Patung Selamat Datang, Kala Gerilyawan Jadi Pematung Andalan

CNN Indonesia
Minggu, 31 Jan 2021 07:52 WIB
Dengan jejak karier sebagai pematung baru seumur jagung, Edhi Sunarso menyanggupi tantangan Sukarno membuat patung perunggu pertama, Monumen Selamat Datang. Dengan jejak karier sebagai pematung baru seumur jagung, Edhi Sunarso menyanggupi tantangan Sukarno membuat patung perunggu pertama, Monumen Selamat Datang. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia --

"Kamu bunuh Belanda saja berani. Bikin patung masa tidak berani?"

Kira-kira seperti itu perkataan presiden pertama Indonesia, Sukarno, saat meminta Edhi Sunarso untuk membuat patung perunggu perdana di Jakarta, Monumen Selamat Datang.

Kala itu, Bung Karno menyambangi langsung kediaman Edhi di Yogyakarta untuk memesan patung dari perunggu berukuran besar.


Ia berpesan bahwa patung itu nantinya akan ditampilkan untuk menyambut tamu internasional yang datang ke acara Asian Games ke-4.

Permintaan itu membuat Edhi bingung bukan kepalang. Pasalnya, ia belum pernah membuat patung dari bahan perunggu sepanjang kariernya.

Ia memang pernah menang penghargaan di Inggris berkat karyanya yang bertajuk The Unknown Political Prisoner. Namun, bahan patung itu batu, bukan perunggu. Ukurannya pun tak terlalu besar.

"Membuat patung setinggi 30 cm saja bapak [Edhi Sunarso] belum pernah. Nah, ini disuruh buat patung setinggi 13 meter, dan waktu itu di Indonesia belum pernah ada yang buat pengecoran dari perunggu," kata Satya, putra mendiang Edhi, kepada CNNIndonesia.com.

Namun sebagai seorang seniman yang pernah bertempur di medan perang, Edhi menyanggupi perintah Sukarno. Ia memperhatikan dengan seksama wajah Bung Karno saat memeragakan ekspresi patung yang diinginkan.

"Selamat Datang! Gini lho, Ed," kata Satya saat mengenang pertemuan Sukarno dan Edhi ketika membahas ekspresi wajah Patung Selamat Datang.

Edhi bersama beberapa seniman lain kemudian membuat sketsa Patung Selamat Datang. Di dalamnya termasuk Basuki Abdullah, Hendra Gunawan, dan Henk Ngantung.

Dalam pertemuan itu, Henk didapuk untuk menggambar sketsa awal patung menampilkan dua sosok rakyat, laki-laki dan perempuan tampak membentangkan tangan, seperti yang diperagakan Sukarno. Edhi lantas memperhalus detailnya.

"Sketsa tidak akan jadi patung kalau tidak dibikin detail. Setelah dibuat detail, lalu dibuat patung, jadi gambar yang detail itu yang buat bapak. Kalau Pak Henk kan sketsa, bukan detail, jadi terjadinya patung ekspresinya seperti itu guratan-guratan otot, teriakan, itu hasil guratan bapak," kata Satya.

Edhi kemudian berimprovisasi dengan menambahkan seikat bunga yang dibawa patung perempuan di tangan kirinya.

Monumen Selamat Datang di Bundaran HI, Jakarta.Detail Patung Selamat Datang. (Dok. jakarta.go.id)

Penambahan itu dianggap sesuai dengan tujuan pembuatan patung, yakni menyambut pesta olahraga berskala dunia pertama di Indonesia.

Sketsa rampung, Edhi ke bengkelnya di Yogyakarta untuk memulai proses pengecoran patung. Edhi juga mengajak beberapa seniman lain untuk ikut membantu, salah satunya bernama Momon dari sanggar Pelukis Rakyat.

Selain dari kawan-kawan sesama seniman di sanggarnya, Edhi juga mengajak beberapa mahasiswanya untuk bergabung.

"Jadi bapak kan seorang dosen, dan bapak waktu membuat patung-patung itu selalu mengajak siswa-siswanya dan mereka senang karena dulunya mereka pas-pasan, tidak bisa bayar SPP. Sama bapak dibayarin, dikasih kerjaan sesuai bidangnya," kata Satya.

Gif Rekomendasi Anime

Belajar Pengecoran di PJKA

Tanpa buang waktu, Edhi juga langsung menghubungi I Gardono, seorang arsitek dari Yogyakarta untuk mempelajari teknik pengecoran perunggu ke PJKA (sekarang PT KAI).

"Belajar pengecoran itu mulainya membuat patung dari yang kecil, lalu yang besar. Nah, sampai sekarang pengecoran itu masih ada di jalan Kaliurang, tapi sudah tidak beroperasi, tapi barang-barang yang dulu dipakai untuk ngecor masih ada," tutur Satya.

Setelah selesai membuat cetakan patung, Edhi menemui kendala lainnya. Edhi meragukan komposisinya. Ia menilai patung 9 meter di atas landasan 9 meter itu berlebihan.

Edhi memberanikan diri melapor ke Sukarno yang kala itu datang menengok pengerjaan patung bersama Sultan Hamengku Buwono IX, para menteri, dan duta besar.

"Pak, patung ini bila untuk di Bundaran Hotel Indonesia terlalu besar," katanya.

Monumen Selamat Datang adalah sebuah monumen yang terletak di tengah Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa, 5 Januari 2016. Monumen yang didesaion oleh Edhi Sunarso ini berupa patung sepasang manusia yang sedang menggenggam bunga dan melambaikan tangan. CNN Indonesia/Safir MakkiMonumen Selamat Datang. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Akhirnya, disepakati ukuran patung menjadi 6 meter. Setelah cetakan patung selesai dibuat, perunggu pun dituang. Hasilnya adalah potongan-potongan perunggu berukuran besar yang selanjutnya diangkut ke Jakarta menggunakan truk.

Saat tiba, satu persatu bagian patung disusun menggunakan stegel. Bagian-bagian itu disusun mulai dari kaki, lalu naik hingga bagian paling atas.

Susah payah upaya Edhi itu akhirnya terbayar manis setelah patung Monumen Selamat Datang diresmikan oleh Sukarno para 1962.

Tak hanya itu, Edhi juga menjadi pematung andalan Sukarno, menjadi kaki tangan sang proklamator mewujudkan Monumen Pembebasan Irian Barat, hingga Monumen Dirgantara di akhir hayatnya.

(nly/has/bac)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER