Gedung Sarinah belakangan menjadi topik perbincangan warga usai ditemukan relief bersejarah yang berasal dari masa pemerintahan presiden Sukarno. Pematung sekaligus Pengajar Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta, Dolorosa Sinaga menilai bahwa relief tersebut identik dengan seni patung selera Sukarno.
Menurut Dolo salah satu ciri kerakyatan dalam relief di gedung Sarinah adalah peran petani yang sangat penting untuk diangkat sebagai pilar kesejahteraan bangsa. Gagasan kerakyatan itu juga sering muncul dalam beberapa hasil karya seni lain yang dibuat di era pemerintahan Presiden Sukarno.
Dalam pandangan Dolo, karya seni yang muncul di era Sukarno bukan semata-mata bentuk apresiasi seni melainkan medium untuk mengimplementasikan gagasan atau ide yang pada waktu itu. Dalam pandangan Sukarno, ia menilai ekspresi patung bisa menggugah kesadaran orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekspresi di patung itu menurut Dolo diharapkan bisa menjadi inspirasi gerakan sosial, bukan sekadar politik demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
"Jadi hampir semua patung Sukarno kalau mau dilihat apa yang menjadi cirinya adalah melalui ekspresi patung, [Sukarno] ingin menyampaikan harapan bagaimana manusia Indonesia akan dibangun, bangsa ini akan berkembang di masa depan," kata Dolo.
Gagasan tersebut bisa diamati dari tiga monumen di Jakarta yang dibuat pada masa pemerintah Presiden Sukanro. Tiga monumen itu antara lain Monumen Pembebasan Irian Barat, Patung Dirgantara, dan Monumen Selamat Datang di depan Hotel Indonesia.
Lebih lanjut Dolo menjelaskan pada Monumen Pembebasan Irian Barat, Sukarno menggunakan figure orang terbebas dari rantai sebagai simbol kemerdekaan.
"[Monumen Pembebasan Irian Barat] itu untuk menyatakan bangsa Indonesia menolak penjajahan dan penindasan manusia, dia mengatakan Indonesia akan merdeka di atas kaki sendiri," kata Dolo.
Sementara untuk Monumen Selamat Datang merupakan perwujudan dari pernyataan Sukarno dalam membangun bangsa Indonesia. Dua figur di Monumen Selamat Datang merupakan pernyataan sikap bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terbuka dengan negara manapun.
"Tangan seperti menyambut tamu itu menyatakan bahwa bangsa Indonesia terbuka untuk komunikasi dengan luar dan merupakan bangsa yang terbuka," kata Dolo.
Terakhir adalah Patung Dirgantara yang berada di Pancoran, Jakarta Selatan. Patung ini terlihat jelas setiap orang melintasi jembatan layang di kawasan tersebut.
Dolo menjelaskan Presiden Sukarno sengaja menempatkan patung karya seniman Edhi Sunarso di lokasi yang dulunya adalah Markas Besar Angkatan Udara Republik Indonesia.
"Patung Dirgantara dipilih di sana karena itu dulunya markas Angkatan Udara, nah itu ada cita-cita Bung Karno bahwa di masa depan Indonesia akan jaya di udara," kata Dolo.
Dalam pandangan Dolo, ketiga karya seni tersebut bukan semata-mata dibuat sebagai ornamen untuk mempercantik tata kota, melainkan sebagai cara Sukarno untuk mengubah dunia.
"Dia [sukarno] sangat mencintai seni, dia memahami seni itu mencerdaskan orang, seni itu mengajarkan kita, mendidik kita untuk menghormati perbedaan," kata Dolo.
Baca halaman selanjutnya tentang perbedaan selera antara Sukarno dan Soeharto hingga misteri pembuat relief di Gedung Sarinah.
Di era pemerintah presiden Soeharto, Dolo lebih banyak melihat seni dipandang sebagai dekorasi atau pelengkap ketika datang acara-acara tertentu saja.
Dolo juga melihat bahwa perbedaan cara pandang terhadap seni dari kedua Presiden itu juga turut dipengaruhi oleh karakter mereka masing-masing. Dalam pandangan Dolo, Sukarno merupakan tokoh bangsa yang dekat dengan dunia seni. Presiden pertama Indonesia ini juga memiliki rekam jejak relasi dengan seniman-seniman di Indonesia.
Selain berkawan baik dengan seniman di Indonesia, Sukarno juga mengagumi karya seniman luar negari. Salah satunya Matvey Manizer merupakan salah satu pematung komunis terkenal di Uni Soviet.
Atas permintaan Sukarno, Manizer akhirnya membuat sebuah monumen untuk memperingati perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ide tersebut kemudian dituangkan menjadi Monumen Pahlawan yang berada di Menteng, Jakarta Pusat.
Monumen yang lebih akrab disebut dengan patung Tugu Tani ini menampilkan sosok pejuang kemerdekaan Indonesia bersama ibunya yang mendukung di sisinya. Patung itu juga dibentuk dengan wajah yang kuat akan ekspresi penuh perjuangan.
"Gagasan itu datangnya dari Sukarno karena [waktu itu] Sukarno mencoba mengekspresikan bahwa petani itu adalah kekuatan dan dia didukung oleh perempuan, bersama bergerak untuk kesejahteraan bangsa," kata Dolo.
Dolo melanjutkan gagasan Sukarno tentang rakyat terutama petani juga muncul pada relief di Gedung Sarinah. Ia melihat sosok perempuan yang berdiri di patung Tugu Tani, mirip dengan figur perempuan pada relief di Sarinah. Namun, Dolo tetap mendorong pihak terkait untuk melakukan penelitian sejarah tentang pematung relief itu.
Dolo berahrap relief yang berada di Gedung Sarinah yang dibangun Sukarno sebagai penghargaan untuk peremuan dengan jasa besar dalam kehidupannya itu ditampilkan untuk umum.
"Direstorasi, dikembalikan ke tempatnya dan dibuka kembali aksesnya agar bisa dinikmati oleh umum, untuk masyarakat dengan penjelasan yang akurat mengapa disimpan di bawah, apa yang terjadi pada tahun 1984 [kebakaran Sarinah], dan siapa yang menyimpannya selama itu sehingga ada bawah, itu harus dijelaskan," kata Dolo kepada CNNIndonesia.com.
Dolorosa juga mendorong agar Balai Cagar Budaya untuk mencari pematung relief tersebut sehingga publik mendapatkan informasi yang lengkap tentang temuan relief tersebut.
Jakarta, CNN Indonesia --
Gedung Sarinah belakangan menjadi topik perbincangan warga usai ditemukan relief bersejarah yang berasal dari masa pemerintahan presiden Sukarno. Pematung sekaligus Pengajar Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta, Dolorosa Sinaga menilai bahwa relief tersebut identik dengan seni patung selera Sukarno.
Menurut Dolo salah satu ciri kerakyatan dalam relief di gedung Sarinah adalah peran petani yang sangat penting untuk diangkat sebagai pilar kesejahteraan bangsa. Gagasan kerakyatan itu juga sering muncul dalam beberapa hasil karya seni lain yang dibuat di era pemerintahan Presiden Sukarno.
Dalam pandangan Dolo, karya seni yang muncul di era Sukarno bukan semata-mata bentuk apresiasi seni melainkan medium untuk mengimplementasikan gagasan atau ide yang pada waktu itu. Dalam pandangan Sukarno, ia menilai ekspresi patung bisa menggugah kesadaran orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ekspresi di patung itu menurut Dolo diharapkan bisa menjadi inspirasi gerakan sosial, bukan sekadar politik demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
"Jadi hampir semua patung Sukarno kalau mau dilihat apa yang menjadi cirinya adalah melalui ekspresi patung, [Sukarno] ingin menyampaikan harapan bagaimana manusia Indonesia akan dibangun, bangsa ini akan berkembang di masa depan," kata Dolo.
Gagasan tersebut bisa diamati dari tiga monumen di Jakarta yang dibuat pada masa pemerintah Presiden Sukanro. Tiga monumen itu antara lain Monumen Pembebasan Irian Barat, Patung Dirgantara, dan Monumen Selamat Datang di depan Hotel Indonesia.
Lebih lanjut Dolo menjelaskan pada Monumen Pembebasan Irian Barat, Sukarno menggunakan figure orang terbebas dari rantai sebagai simbol kemerdekaan.
"[Monumen Pembebasan Irian Barat] itu untuk menyatakan bangsa Indonesia menolak penjajahan dan penindasan manusia, dia mengatakan Indonesia akan merdeka di atas kaki sendiri," kata Dolo.
Sementara untuk Monumen Selamat Datang merupakan perwujudan dari pernyataan Sukarno dalam membangun bangsa Indonesia. Dua figur di Monumen Selamat Datang merupakan pernyataan sikap bangsa Indonesia sebagai bangsa yang terbuka dengan negara manapun.
"Tangan seperti menyambut tamu itu menyatakan bahwa bangsa Indonesia terbuka untuk komunikasi dengan luar dan merupakan bangsa yang terbuka," kata Dolo.
Terakhir adalah Patung Dirgantara yang berada di Pancoran, Jakarta Selatan. Patung ini terlihat jelas setiap orang melintasi jembatan layang di kawasan tersebut.
Dolo menjelaskan Presiden Sukarno sengaja menempatkan patung karya seniman Edhi Sunarso di lokasi yang dulunya adalah Markas Besar Angkatan Udara Republik Indonesia.
"Patung Dirgantara dipilih di sana karena itu dulunya markas Angkatan Udara, nah itu ada cita-cita Bung Karno bahwa di masa depan Indonesia akan jaya di udara," kata Dolo.
Dalam pandangan Dolo, ketiga karya seni tersebut bukan semata-mata dibuat sebagai ornamen untuk mempercantik tata kota, melainkan sebagai cara Sukarno untuk mengubah dunia.
"Dia [sukarno] sangat mencintai seni, dia memahami seni itu mencerdaskan orang, seni itu mengajarkan kita, mendidik kita untuk menghormati perbedaan," kata Dolo.
Baca halaman selanjutnya tentang perbedaan selera antara Sukarno dan Soeharto hingga misteri pembuat relief di Gedung Sarinah.
Beda Selera Seni Rupa di Era Soeharto
Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI
Di era pemerintah presiden Soeharto, Dolo lebih banyak melihat seni dipandang sebagai dekorasi atau pelengkap ketika datang acara-acara tertentu saja.
Dolo juga melihat bahwa perbedaan cara pandang terhadap seni dari kedua Presiden itu juga turut dipengaruhi oleh karakter mereka masing-masing. Dalam pandangan Dolo, Sukarno merupakan tokoh bangsa yang dekat dengan dunia seni. Presiden pertama Indonesia ini juga memiliki rekam jejak relasi dengan seniman-seniman di Indonesia.
Selain berkawan baik dengan seniman di Indonesia, Sukarno juga mengagumi karya seniman luar negari. Salah satunya Matvey Manizer merupakan salah satu pematung komunis terkenal di Uni Soviet.
Atas permintaan Sukarno, Manizer akhirnya membuat sebuah monumen untuk memperingati perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ide tersebut kemudian dituangkan menjadi Monumen Pahlawan yang berada di Menteng, Jakarta Pusat.
Monumen yang lebih akrab disebut dengan patung Tugu Tani ini menampilkan sosok pejuang kemerdekaan Indonesia bersama ibunya yang mendukung di sisinya. Patung itu juga dibentuk dengan wajah yang kuat akan ekspresi penuh perjuangan.
"Gagasan itu datangnya dari Sukarno karena [waktu itu] Sukarno mencoba mengekspresikan bahwa petani itu adalah kekuatan dan dia didukung oleh perempuan, bersama bergerak untuk kesejahteraan bangsa," kata Dolo.
Dolo melanjutkan gagasan Sukarno tentang rakyat terutama petani juga muncul pada relief di Gedung Sarinah. Ia melihat sosok perempuan yang berdiri di patung Tugu Tani, mirip dengan figur perempuan pada relief di Sarinah. Namun, Dolo tetap mendorong pihak terkait untuk melakukan penelitian sejarah tentang pematung relief itu.
Dolo berahrap relief yang berada di Gedung Sarinah yang dibangun Sukarno sebagai penghargaan untuk peremuan dengan jasa besar dalam kehidupannya itu ditampilkan untuk umum.
"Direstorasi, dikembalikan ke tempatnya dan dibuka kembali aksesnya agar bisa dinikmati oleh umum, untuk masyarakat dengan penjelasan yang akurat mengapa disimpan di bawah, apa yang terjadi pada tahun 1984 [kebakaran Sarinah], dan siapa yang menyimpannya selama itu sehingga ada bawah, itu harus dijelaskan," kata Dolo kepada CNNIndonesia.com.
Dolorosa juga mendorong agar Balai Cagar Budaya untuk mencari pematung relief tersebut sehingga publik mendapatkan informasi yang lengkap tentang temuan relief tersebut.