Jejak Sinetron Religi Mencari Pasar di Tanah Air

adp, CNN Indonesia | Minggu, 18/04/2021 10:09 WIB
Sinetron religi mencapai masa keemasannya pada periode 2000-an. Hal tersebut tak lepas dari predikat Indonesia sebagai negara dengan mayoritas umat Musilm. Sinetron Kiamat Sudah Dekat (2005) (Foto: Tangkapan Layar Film Citra Sinema via Vidio)
Jakarta, CNN Indonesia --

Seluas Samudra, Si Doel Anak Sekolahan, dan Olga Sepatu Roda adalah sederet sinema elektronik alias sinetron yang muncul pada dekade 1990-an. Tepatnya, setelah kelahiran Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) sebagai saluran televisi swasta pertama di Indonesia.

Kemunculan RCTI kala itu memberikan warna baru bagi lanskap sinetron Indonesia. Setidaknya, hipotesis tersebut bisa dilihat dari jumlah sinetron yang semakin banyak dengan cerita serta genre yang semakin beragam pula.

Misalnya Seluas Samudra, sinetron bergenre drama keluarga ini mengisahkan orang kaya yang mendadak miskin karena ayahnya meninggal. Sementara, Olga Sepatu Roda yang bergenre komedi mengisahkan perempuan bernama Olga yang menggemari sepatu roda.


Situasi sinetron tersebut berbeda dengan sebelumnya ketika belum ada saluran televisi swasta dan sinetron hanya diproduksi dan ditayangkan oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI). Sinetron cenderung bergenre drama keluarga yang mengisahkan kehidupan sehari-hari, seperti Losmen.

Losmen sendiri banyak disebut sebagai sinetron pertama di Indonesia. Sinetron yang tergolong genre drama keluarga ini digarap dengan sangat matang oleh para dedengkot teater, yaitu Tatiek Maliyati bersama suaminya, Wahyu Sihombing.

Keragaman sinetron tidak berhenti pada genre komedi saja. Di tengah berbagai judul sinetron drama keluarga muncul satu sinetron bertajuk Abu Nawas pada 1992 yang disebut sebagai sinetron bergenre religi pertama di Indonesia.

Sinetron yang terinspirasi dari pujangga asal Timur Tengah itu dibuat oleh sineas Deddy Mizwar. Alasannya sederhana, menurutnya pada dekade 1990-an konten televisi tidak mencerminkan Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia.

Deddy Mizwar merupakan salah satu sineas yang paling sering memproduksi sinetron religi. Salah satu yang paling terkenal adalah Lorong Waktu di mana ia menjadi produser, sutradara, dan pemain.Deddy Mizwar merupakan salah satu sineas yang rajin memproduksi sinetron religi di Tanah Air. (Foto: CNN Indonesia/ Andika Putra)

"Saya tawarkan ke stasiun televisi tentang Abu Nawas. Bagaimana dia, bukan pintar, tetapi selalu dalam pertolongan-pertolongan Allah. Dia selamat karena pertolongan Allah," kata Deddy saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Ia melanjutkan, "Waktu itu saya bilang saya sebagai produser enggak perlu dibayar, TV enggak ada yang yakin bahwa tayangan bernuansa Islam akan ditonton banyak orang. Mereka juga enggak tahu bagaimana format menyampaikan tentang Islam, biasanya kan ceramah."

Abu Nawas laku di pasaran. Alhasil stasiun televisi swasta mulai yakin menayangkan sinetron religi meski porsinya masih sedikit, pun Deddy kembali membuat sinetron religi bertajuk Hikayat Pengembara dan Mat Angin.

Akademisi Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Satrio Pamungkas tidak merasa heran dengan fenomena itu. Sudah menjadi kepastian bahwa stasiun televisi akan menayangkan konten yang menguntungkan bagi mereka.

"Apalagi stasiun televisi percaya dengan rating, konten yang laku cenderung memiliki rating tinggi. Ini bukan hanya dalam konteks sinetron religi saja, acara musik di pagi hari juga dulu laku dan banyak stasiun televisi tayangkan itu, jadi seragam," kata Satrio.

Walau pasar sudah mulai terbentuk dari awal dekade 1990-an, penayangan sinetron religi di berbagai stasiun televisi baru ramai pada dekade 2000an. Butuh waktu lima sampai 10 tahun bagi stasiun televisi untuk yakin menayangkan sinetron religi.

Menurut Satrio, televisi cenderung 'main aman' sehingga menunggu waktu bertahun-tahun untuk melihat konsistensi pasar sinetron religi. Ketika konsistensi sudah terlihat, barulah stasiun televisi berbondong-bondong menayangkan sinetron religi.

"Kalau pasar sudah terbentuk seharusnya dalam waktu dua tahun stasiun televisi berani menayangkan sinetron religi. Tapi mereka malah takut, padahal saat itu stasiun televisi masih dikit dan belum banyak saingan, seharusnya mereka berani," kata Satrio.

Periode 2000-an Sebagai Masa Keemasan Sinetron Religi

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
BACA JUGA
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK