Penantian 40 Tahun Fariz RM Rilis Piringan Hitam Sakura

CNN Indonesia | Sabtu, 02/01/2021 13:41 WIB
Banyak orang yang mengira Sakura album perdana Fariz, padahal album perdananya adalah Selangkah ke Seberang (1979). Pemusik legendaris Fariz RM. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perilisan karya dalam bentuk fisik kerap menjadi sesuatu yang berarti bagi seorang musisi di era digital. Terutama rilisan dalam bentuk piringan hitam, salah satu bentuk rilisan fisik tertua dan termahal.

Pun solois Fariz RM yang bermusik sejak era pra digital, 1977, butuh waktu lama untuk bisa merilis album dalam bentuk piringan hitam. Ia baru berhasil merilis piringan hitam album Sakura beberapa pekan lalu.

"Enggak disangka, piringan hitam tersebut luar biasa laku. Itu impian 40 tahun yang menjadi kenyataan, buat aku sangat luar biasa mengetahui di luar sana banyak orang yang mencari piringan hitam itu," kata Fariz saat jumpa media virtual beberapa waktu lalu.


Sakura sendiri merupakan album solo kedua Fariz yang dirilis pada 1980 silam. Banyak orang yang mengira Sakura album perdana Fariz, padahal album perdananya adalah Selangkah ke Seberang (1979).

Pembuatan album ini bermula ketika Fariz terlibat dalam film Sakura dalam Pelukan (1979) untuk membuat ilustrasi musik. Naskah film jadi landasan Fariz dalam menggarap lirik lagu Sakura.

Mengutip buku Rekayasa Fiksi yang ditulis Fariz, dengan sutradara Fritz G Schadt memberikan penjelasan inti cerita dengan sabar. Setelah melewati beberapa proses, akhirnya Fariz memahami cerita serta karakter utama.

Seiring menjalani karier bermusik, Sakura menjadi album paling hit milik Fariz dan masih dikenal sampai sekarang. Lagu-lagu yang ada dalam album itu juga masih sering diputar pada berbagai tempat dan kesempatan.

Fariz mengingat, album itu dirilis pada masa peralihan piringan hitam ke kaset pita. Hingga akhirnya ia dan label rekaman sepakat untuk merilis album Sakura dalam bentuk fisik kaset pita.

"Penerbitan album itu disertai piringan hitam terbatas, 50-100 kopi. Piringan hitam itu untuk promosi, diperuntukkan radio yang masih gunakan turntable untuk siaran. Kami buat itu supaya radio lebih mudah," kata Fariz.

Ia melanjutkan, "Piringan hitam Sakura yang banyak beredar itu adalah piringan hitam promosi untuk radio. Mungkin ketika pindah ke digital, piringan hitam itu mereka jual. Makanya sampul piringan hitam itu seadanya, karena memang bukan untuk dijual."

Kini, kata Fariz, ia merilis piringan hitam Sakura resmi sebanyak 500 keping untuk dijual. Menurutnya piringan hitam itu merupakan collector item kerana merupakan edisi 40 tahun album Sakura dan dalam jumlah terbatas.

Terlebih, kualitas lagu dalam piringan hitam itu lebih baik karena master dari semua lagu telah melewati proses mastering ulang. Fariz sudah mendigitalisasi semua master lagu yang ia buat sejak peralihan rilisan fisik ke digital 10 tahun lalu.

"Harapan aku enggak neko-neko, saya hanya ingin karya saya didengar banyak orang dan bahagia, itu lebih berharga dari uang. Memang saya berbisnis musik untuk uang, tetapi mendapat tanggapan dari pendengar itu saya puas," kata Fariz.

"Aku enggak pernah menyangka, album ini populer kembali, bahkan long lasting. Lagu itu semacam kutukan, kalau enggak nyanyikan itu gue bisa dipukul orang," tutup Fariz sembari tertawa.

(adp/bac)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK