Cerita Iqbaal Dirundung Akibat Dikira Cari Muka saat Sekolah

CNN Indonesia | Jumat, 11/12/2020 15:55 WIB
Aktor Iqbaal Ramadhan menceritakan pengalamannya ketika menjadi korban perundungan karena dikira cari muka saat masih sekolah. Aktor Iqbaal Ramadhan menceritakan pengalamannya ketika menjadi korban perundungan karena dikira cari muka saat masih sekolah. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aktor Iqbaal Ramadhan menceritakan pengalamannya ketika menjadi korban perundungan karena dikira cari muka saat masih sekolah.

Iqbal mengaku sudah merasakan pengalaman itu ketika masih duduk di sekolah dasar beberapa belas tahun lalu. Perundungan dilakukan mulai dari teman sekelas hingga kakak kelas.

"Dulu aku sempat di-bully pas SD. Dulu kan aku kecil banget ya, terus sering maju untuk memberikan pendapat dan jadi sering dikira cari muka ke guru. Jadi di-bully teman sekelas, kakak kelas, bahkan geng-geng begitu dan sampai suka dipalak," tutur Iqbaal.


Iqbaal menuturkan kisah itu dalam siaran langsung bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, melalui akun Instagram resminya pada Jumat (11/12).

Dalam kesempatan itu, Nadiem juga mengaku pernah menjadi korban perundungan di sekolah, baik secara verbal maupun fisik. Menurutnya, bentuk fisiknya kala itu yang mendasari perundungan tersebut.

"Waktu umur 10-13 tahun itu saya lumayan gemuk dan saya selalu kelihatan berbeda dari teman-teman saya. Di Indonesia terlihat beda, di New York juga berbeda. Saya jadi mendapat bullying verbal yang intensif. Begitu masuk asrama, saya juga mengalami bullying fisik," cerita Nadiem.

Mendengar kisah tersebut, Iqbaal mengaku sempat menduga para pelaku bullying di sekolah sejatinya pernah menjadi korban perundungan sebelumnya. Perundungan akhirnya menjadi lingkaran setan.

Nadiem pun mengamini hal itu. Berdasarkan riset yang dilakukan ahli, sebagian besar tukang bully pernah menerima perundungan sebelumnya atau memiliki permasalahan dengan trauma.

Bullying bahkan disebut sebagai refleksi ketidaksukaan terhadap diri sendiri atau merasa tidak berharga sehingga ingin menunjukkan bahwa dirinya berkuasa.

Oleh sebab itu, Nadiem menyatakan bahwa perundungan merupakan satu dari tiga dosa yang hendak ia berantas dari lingkungan sekolah dan pendidikan anak-anak. Tiga dosa yang dimaksud adalah perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi.

Menurutnya, salah satu cara yang efektif dalam mengatasi perundungan adalah peran aktif teman dalam melindungi rekan-rekannya. Peran guru atau kepala sekolah dinilai terbatas dibandingkan dukungan dari teman-teman sekelas.

Kendati demikian, guru, kepala sekolah, serta orang tua juga dinilai harus sensitif, terutama dalam pemantauan. Mereka juga diharapkan menjadi contoh nyata bagi para murid dengan tidak menggunakan kekerasan dalam kehidupan sehari-hari.

"Selain itu juga harus ada tempat aman untuk murid-murid melaporkan hal tersebut, bisa secara anonim, yang penting aman sehingga tidak terancam sanksi sosial," tuturNadiem.

Mendikbud Nadiem Makarim saat acara temu media di Graha 1. Gedung A Kementrian Pendidikan dan Budaya.  Jakarta.  Senin (23/12/2019). CNN Indonesia/Andry NovelinoMendikbud, Nadiem Makarim, mengaku pernah menjadi korban perundungan saat masih sekolah. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Mendikbud juga menyoroti perundungan siber, terutama di saat para siswa melakukan belajar di rumah akibat pandemi Covid-19. Nadiem menilai cyber bullying memiliki dampak mempermalukan yang lebih besar dan traumatik.

Namun, peran dan pengawasan orang tua bersama siswa malah lebih besar. Bukti-bukti cyber bullying juga bisa lebih jelas dan dapat dikumpulkan. Pelaku perundungan siber juga bisa menerima sanksi sosial lebih mudah.

Oleh sebab itu, ia berpesan kepada seluruh murid di Indonesia untuk bisa bersabar, terutama terkait kelanjutan sekolah tatap muka di seluruh kawasan. Nadiem meyakini apabila mereka mampu bertahan menghadapi pandemi dan segala risikonya, mereka akan menjadi generasi yang kuat.

"Saya menyadari situasi sulit ini. Tidak hanya mengalami krisis ekonomi, tapi juga pembelajaran. Ada stres di rumah, ada juga masalah kesehatan mental. Ini bukan masa yang mudah," kata Nadiem.

"Harapan dengan semua yang kami lakukan dengan memberikan kuota belajar, menyederhanakan kurikulum dan hilangkan UN, harapannya adik-adik merasakan pemerintah hadir."

(chri/has/has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK