Silang Pendapat Pengaruh Kritik pada Penjualan Film
CNN Indonesia
Minggu, 29 Agu 2021 12:40 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Batman v Superman: Dawn of Justice menjadi contoh film yang dikritik tapi hit box office. Foto: Warner Bros. Entertainment Inc/Clay Enos
Jakarta, CNN Indonesia --
Nasib penjualan tiket sebuah film tak hanya dipengaruhi jalan cerita yang menarik, para bintang ternama, serta nama besar sutradara, dan didukung strategi pemasaran yang baik.
Ulasan atau review film sederhana hingga kritik pedas dinilai sejumlah pihak turut memengaruhi niatan calon penonton, yang kemudian berdampak pada penjualan tiket film. Bisa melonjak karena rasa penasaran atau stagnan karena kehilangan rasa ingin menonton.
Beberapa film Hollywood bisa menjadi contoh nyata bahwa rendahnya skor ulasan sama sekali tidak memengaruhi pendapatan box office. Film-film tersebut tetap berhasil meraup ratusan juta dolar dari box office global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebut saja Batman v Superman: Dawn of Justice yang dirilis pada 2016. Film garapan Sutradara Zack Snyder ini mendapatkan skor kritikus di laman agregator Rotten Tomatoes hanya 29 persen. Itu menjadi skor tomatometer terendah di antara film-film superhero lain yang ia garap.
Namun, film yang dibuat dengan bujet perkiraan US$250 juta-US$300 juta tersebut berhasil meraup US$873,6 juta dari box office global.
"Terus terang belakangan katanya konon cukup besar (pengaruh kritik terhadap penjualan), saya sendiri tidak punya data yang pasti," kata Kritikus film Eric Sasono kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
"Tapi ada filmmaker yang membagikan datanya kepada saya bahwa ulasan-ulasan di YouTube dan podcast itu cukup lumayan besar pengaruhnya terhadap proses menentukan apakah mau menonton atau tidak," ucapnya.
Pandangan lain disampaikan cendekiawan seni sekaligus Ketua Akademi Jakarta, Seno Gumira Ajidarma. Menurutnya, kritik tidak memengaruhi penjualan tiket sebuah film. Beberapa hal mendasari pandangan tersebut, salah satunya adalah basis penggemar.
Ia pun mencontohkan film Eat Pray Love yang dirilis pada 2010. Berdasarkan Rotten Tomatoes, film itu mendapatkan 36 persen untuk skor tomatometer dari para kritikus serta 42 persen skor penonton.
Tak hanya itu, Eat Pray Love juga sempat mendapatkan kritik keras yang bertajuk Eat Pray Snooze. Film yang dibintangi Julia Roberts itu juga disebut sebagai Eat Snooze Sleep oleh Leila S. Chudori dalam ulasan filmnya yang dimuat dalam majalah Tempo 24 Oktober 2010.
"Ya misalkan penontonnya itu suka karena Julia Roberts. Apapun film yang dibintangi Julia Roberts mau bagus atau enggak yang penting Julia Roberts," kata Seno Gumira.
"Enggak penting siapa yang bikin, enggak penting juga kata kritikus, enggak penting menang awards atau enggak tapi penonton ini yang bilang gue suka titik," ucapnya.
Eat, Pray, Love (2010) mendapatkan kritik tajam dari kritikus tapi meraup cuan dari box office global. (Foto: Columbia Pictures via Imdb)
Berdasarkan data Box Office Mojo, Eat Pray Love dibuat dengan bujet US$60 juta dan mendapatkan US$204 juta dari box office global.
"Film-film kayak itu dibantai, tapi enggak ada artinya pembantaian itu karena tetap jadi box office," ucap Seno.
Seno menilai bukan kritik yang berhasil mengerek penjualan tiket film, melainkan perdebatan yang muncul di antara masyarakat terutama di media sosial sehingga memengaruhi calon penonton lainnya.
"Pendekatannya media sosial. Memang apa saja yang di media sosial itu selalu berdampak, ya orang jadi nonton. Itu tidak ada hubungan dengan bagus [atau] enggak filmnya," kata Seno.
lanjut ke sebelah..
Senada, akademisi film dari Institut Kesenian Jakarta, Satrio Pamungkas, berpendapat rasa penasaran akibat perdebatan adalah hal yang bisa memengaruhi penjualan film. Walau pada dasarnya, perdebatan itu muncul akibat kritik dan pujian terhadap film.
"Kritik itu bisa mendatangkan penonton, pujian juga bisa datangkan penonton. Jadi bukan karena kritiknya tapi kehebohannya dan buat orang penasaran. Iya karena heboh. Jadi menciptakan curiosity itu bekerja," kata Satrio.
Kondisi itu juga diungkapkan Nisa, pegawai swasta, sebagai salah satu penikmat film. Menurutnya, rasa penasarannya tumbuh akibat perdebatan antara kritik dan pujian yang beredar di media sosial.
Rasa penasaran itu yang kemudian mendorongnya menyaksikan film yang ramai diperdebatkan untuk membuktikan sendiri kebenarannya.
"Kalau emang akses untuk menontonnya mudah, kayaknya saya tonton karena kepo. Malah jadi penasaran karena dikritik begitu," ucap Nisa.
Namun, Raiy memiliki sikap berbeda. Sebagai penulis sekaligus penikmat film, Raiy mengatakan tidak tertarik untuk menyaksikan film yang viral diperdebatkan apabila bukan genre kesukaannya.
"Seviral apapun film itu di media sosial tapi bukan genre kesukaan, saya tidak akan tonton," ucap Raiy.
Kritikus film Eric Sasono menyatakan situasi perdebatan di media sosial yang kemudian memengaruhi niatan menonton seperti itu memang belum bisa lepas dari industri perfilman Indonesia.
"Nah itu dia ya. Sekarang masih berlaku any kinds of publication disebut promotion. Itu masih sih," ucap Eric.
Kondisi itu sejatinya juga tercatat dalam penelitian bertajuk The Effects of Critics Reviews on Movie Demand dari Jose Ignacio Azuela-Flores, Victor Fernandez-Blanco, dan Maria Jose Sanzo-Perez yang terbit dalam jurnal Contaduría y Administración, Vol. 57, No. 2, April-Juni 2012.
Berdasarkan survei yang berlangsung pada 2002-2003 dan melibatkan 12.180 individu di atas usia 15 tahun yang memiliki konsumsi kebudayaan seperti film dan pertunjukan, tim peneliti menemukan bahwa ada hubungan antara ulasan dengan minat penonton.
"Review film bukan hanya mengurangi 10,5 persen kemungkinan penonton meninggalkan film tersebut, tetapi juga meningkatkan 1,4 persen peluang kehadiran setidaknya sekali dalam sepekan," tulis mereka.
"Berdasarkan hasil penelitian kami, apapun hasil ulasannya, baik positif dan negatif, ketika calon penonton semakin banyak membaca kritik, semakin berminat mereka untuk ke bioskop (menonton film)," lanjutnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Nasib penjualan tiket sebuah film tak hanya dipengaruhi jalan cerita yang menarik, para bintang ternama, serta nama besar sutradara, dan didukung strategi pemasaran yang baik.
Ulasan atau review film sederhana hingga kritik pedas dinilai sejumlah pihak turut memengaruhi niatan calon penonton, yang kemudian berdampak pada penjualan tiket film. Bisa melonjak karena rasa penasaran atau stagnan karena kehilangan rasa ingin menonton.
Beberapa film Hollywood bisa menjadi contoh nyata bahwa rendahnya skor ulasan sama sekali tidak memengaruhi pendapatan box office. Film-film tersebut tetap berhasil meraup ratusan juta dolar dari box office global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebut saja Batman v Superman: Dawn of Justice yang dirilis pada 2016. Film garapan Sutradara Zack Snyder ini mendapatkan skor kritikus di laman agregator Rotten Tomatoes hanya 29 persen. Itu menjadi skor tomatometer terendah di antara film-film superhero lain yang ia garap.
Namun, film yang dibuat dengan bujet perkiraan US$250 juta-US$300 juta tersebut berhasil meraup US$873,6 juta dari box office global.
"Terus terang belakangan katanya konon cukup besar (pengaruh kritik terhadap penjualan), saya sendiri tidak punya data yang pasti," kata Kritikus film Eric Sasono kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
"Tapi ada filmmaker yang membagikan datanya kepada saya bahwa ulasan-ulasan di YouTube dan podcast itu cukup lumayan besar pengaruhnya terhadap proses menentukan apakah mau menonton atau tidak," ucapnya.
Pandangan lain disampaikan cendekiawan seni sekaligus Ketua Akademi Jakarta, Seno Gumira Ajidarma. Menurutnya, kritik tidak memengaruhi penjualan tiket sebuah film. Beberapa hal mendasari pandangan tersebut, salah satunya adalah basis penggemar.
Ia pun mencontohkan film Eat Pray Love yang dirilis pada 2010. Berdasarkan Rotten Tomatoes, film itu mendapatkan 36 persen untuk skor tomatometer dari para kritikus serta 42 persen skor penonton.
Tak hanya itu, Eat Pray Love juga sempat mendapatkan kritik keras yang bertajuk Eat Pray Snooze. Film yang dibintangi Julia Roberts itu juga disebut sebagai Eat Snooze Sleep oleh Leila S. Chudori dalam ulasan filmnya yang dimuat dalam majalah Tempo 24 Oktober 2010.
"Ya misalkan penontonnya itu suka karena Julia Roberts. Apapun film yang dibintangi Julia Roberts mau bagus atau enggak yang penting Julia Roberts," kata Seno Gumira.
"Enggak penting siapa yang bikin, enggak penting juga kata kritikus, enggak penting menang awards atau enggak tapi penonton ini yang bilang gue suka titik," ucapnya.
Eat, Pray, Love (2010) mendapatkan kritik tajam dari kritikus tapi meraup cuan dari box office global. (Foto: Columbia Pictures via Imdb)
Berdasarkan data Box Office Mojo, Eat Pray Love dibuat dengan bujet US$60 juta dan mendapatkan US$204 juta dari box office global.
"Film-film kayak itu dibantai, tapi enggak ada artinya pembantaian itu karena tetap jadi box office," ucap Seno.
Seno menilai bukan kritik yang berhasil mengerek penjualan tiket film, melainkan perdebatan yang muncul di antara masyarakat terutama di media sosial sehingga memengaruhi calon penonton lainnya.
"Pendekatannya media sosial. Memang apa saja yang di media sosial itu selalu berdampak, ya orang jadi nonton. Itu tidak ada hubungan dengan bagus [atau] enggak filmnya," kata Seno.
lanjut ke sebelah..
Rasa Penasaran Kerek Penjualan Tiket Film
Eat, Pray, Love juga jadi contoh film yang dikritik tapi hit box office. Foto: Columbia Pictures via Imdb
Senada, akademisi film dari Institut Kesenian Jakarta, Satrio Pamungkas, berpendapat rasa penasaran akibat perdebatan adalah hal yang bisa memengaruhi penjualan film. Walau pada dasarnya, perdebatan itu muncul akibat kritik dan pujian terhadap film.
"Kritik itu bisa mendatangkan penonton, pujian juga bisa datangkan penonton. Jadi bukan karena kritiknya tapi kehebohannya dan buat orang penasaran. Iya karena heboh. Jadi menciptakan curiosity itu bekerja," kata Satrio.
Kondisi itu juga diungkapkan Nisa, pegawai swasta, sebagai salah satu penikmat film. Menurutnya, rasa penasarannya tumbuh akibat perdebatan antara kritik dan pujian yang beredar di media sosial.
Rasa penasaran itu yang kemudian mendorongnya menyaksikan film yang ramai diperdebatkan untuk membuktikan sendiri kebenarannya.
"Kalau emang akses untuk menontonnya mudah, kayaknya saya tonton karena kepo. Malah jadi penasaran karena dikritik begitu," ucap Nisa.
Namun, Raiy memiliki sikap berbeda. Sebagai penulis sekaligus penikmat film, Raiy mengatakan tidak tertarik untuk menyaksikan film yang viral diperdebatkan apabila bukan genre kesukaannya.
"Seviral apapun film itu di media sosial tapi bukan genre kesukaan, saya tidak akan tonton," ucap Raiy.
Kritikus film Eric Sasono menyatakan situasi perdebatan di media sosial yang kemudian memengaruhi niatan menonton seperti itu memang belum bisa lepas dari industri perfilman Indonesia.
"Nah itu dia ya. Sekarang masih berlaku any kinds of publication disebut promotion. Itu masih sih," ucap Eric.
Kondisi itu sejatinya juga tercatat dalam penelitian bertajuk The Effects of Critics Reviews on Movie Demand dari Jose Ignacio Azuela-Flores, Victor Fernandez-Blanco, dan Maria Jose Sanzo-Perez yang terbit dalam jurnal Contaduría y Administración, Vol. 57, No. 2, April-Juni 2012.
Berdasarkan survei yang berlangsung pada 2002-2003 dan melibatkan 12.180 individu di atas usia 15 tahun yang memiliki konsumsi kebudayaan seperti film dan pertunjukan, tim peneliti menemukan bahwa ada hubungan antara ulasan dengan minat penonton.
"Review film bukan hanya mengurangi 10,5 persen kemungkinan penonton meninggalkan film tersebut, tetapi juga meningkatkan 1,4 persen peluang kehadiran setidaknya sekali dalam sepekan," tulis mereka.
"Berdasarkan hasil penelitian kami, apapun hasil ulasannya, baik positif dan negatif, ketika calon penonton semakin banyak membaca kritik, semakin berminat mereka untuk ke bioskop (menonton film)," lanjutnya.