Asa Tim Produksi Singgung Impotensi di Film Seperti Dendam

Tim | CNN Indonesia
Kamis, 02 Dec 2021 20:40 WIB
Tim produksi mengisahkan keinginan membahas impotensi dan patriarki dalam film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas. Tim produksi mengisahkan keinginan membahas impotensi dan patriarki dalam film Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas. (Foto: Palari Films)
Jakarta, CNN Indonesia --

Impotensi menjadi salah satu isu yang disoroti film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Hal itu menjadi permasalahan yang dihadapi Ajo Kawir (Marthino Lio), karakter utama film itu.

Selain impotensi, film tersebut juga mengangkat isu sensitif lainnya, seperti toksik maskulinitas, kekerasan seksual, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Menurut Muhammad Zaidy produser Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, isu sensitif seperti impotensi masih jarang dibicarakan di Indonesia. Namun, bukan berarti isu tersebut harus dihindari.


"Itu sesuatu yang penting dibicarakan untuk melihat impotensi di Indonesia, budaya macho. Menurut saya pribadi, kita tidak lagi melihat itu sebagai sesuatu yang sensitif dan perlu kita hindari," ujar Muhammad Zaidy kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Produser lainnya, Meiske Taurisia juga mengatakan isu tersebut sebenarnya sudah ada dan terjadi sejak beberapa dekade lalu.

Sehingga, mereka selaku tim produksi kemudian mengemas isu-isu tersebut untuk film Seperti Dendam dengan latar waktu era '80-'90an.

"Lalu pertanyaannya apakah kita akan terus mempraktikkan budaya-budaya itu? Untuk apa sih dipertahankan? Untuk kebanggaan atau untuk sebuah pertunjukan kekuasaan kah?" ujar Meiske Taurisia.

"Dari situ, akan muncul pertanyaan lain apakah budaya toksik maskulinitas itu akan dibiarkan?" lanjutnya.

Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas digarap sutradara Edwin dan menjadi hasil diadaptasi novel bertajuk sama karya Eka Kurniawan.

Ide untuk mengadaptasi novel menjadi film ini bermula dari Edwin lima tahun lalu. Ide itu kemudian disampaikan kepada produser dan mereka langsung tertarik usai membaca novel tersebut.

Sutradara dan produser akhirnya sepakat untuk mengadaptasi novel Eka Kurniawan menjadi film karena novel tersebut dinilai spesial dan kaya visual. Selain itu, novel ini juga banyak menyinggung isu sosial-politik.

"Jadi saya rasa buku ini sangat unik bahkan hampir dibilang tidak ada duanya. Saya dan mungkin pembaca lain juga merasa sayang kalau ceritanya dilewatkan. Makanya, kami adaptasi menjadi sebuah film," ujar Muhammad Zaidy.

Sejak awal, Edwin sudah dipilih sebagai sutradara yang menggarap film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Hal ini bukan hanya karena Edwin yang memiliki ide awal, tetapi juga karena gaya film ini cocok dengan sutradara kelahiran 1978 itu.

Sebelum diputar Indonesia, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas telah melanglang buana di dunia internasional. Film itu tayang perdana di Festival Film Locarno 2021 dan mendapatkan Golden Leopard, penghargaan tertinggi di festival itu.

Film itu juga telah tayang di Festival Film Toronto 2021 dan juga menjadi pembuka Festival Film Internasional Singapura pada 25 November 2021.

Kini, film tersebut bisa disaksikan penonton di Indonesia. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas tayang di bioskop Indonesia mulai 2 Desember 2021.





(fby/chri)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER