'Virus' yang Membangkitkan Zombi ala Korea di Depan Kamera
CNN Indonesia
Sabtu, 05 Feb 2022 11:10 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Koreografer blak-blakan mengenai cara membangkitkan zombi Korea di depan kamera. (Foto: Contents Panda via KOBIZ)
Jakarta, CNN Indonesia --
ZombiKorea Selatan menarik perhatian penonton global beberapa tahun terakhir. Train to Busan menjadi titik balik kesuksesan Korea Selatan memukau dunia setelah berkali-kali gagal menawarkan kisah zombi, termasuk di 'rumah sendiri'.
Zombi dalam Train to Busan benar-benar agresif, mengancam seluruh penumpang kereta tanpa pandang bulu. Namun, perjalanan panjang dan riset mendalam diperlukan untuk bisa membangkitkan zombi dengan sempurna.
Movement director Jeon Young mengatakan zombi dalam Train to Busan bisa 'bangkit' dengan baik setelah mempelajari banyak gerakan binatang dengan rabies serta humanoid dalam film Ghost in the Shell 2: Innocence (2004).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Salah satu karakteristik menakjubkan dari zombi Train to Busan adalah mata dan wajah mereka tertuju pada target bahkan ketika menabrak rintangan," kata Jeon Young seperti diberitakan Korea Herald beberapa waktu lalu.
Jeon Young juga mengatakan hal tersebut terinspirasi dari gim Dark Soul.
Keagresifan zombi tersebut memukau penonton lokal dan global. Train to Busan menjadi film terlaris di Korea Selatan pada 2016 dengan penjualan 11.567.662 tiket, berdasarkan Dewan Perfilman Korea.
Sementara secara keseluruhan, film yang dibuat dengan bujet sekitar US$8,5 juta itu berhasil mengumpulkan US$98,5 juta dari box office global.
Jeon Young menilai gerakan manusia selama ini cenderung memiliki ritme, pola, dan aliran tertentu. Oleh sebab itu, ia yang juga berprofesi sebagai koreografer tersebut bersama tim mencoba memecah ritme tersebut demi 'membangkitkan' mayat hidup di depan kamera.
Walau sukses dengan Train to Busan, ia merasa zombi terus berevolusi. Semakin banyak hal dipelajari demi menghadirkan zombi yang terus lebih baik. Jeon Young juga terlibat dalam serial Kingdom dan Happiness, kemudian Peninsula dan The Cursed: Dead Man's Prey.
"Mengembangkan gerakan, mempelajari berbagai elemen, termasuk rabies, sleepwalking, robot, dan dehidrasi," tuturnya.
Lanjut ke sebelah...
Make-Up
Selain koreografi, tata rias juga menjadi salah satu poin utama demi menampilkan zombi yang terlihat riil di layar kaca. Sejumlah persiapan detail dilakukan tim All of Us Are Dead untuk hal tersebut.
Sutradara Lee Jae-kyoo ingin menampilkan sesuatu yang baru lewat All of Us Are Dead. Serial tersebut fokus pada remaja SMA dan menghadirkan kesedihan menyaksikan teman-teman mereka perlahan berubah jadi zombi.
Terlebih lagi, semua orang yang terinfeksi tak langsung berubah menjadi zombi. Mereka akan melalui beberapa tahapan baik secara fisik maupun emosi sebelum benar-benar berubah menjadi mayat hidup pengonsumsi darah.
Penata rias All of Us Are Dead Pee Dae-sung mengatakan Sutradara Lee Jae-kyoo berharap banyak zombi bisa ditampilkan dengan beragam tata rias dalam drama tersebut.
Hal itu dikonfirmasi Sutradara Lee Jae-kyoo dengan mengatakan bentuk baru zombi akan muncul akibat sistem imun spesial dari para pelajar.
"Pada episode awal, warna dan tekstur kulit zombi tidak jauh berbeda dari yang tidak terinfeksi. Tapi wajah mereka mulai hancur ketika kulit warna berubah drastis," kata Lee Jae-kyoo.
"Banyak aktor berusia 60-an yang diikutsertakan dalam aksi zombi. Berlatih, termasuk merangkak dilakukan sekitar tiga hingga empat bulan. Banyak zombi menarik muncul untuk menghibur penonton," tuturnya.
Pernyataan Lee Jae-kyoo mengindikasikan evolusi zombi Korea belum berakhir. Tak hanya itu, zombi Korea Selatan kini seolah sudah memiliki basis penggemar yang selalu menantikan keagresifan mereka di layar kaca dan lebar.
ZombiKorea Selatan menarik perhatian penonton global beberapa tahun terakhir. Train to Busan menjadi titik balik kesuksesan Korea Selatan memukau dunia setelah berkali-kali gagal menawarkan kisah zombi, termasuk di 'rumah sendiri'.
Zombi dalam Train to Busan benar-benar agresif, mengancam seluruh penumpang kereta tanpa pandang bulu. Namun, perjalanan panjang dan riset mendalam diperlukan untuk bisa membangkitkan zombi dengan sempurna.
Movement director Jeon Young mengatakan zombi dalam Train to Busan bisa 'bangkit' dengan baik setelah mempelajari banyak gerakan binatang dengan rabies serta humanoid dalam film Ghost in the Shell 2: Innocence (2004).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Salah satu karakteristik menakjubkan dari zombi Train to Busan adalah mata dan wajah mereka tertuju pada target bahkan ketika menabrak rintangan," kata Jeon Young seperti diberitakan Korea Herald beberapa waktu lalu.
Jeon Young juga mengatakan hal tersebut terinspirasi dari gim Dark Soul.
Keagresifan zombi tersebut memukau penonton lokal dan global. Train to Busan menjadi film terlaris di Korea Selatan pada 2016 dengan penjualan 11.567.662 tiket, berdasarkan Dewan Perfilman Korea.
Sementara secara keseluruhan, film yang dibuat dengan bujet sekitar US$8,5 juta itu berhasil mengumpulkan US$98,5 juta dari box office global.
Jeon Young menilai gerakan manusia selama ini cenderung memiliki ritme, pola, dan aliran tertentu. Oleh sebab itu, ia yang juga berprofesi sebagai koreografer tersebut bersama tim mencoba memecah ritme tersebut demi 'membangkitkan' mayat hidup di depan kamera.
Walau sukses dengan Train to Busan, ia merasa zombi terus berevolusi. Semakin banyak hal dipelajari demi menghadirkan zombi yang terus lebih baik. Jeon Young juga terlibat dalam serial Kingdom dan Happiness, kemudian Peninsula dan The Cursed: Dead Man's Prey.
"Mengembangkan gerakan, mempelajari berbagai elemen, termasuk rabies, sleepwalking, robot, dan dehidrasi," tuturnya.
Lanjut ke sebelah...
Jalan Panjang Kru 'Bangkitkan' Zombi Korea di Depan Kamera
Koreografer blak-blakan mengenai cara membangkitkan zombi Korea di depan kamera. Foto: (Arsip Netflix via @netflixkr)
Make-Up
Selain koreografi, tata rias juga menjadi salah satu poin utama demi menampilkan zombi yang terlihat riil di layar kaca. Sejumlah persiapan detail dilakukan tim All of Us Are Dead untuk hal tersebut.
Sutradara Lee Jae-kyoo ingin menampilkan sesuatu yang baru lewat All of Us Are Dead. Serial tersebut fokus pada remaja SMA dan menghadirkan kesedihan menyaksikan teman-teman mereka perlahan berubah jadi zombi.
Terlebih lagi, semua orang yang terinfeksi tak langsung berubah menjadi zombi. Mereka akan melalui beberapa tahapan baik secara fisik maupun emosi sebelum benar-benar berubah menjadi mayat hidup pengonsumsi darah.
Penata rias All of Us Are Dead Pee Dae-sung mengatakan Sutradara Lee Jae-kyoo berharap banyak zombi bisa ditampilkan dengan beragam tata rias dalam drama tersebut.
Hal itu dikonfirmasi Sutradara Lee Jae-kyoo dengan mengatakan bentuk baru zombi akan muncul akibat sistem imun spesial dari para pelajar.
"Pada episode awal, warna dan tekstur kulit zombi tidak jauh berbeda dari yang tidak terinfeksi. Tapi wajah mereka mulai hancur ketika kulit warna berubah drastis," kata Lee Jae-kyoo.
"Banyak aktor berusia 60-an yang diikutsertakan dalam aksi zombi. Berlatih, termasuk merangkak dilakukan sekitar tiga hingga empat bulan. Banyak zombi menarik muncul untuk menghibur penonton," tuturnya.
Pernyataan Lee Jae-kyoo mengindikasikan evolusi zombi Korea belum berakhir. Tak hanya itu, zombi Korea Selatan kini seolah sudah memiliki basis penggemar yang selalu menantikan keagresifan mereka di layar kaca dan lebar.