RONA BUDAYA

Filosofi di Balik Lolok, Suvenir Bentuk Penis dari Bali

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 17/01/2021 15:07 WIB
Jauh dari anggapan kebanyakan turis luar Bali, warga lokal punya filosofi terkait kepercayaan mereka ketika membuat dan menjual suvenir berbentuk penis. Jauh dari anggapan kebanyakan turis luar Bali, warga lokal punya filosofi terkait kepercayaan mereka ketika membuat dan menjual suvenir berbentuk penis. (iStockphoto/intek1)
Jakarta, CNN Indonesia --

Suvenir berbentuk penis yang terbuat dari kayu bergelantung di sebuah toko suvenir di Denpasar, Bali. Mayoritas wisatawan yang datang ke toko kerap tertawa atau bingung saat melihat suvenir itu.

Lolok, demikian suvenir itu biasa disebut oleh masyarakat Bali. Sebagaimana dilansir Detik.com, kata lolok berasal dari benda bersejarah yang biasa disebut lingga.

Dalam ajaran agama Hindu, lingga merupakan atribut terkuat dari dewa tertinggi atau kerap dikaitkan dengan Dewa Siwa.


Berdasarkan situs Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lingga adalah pilar cahaya, simbol benih dari segala sesuatu yang ada di alam semesta. Lingga juga merupakan simbol organ maskulin.

Penggambaran lingga juga terdapat pada beberapa candi-candi Hindu periode Jawa Tengah kuno. Ada yang digambarkan secara simbolis dan halus. Namun, ada pula yang digambarkan secara ikonis dan vulgar.

Dengan begitu, wajar bila salah satu suvenir khas Bali berupa gantungan kunci, pembuka botol, atau asbak berbentuk penis atau lingga. Sejak dulu, Bali memang kental dengan ajaran Hindu.

Meski demikian, Dosen Antropologi Universitas Gadjah Mada, Pande Made Kutanegara, menilai kemunculan suvenir itu bukan hanya karena Bali kental dengan Hindu, tapi juga lolok bisa diterima masyarakat secara umum.

"Lolok itu kan kreasi bebas dari seniman. Karya itu bisa menjadi bebas ketika kultur masyarakat sekitar memberikan ruang, seperti yang terjadi di Bali dari dulu sampai sekarang," kata Pande kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.

Wooden penises figures souvenir on display for sale to tourists on street local market in Ubud, island Bali, Indonesia. Wooden penises are used in Bali as a remedy against the evil eye and bad spiritsGantungan kunci Lolok. (iStockphoto/intek1)

Pande sendiri mengalami kultur masyarakat Bali yang terbuka dengan konsep lingga dalam berbagai bentuk. Sekalipun pada konsep yang paling dasar, yaitu seks, masyarakat Bali tidak menganggapnya sebagai hal porno untuk kepuasan semata, melainkan reproduksi.

Ia mencontohkan dengan pengalamannya saat duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) tahun 1980 di Bali. Kala itu, Pande dan teman-teman lelaki sering mandi di sungai yang melewati dan berdekatan dengan pemandian perempuan.

"Tidak pernah muncul rasa nafsu meski melihat bagian tubuh dan perempuan mandi, dan mereka juga biasa saja bahkan terkadang sembari lewat kami bertegur sapa," kata Pande mengingat masa remajanya di Bali.

Menurut Pande, pemikiran yang terbuka terhadap konsep lingga, termasuk di dalamnya seks, berada di alam bawah sadar. Keterbukaan tersebut bisa tertanam dan terbentuk lantaran lingkup kultur budaya di sekitarnya.

"Ketika saya kembali ke Bali setelah enam bulan berkuliah di Yogyakarta, saya melihat itu porno dan saya mulai melirik. Saya tidak tahu mengapa pemikiran berubah dan saya marah betul dengan diri saya sendiri," kata Pande.

[Gambas:Video CNN]

Belakangan, Pande sadar bahwa pemikirannya secara tidak sadar berubah karena berada di kultur masyarakat yang berbeda dengan Bali selama beberapa bulan. Menurutnya, perubahan ini wajar dan bisa terjadi pada semua orang.

Lebih lanjut, Pande menyayangkan bila ada pihak yang menganggap lolok sebagai suvenir yang porno sehingga konotasinya menjadi negatif. Menurutnya, orang yang datang ke Bali sebaiknya bisa memahami lolok dari konteks budaya.

"Kalau melihat wisatawan, mereka datang dengan kacamata budayanya sendiri untuk melihat budaya di tempat yang dikunjungi. Saat itulah bisa muncul penilaian negatif dari perilaku masyarakat lokal," kata Pande.

Pande pun berharap Indonesia bisa banyak menggelar pertemuan antarbudaya agar bisa memahami pemikiran lain. Dengan begitu, orang dari budaya yang berbeda bisa memahami dan melengkapi satu sama lain, baik dari hal sepele sampai paling besar.

"Jangankan wisatawan luar negeri, budaya Indonesia antar daerah saja beda. Jangankan suvenir lolok, beda tempat saja makanan bisa pedas dan pendatang yang biasa makan manis tidak suka bahkan bisa marah," katanya.

(has/bac)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK