Sarwendah Ungkap Kronologi Kena Kista di Batang Otak
Sarwendah kemudian menjelaskan bahwa penyakit yang ia idap termasuk langka. Jika tenaga medis berupaya untuk mengangkat kista tersebut, kata Sarwendah, ada kemungkinan kondisi penderita dapat menjadi semakin parah bahkan sampai meninggal.
Itu risiko yang mesti dihadapi Sarwendah karena letak kista yang berada di bagian batang otak yang merupakan pusat keseimbangan tubuh manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau tindakan di batang otak itu kemungkinan adalah 50:50. Mungkin kalau orang operasi usus buntu ya pasti udah operasi udah aman," tutur Sarwendah.
"Kalau ini kemungkinan 50:50. Itu artinya, satu, mungkin bisa meninggal. Yang satu lagi ya mungkin bisa cacat, yang satu bisa sembuh," jelasnya melanjutkan.
Meski ia tahu risikonya, Sarwendah tetap memilih untuk menjalani operasi agar dapat mengendalikan kista yang ada di batang otaknya. Bahkan setelah operasi, Sarwendah mengatakan kista tersebut bakal masih ada dan masih harus diobservasi dokter selama 3-6 bulan.
"Ini 'kan baru satu bulan, jadi kata dokter observasi dulu. Jadi 6 bulan kemudian atau 3-6 bulan kemudian baru kita cek lagi apakah itu membesar. Atau kalau dia cuma di situ aja dan dia tidak mengganggu, tidak membesar, ya diam aja," imbuh Sarwendah.
Sebulan setelah operasi tersebut, Sarwendah mengungkapkan bahwa ia sudah melakukan MRI kedua untuk memastikan kista yang ada di batang otaknya tidak membesar.
"Kemarin udah MRI lagi. Jadi, MRI pertama sama kedua itu kan baru jelang sebulan, ya itu enggak ada membesar. Ya berdoa semoga dia enggak membesar atau mungkin makin mengecil gitu," tutup Sarwendah.
Lihat Juga : |
Sarwendah mengungkap bahwa ia mengidap penyakit langka di bagian batang otak. Bagian batang otak Sarwendah itu terdapat kista yang membuat tulang lehernya sedikit miring ke depan.
Istri dari Ruben Onsu itu menceritakan kepada Raffi Ahmad dan Irfan Hakim bagaimana ia mulai mengalami sakit kepala migrain yang berkepanjangan sejak 2017. Hal itu sering terjadi secara tiba-tiba tanpa ada gejala tertentu.
"Jadi itu karena aku migran terus, jadi setelah aku flashback-flashback itu udah dari tahun 2017. Jadi tahun 2017 itu aku udah mulai cek-cek yang kepala, EEG atau apa pun gitu," ungkap Sarwendah dalam acara FYP Trans 7, Selasa (9/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di sini [belakang leher kepala] tuh aku pusing banget gitu. Pusingnya itu dia datang dan perginya kayak jelangkung, enggak dijemput enggak diantar gitu." tambahnya.
Saat itu, Sarwendah baru beberapa kali melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit. Namun, lama-kelamaan sakit kepalanya semakin parah.
Ia sempat ingin melakukan scan MRI (Magnetic Resonance Imaging), tapi kata Sarwendah, dokter menyarankan agar sebaiknya ia periksa tulang lehernya terlebih dahulu.
"Namanya pasien pasti nurutin dokter 'kan, ternyata emang tulang leher aku ke depan. Maksudnya, 'kan tulang leher manusia mestinya begini nih [tegak lurus] aku rada begini [bengkok ke depan]," ungkap Sarwendah.
"Dan, banyak sebenarnya orang yang kayak gini, karena 'kan sering lihat handphone atau pakai bantal yang tinggi gitu. Iya, itu ngefek," lanjutnya.
Akhirnya, Sarwendah memutuskan untuk melakukan scan MRI. Setelah mengetahui sumber penyakit memang berasal dari kista batang otak, ia diberi opsi menjalani operasi.
Saat itu, Ruben Onsu sedang melakukan perjalanan ke Singapura bersama Raffi Ahmad. Ruben Onsu disebut tidak tahu Sarwendah pergi ke rumah sakit. Ia pun mengetahui istrinya menjalani operasi batang otak saat berada di luar negeri.
"Itu aku malamnya masuk rumah sakit," kata Sarwendah.
"Nah itu kabarnya, si Wendah masuk rumah sakit... Bensu dalam kamar terus, dikabarin katanya Wendah sakit," ungkap Raffi Ahmad.
"Jadi, aku tuh masuk hari itu check up dulu, MRI dulu, besoknya baru aku ada tindakan operasi 'kan jadi mereka tunggu aku tindakan, tunggu aku sadar baru aku dikasih tahu," ucap Sarwendah.
Lanjut ke sebelah...
Risiko yang Dihadapi Sarwendah
Sarwendah mengungkap bahwa ia mengidap penyakit kista di bagian batang otak sehingga membuat tulang lehernya sedikit miring ke depan. (Foto: Detikcom/Mustiana Lestari)
Sarwendah kemudian menjelaskan bahwa penyakit yang ia idap termasuk langka. Jika tenaga medis berupaya untuk mengangkat kista tersebut, kata Sarwendah, ada kemungkinan kondisi penderita dapat menjadi semakin parah bahkan sampai meninggal.
Itu risiko yang mesti dihadapi Sarwendah karena letak kista yang berada di bagian batang otak yang merupakan pusat keseimbangan tubuh manusia.
"Kalau tindakan di batang otak itu kemungkinan adalah 50:50. Mungkin kalau orang operasi usus buntu ya pasti udah operasi udah aman," tutur Sarwendah.
"Kalau ini kemungkinan 50:50. Itu artinya, satu, mungkin bisa meninggal. Yang satu lagi ya mungkin bisa cacat, yang satu bisa sembuh," jelasnya melanjutkan.
Meski ia tahu risikonya, Sarwendah tetap memilih untuk menjalani operasi agar dapat mengendalikan kista yang ada di batang otaknya. Bahkan setelah operasi, Sarwendah mengatakan kista tersebut bakal masih ada dan masih harus diobservasi dokter selama 3-6 bulan.
"Ini 'kan baru satu bulan, jadi kata dokter observasi dulu. Jadi 6 bulan kemudian atau 3-6 bulan kemudian baru kita cek lagi apakah itu membesar. Atau kalau dia cuma di situ aja dan dia tidak mengganggu, tidak membesar, ya diam aja," imbuh Sarwendah.
Sebulan setelah operasi tersebut, Sarwendah mengungkapkan bahwa ia sudah melakukan MRI kedua untuk memastikan kista yang ada di batang otaknya tidak membesar.
"Kemarin udah MRI lagi. Jadi, MRI pertama sama kedua itu kan baru jelang sebulan, ya itu enggak ada membesar. Ya berdoa semoga dia enggak membesar atau mungkin makin mengecil gitu," tutup Sarwendah.
Lihat Juga : |


