-film garapan Visinema.
"Bagi kami niche market jauh lebih terjangkau ketimbang mass market. Kami lebih paham produknya dan niche market seperti apa. Kalau kami bisa sentuh mereka, mereka akan cerita ke semua orang yang ada di sekitarnya," kata Angga.
Ia melanjutkan, "Kemudian pada satu titik produk kami akan menjadi mass market, dan itu terjadi karena konsistensi. Kami punya film Keluarga Cemara dan NKCTHI, bisa dapat mass market dan box office dengan pendekatan yang niche."
Bioskop Online sendiri resmi diluncurkan pada Juli lalu, kemudian pada Oktober kemarin merilis konten film orisinal pertama bertajuk Story of Kale: When Someone Love. Sampai saat ini Bioskop Online kurang lebih memiliki 600 ribu pengguna.
MAXStream dan Bioskop Online berbicara soal strategi menarik cuan dalam halaman selanjutnya...
Produksi Konten
Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini. (Dok. Visinema Pictures)
Produksi Konten
Pada akhirnya setiap layanan produksi berlomba-lomba untuk membuat konten yang bisa menarik pelanggan juga cuan.
Setidaknya ada tiga macam konten yang tersaji dalam layanan streaming, yaitu konten orisinal, konten akuisisi, dan konten sewa yang tayang dalam kurun waktu tertentu.
Sudah pasti untuk menyajikan konten-konten tersebut layanan streaming membutuhkan banyak uang. Berdasarkan laporan Tech In Asia Indonesia, Netflix telah mengeluarkan uang sebesar Rp169 triliun pada 2018 hanya untuk membuat konten.
Sangat wajar bila Netflix mengeluarkan banyak uang lantaran mereka pemain besar dalam industri streaming dunia mau pun Indonesia. Hal itu membuat Angga tidak ingin berkompetisi dengan pemain besar seperti Netflix atau DisneyPlus karena memang tidak sebanding.
"Mereka itu perusahaan raksasa, multinasional dan world wild operation. Kalau kita punya katalog film luar, apa bisa dapet yang bagus kayak mereka? Berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk kompetisi sama mereka," kata Angga.
Meski demikian, bukan berarti Bioskop Online 'kalah sebelum perang' dengan pemain besar layanan streaming. Mereka justru memiliki cara lain untuk bisa bersaing dalam industri streaming Indonesia dengan cara sendiri serta persiapan dari segi konten dan keuangan.
"Tahun depan kami akan punya 20 film orisinal yang akan dibikin dengan banyak sutradara dan produser dari seluruh Indonesia. Saya enggak bisa ngomong sejauh itu [perbandingan biaya produksi konten orisinal dan sewa], itu dapur bisnis kami," kata Angga.
Dalam kesempatan terpisah, Aris menjelaskan konsistensi produksi konten MAXstream berjalan lancar. Setelah berdiri selama hampir dua setengah tahun, MAXstream memiliki 188 judul konten orisinal, Intellectual property (IP) dari 46 konten di antaranya dimiliki penuh oleh Telkomsel.
Sineas Angga Dwimas Sasongko Angga tidak ingin Bioskop Online berkompetisi dengan pemain besar seperti Netflix atau DisneyPlus karena memang tidak sebanding. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Meski tidak menjelaskan rinci, ia menjelaskan biaya yang dikeluarkan untuk produksi konten orisinal atau konten lain sama saja selama bertujuan untuk mempertahankan pelanggan. Tetapi konten orisinal butuh lebih upaya lebih untuk promosi agar diketahui banyak orang.
"Biaya untuk akuisisi atau sewa konten macam-macam, kalau eksklusif hanya untuk satu layanan streaming (berbiaya tinggi). Kalau sewa eksklusif tapi dengan batas waktu tertentu, harganya di bawah. Tergantung kesepakatan dua pihak," kata Aris.
Bukan hanya layanan streaming asing, layanan streaming lokal juga merupakan objek pajak. Pun begitu dengan MAXstream dan Bioskop Online sejak pertama kali dua layanan streaming lokal ini diluncurkan.
Sejauh ini Angga belum bisa melihat dengan jelas timbal balik yang didapat dari Bioskop Online menjadi objek pajak. Mengingat, seharusnya pajak yang diterima negara dikelola untuk pembangunan sehingga objek pajak merasa dapat timbal balik.
"Soal pajak harus ada roadmap yang jelas. Dunia lagi ke arah di mana internet gratis, sementara kita selalu gagap teknologi, kita telat. Jangan lagi kita telat," kata Angga.
Sementara itu, GM Digital Experience Strategy Telkomsel Luthfi C. Wibisono memiliki pandangan yang berbeda. "[Timbal balik] enggak mesti dalam bentuk infrastruktur hanya untuk platform streaming juga, tetapi juga untuk kebaikan bersama," kata Luthfi.