Review film Noktah Merah Perkawinan: meski masih dengan kisah tak beda dengan versi sinetron, versi film ini bisa menyajikannya dengan lebih indah. (dok. Rapi Films via YouTube)
Endro Priherdityo
4
Meski masih dengan kisah tak beda dengan versi sinetron, versi film Noktah Merah Perkawinan bisa menyajikannya dengan lebih indah.
Jakarta, CNN Indonesia --
Memang Noktah Merah Perkawinan merupakan hasil adaptasi dari sinetron era '90-an, tapi sutradara Sabrina Rochelle Kalangie mampu mengambil kisah itu dan mengemas ulang menjadi sesuatu yang baru dan indah.
Walau konflik yang ditampilkan bisa dibilang tak berbeda dengan versi sinetron, yakni permasalahan antara pasangan suami-istri, versi remake ini sangat realistis dan relevan dengan saat ini, baik dari segi watak maupun tingkah laku dalam setiap adegan.
Menonton Noktah Merah Perkawinan pun bukan hanya melihat bagaimana Marsha Timothy sebagai Ambar dan Oka Antara sebagai Gilang bertengkar, tetapi memahami bagaimana sebuah rumah tangga menghadapi berbagai badai yang menerpa.
Badai itupun bisa terjadi dari banyak faktor, baik internal ataupun eksternal, serta bagaimana penonton melihat celah yang membuat kapal sebuah perkawinan bisa terancam karam.
Misalnya, bagaimana ketika perbedaan sikap pasangan dalam menghadapi masalah yang datang, apakah sikap tersebut membantu menyelesaikan masalah atau justru bikin makin ruwet dan membara.
Namun yang membuat kisah Noktah Merah Perkawinan versi film ini menjadi lebih relevan dengan dunia nyata adalah, bagaimana Sabrina bersama penulis Titien Wattimena menggambarkan para karakternya.
Sabrina dan Titien tak membuat salah satu karakter sebagai korban dengan yang lainnya sebagai 'orang jahat'. Tak ada yang benar-benar jadi 'orang jahat' dalam film ini. Pasangan utama dalam film ini sungguh digambarkan sebagai dua orang yang saling memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti manusia biasa pada umumnya.
Review film: Noktah Merah Perkawinan bukan hanya melihat bagaimana Marsha Timothy sebagai Ambar dan Oka Antara sebagai Gilang bertengkar. (dok. Rapi Films via YouTube)
Sementara dengan kehadiran orang ketiga yang biasanya jadi bumbu gurih dalam balutan stereotipe yang sudah 'pakem' dalam sinetron, justru ditampilkan berbeda dalam Noktah Merah Perkawinan versi layar lebar ini.
Sabrina dan Titien tidak menghakimi Yulinar (Sheila Dara Aisha) mutlak sebagai pengganggu rumah tangga Ambar dan Gilang. Justru, Sabrina dan Titien menggambarkan bagaimana Yuli menjadi tempat singgah yang tenang bagi Gilang di tengah perkawinannya yang penuh badai.
Sabrina dan Titien memberikan sudut pandang yang humanis akan sosok orang ketiga, ketika rasa cinta yang fitrah bagi seorang manusia justru tumbuh untuk seseorang yang sudah mengikat janji suci dengan orang lain.
Apakah Yuli sebagai orang di luar perkawinan Ambar dan Gilang tidak boleh mencintai pria itu hanya karena dirinya 'datang lebih lambat' dari Ambar? Apakah Yuli kemudian menjadi yang tersalah ketika bisa memberikan hal yang Gilang rasakan hilang dari Ambar?
Lanjut ke sebelah...
Segala pertanyaan humanis itu yang kemudian membuat sosok Yuli tidak patut memiliki nasib sebagai "pelakor" yang sering dihujat seperti yang kebanyakan dilakukan netizen Indonesia di media sosial.
Dengan kata lain, Sabrina dan Titien mempertanyakan stereotipe antagonis pada "orang ketiga" yang sudah kadung tertanam melekat dalam benak masyarakat. Apakah orang ketiga menjadi satu-satunya yang bersalah dalam kasus perselingkuhan?
Titik puncak film ini berada dalam adegan ketika Ambar dan Gilang bertengkar di dapur atau yang dikenal dengan adegan 'tampar mas, tampar!'. Konstruksi adegan ini mengingatkan pada adegan serupa dalam Marriage Story (2019) saat semua emosi dan konflik pecah dan meluber.
Pertengkaran itu kemudian dibuat semakin sengit dengan penggunaan kamera yang shaky dan meningkatkan intensitas dan ketegangan adegan tersebut. Jelas, segala emosi itupun gagal membuat penonton duduk anteng di atas kursi.
Selain itu, Sabrina dan Titien kaya menyelipkan simbolisasi dan pesan ironi. Misalnya saja, Ambar yang suka membuat keramik yang rapuh seperti rumah tangganya. Atau dengan Gilang yang lihai membuat taman indah tapi tidak dengan rumah tangganya.
Namun satu hal yang sukses membuat saya menangis, yaitu ketika pada akhirnya, pasangan yang bertikai pun tak selalu berarti saling membenci. Bisa jadi, segala pertikaian dan perpisahan adalah hanya salah satu bahasa untuk menyatakan "saya masih dan akan selalu mencintaimu".
Secara keseluruhan, pesan Noktah Merah Perkawinan bisa beresonansi dengan baik berkat cara penyampaiannya. Mungkin bila dibuat sama persis dengan sinetronnya, pesan itu tak akan berdampak sama.
Namun versi layar lebar ini jelas mampu mengangkat kisah perkawinan yang personal, emosional, sudut pandang baru, dan yang jelas adalah dialami oleh masyarakat pada umumnya.
Jakarta, CNN Indonesia --
Memang Noktah Merah Perkawinan merupakan hasil adaptasi dari sinetron era '90-an, tapi sutradara Sabrina Rochelle Kalangie mampu mengambil kisah itu dan mengemas ulang menjadi sesuatu yang baru dan indah.
Walau konflik yang ditampilkan bisa dibilang tak berbeda dengan versi sinetron, yakni permasalahan antara pasangan suami-istri, versi remake ini sangat realistis dan relevan dengan saat ini, baik dari segi watak maupun tingkah laku dalam setiap adegan.
Menonton Noktah Merah Perkawinan pun bukan hanya melihat bagaimana Marsha Timothy sebagai Ambar dan Oka Antara sebagai Gilang bertengkar, tetapi memahami bagaimana sebuah rumah tangga menghadapi berbagai badai yang menerpa.
Badai itupun bisa terjadi dari banyak faktor, baik internal ataupun eksternal, serta bagaimana penonton melihat celah yang membuat kapal sebuah perkawinan bisa terancam karam.
Misalnya, bagaimana ketika perbedaan sikap pasangan dalam menghadapi masalah yang datang, apakah sikap tersebut membantu menyelesaikan masalah atau justru bikin makin ruwet dan membara.
Namun yang membuat kisah Noktah Merah Perkawinan versi film ini menjadi lebih relevan dengan dunia nyata adalah, bagaimana Sabrina bersama penulis Titien Wattimena menggambarkan para karakternya.
Sabrina dan Titien tak membuat salah satu karakter sebagai korban dengan yang lainnya sebagai 'orang jahat'. Tak ada yang benar-benar jadi 'orang jahat' dalam film ini. Pasangan utama dalam film ini sungguh digambarkan sebagai dua orang yang saling memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti manusia biasa pada umumnya.
Review film: Noktah Merah Perkawinan bukan hanya melihat bagaimana Marsha Timothy sebagai Ambar dan Oka Antara sebagai Gilang bertengkar. (dok. Rapi Films via YouTube)
Sementara dengan kehadiran orang ketiga yang biasanya jadi bumbu gurih dalam balutan stereotipe yang sudah 'pakem' dalam sinetron, justru ditampilkan berbeda dalam Noktah Merah Perkawinan versi layar lebar ini.
Sabrina dan Titien tidak menghakimi Yulinar (Sheila Dara Aisha) mutlak sebagai pengganggu rumah tangga Ambar dan Gilang. Justru, Sabrina dan Titien menggambarkan bagaimana Yuli menjadi tempat singgah yang tenang bagi Gilang di tengah perkawinannya yang penuh badai.
Sabrina dan Titien memberikan sudut pandang yang humanis akan sosok orang ketiga, ketika rasa cinta yang fitrah bagi seorang manusia justru tumbuh untuk seseorang yang sudah mengikat janji suci dengan orang lain.
Apakah Yuli sebagai orang di luar perkawinan Ambar dan Gilang tidak boleh mencintai pria itu hanya karena dirinya 'datang lebih lambat' dari Ambar? Apakah Yuli kemudian menjadi yang tersalah ketika bisa memberikan hal yang Gilang rasakan hilang dari Ambar?
Lanjut ke sebelah...
Review Film: Noktah Merah Perkawinan
Review film Noktah Merah Perkawinan: meski masih dengan kisah tak beda dengan versi sinetron, versi film ini bisa menyajikannya dengan lebih indah. (dok. Rapi Films via YouTube)
Segala pertanyaan humanis itu yang kemudian membuat sosok Yuli tidak patut memiliki nasib sebagai "pelakor" yang sering dihujat seperti yang kebanyakan dilakukan netizen Indonesia di media sosial.
Dengan kata lain, Sabrina dan Titien mempertanyakan stereotipe antagonis pada "orang ketiga" yang sudah kadung tertanam melekat dalam benak masyarakat. Apakah orang ketiga menjadi satu-satunya yang bersalah dalam kasus perselingkuhan?
Titik puncak film ini berada dalam adegan ketika Ambar dan Gilang bertengkar di dapur atau yang dikenal dengan adegan 'tampar mas, tampar!'. Konstruksi adegan ini mengingatkan pada adegan serupa dalam Marriage Story (2019) saat semua emosi dan konflik pecah dan meluber.
Pertengkaran itu kemudian dibuat semakin sengit dengan penggunaan kamera yang shaky dan meningkatkan intensitas dan ketegangan adegan tersebut. Jelas, segala emosi itupun gagal membuat penonton duduk anteng di atas kursi.
Selain itu, Sabrina dan Titien kaya menyelipkan simbolisasi dan pesan ironi. Misalnya saja, Ambar yang suka membuat keramik yang rapuh seperti rumah tangganya. Atau dengan Gilang yang lihai membuat taman indah tapi tidak dengan rumah tangganya.
Namun satu hal yang sukses membuat saya menangis, yaitu ketika pada akhirnya, pasangan yang bertikai pun tak selalu berarti saling membenci. Bisa jadi, segala pertikaian dan perpisahan adalah hanya salah satu bahasa untuk menyatakan "saya masih dan akan selalu mencintaimu".
Secara keseluruhan, pesan Noktah Merah Perkawinan bisa beresonansi dengan baik berkat cara penyampaiannya. Mungkin bila dibuat sama persis dengan sinetronnya, pesan itu tak akan berdampak sama.
Namun versi layar lebar ini jelas mampu mengangkat kisah perkawinan yang personal, emosional, sudut pandang baru, dan yang jelas adalah dialami oleh masyarakat pada umumnya.