Review film Elemental: film ini mungkin tak sehebat karya Pixar yang melegenda, tapi tetap meninggalkan hangat di hati. (Pixar)
3
Banyak hal yang dirasa kurang dibangun oleh sutradara, tapi film Elemental ini masih sangat layak disebut sebagai "film Pixar".
Jakarta, CNN Indonesia --
Elemental: Forces of Nature mungkin tidak sehebat karya animasi Pixar yang melegenda. Namun, imajinasi Peter Sohn tentang makhluk berbagai elemen itu tetap mampu meninggalkan kehangatan yang membekas di hati.
Elemental berusaha menawarkan tontonan ringan yang mudah dicerna sejak cerita dimulai. Sebagai sutradara, Peter Sohn langsung menjelaskan kehidupan elemen air, tanah, udara, dan api di Element City.
Penjelasan yang digambarkan lewat kaca mata Ember si makhluk api itu pun mudah nyetel dalam pikiran. Sebab, Sohn terlihat berusaha menjaga agar cara kerja makhluk dari setiap elemen itu tetap akurat dengan hukum alam di dunia nyata.
Seperti udara dengan sifat aslinya yang dapat berubah bentuk menyesuaikan ruangan, makhluk air yang cair dan fleksibel, hingga tanah yang bisa menjadi medium tanaman tumbuh ketika sudah tua.
Sifat alamiah itu juga yang tampak menjadi alasan Sohn menciptakan Ember, sang elemen api, sebagai karakter utama. Ia mengeksplorasi api sebagai elemen yang dijauhi karena dianggap berbahaya secara hukum alam.
Review film Elemental: film ini mungkin tak sehebat karya Pixar yang melegenda, tapi tetap meninggalkan hangat di hati. (Pixar)
Premis tersebut kemudian berkembang menjadi masalah sosial dengan Ember dan keluarga sebagai poros cerita. Ingatan saya langsung tertuju kepada cerita Peter Sohn tentang ide di balik Elemental.
Dalam sejumlah kesempatan, ia mengatakan karya ini diangkat dari pengalamannya sebagai imigran Korea di Amerika Serikat. Inspirasi itu pun membantu imajinasi luas Sohn tentang semesta elemen tetap terasa dekat dan relevan bagi banyak orang.
Ia menerjemahkan api sebagai perwujudan imigran yang susah payah bertahan hidup di tempat baru, berhadapan dengan kelompok mapan, hingga punya sentimen negatif terhadap elemen tertentu.
Elemental: Forces of Nature juga tidak luput membawa nyawa Pixar yang berkutat dengan tema pencarian jati diri serta berkembang menjadi lebih baik. Usaha tersebut terlihat jelas dari jerih payah Ember mengakhiri benturan budaya serta tuntutan antargenerasi.
Perjalanan Ember itu membuktikan di balik isu imigran dan toleransi antarkelompok yang diangkat, ada asa setiap individu yang layak diperjuangkan.
Elemental juga menyuguhkan warna cerita khas Pixar yang selalu melibatkan peran teman hingga keluarga dalam petualangan sang karakter utama. Dalam hal ini, Ember punya Wade si makhluk air serta orang tuanya, Bernie dan Cinder.
Peter Sohn, bagi saya, tetap berhasil meramu cerita yang autentik dengan formula berusia puluhan tahun tersebut.
Lanjut ke sebelah...
Keberhasilan itu juga membuktikan keunggulan animasi sebagai medium yang menawarkan kesempatan bagi kreator untuk mengeksplorasi imajinasi hingga tanpa batas.
Di sisi lain, aspek visual yang disajikan juga memperkaya pengalaman saya selama menonton Elemental: Forces of Nature. Komposisi warna yang disuguhkan memukau dan cukup memerhatikan detail.
Element City yang dibangun sebagai kota tempat tinggal elemen-elemen itu penuh warna tanpa perlu mencolok mata. Animator yang bekerja di balik film ini juga cukup jeli dalam memanfaatkan hukum alam sebagai bagian cerita.
Seperti ketika Wade menciptakan pelangi dari cipratan air yang terpapar sinar matahari hingga Ember yang bisa meleburkan pecahan kaca dan mendaur ulang menjadi barang baru.
Meski demikian, ada beberapa aspek yang mengganjal dari Elemental: Forces of Nature. Keputusan Peter Sohn yang memusatkan cerita kepada Ember dan Wade mau tak mau membuat elemen tanah dan udara seperti anak tiri.
Review film Elemental: aspek visual yang disajikan juga memperkaya pengalaman selama menonton Elemental: Forces of Nature. (Pixar)
Ia tak menggali lebih dalam kedua elemen itu, bahkan seolah hanya seperti pelengkap cerita. Karakter tanah dan udara rasanya cukup bisa dihitung jari, apalagi yang mendapat jatah dialog.
Mereka justru lebih banyak muncul sebagai umpan untuk adegan komedi yang dilontarkan berulang kali. Untung saja rentetan adegan tersebut benar-benar lucu dan menghibur banyak orang.
Selain itu, desain kota Element City yang diciptakan sang sutradara juga masih bisa dieksplorasi lagi. Ada banyak sistem tata kota yang terabaikan sehingga meninggalkan tanda tanya.
Sohn juga tidak menawarkan pemahaman yang jelas tentang aturan sosial kota itu, meski pada awal cerita sudah dijelaskan cara kerja setiap elemen di Element City.
Keputusan tersebut mungkin dibuat agar penonton lebih fokus dengan cerita Ember dan Wade. Namun, saya pikir tidak masalah jika penonton diajak melihat Element City lebih dekat mengingat durasi film ini baru berdurasi 109 menit.
Namun, catatan tersebut pada akhirnya tak mengurangi kepuasan saya selama menonton Elemental: Forces of Nature. Sama seperti karya Pixar lainnya, film ini tepat untuk ditonton dengan siapa pun, termasuk jika hanya dengan diri sendiri.
Elemental: Forces of Nature mungkin tidak sehebat karya animasi Pixar yang melegenda. Namun, imajinasi Peter Sohn tentang makhluk berbagai elemen itu tetap mampu meninggalkan kehangatan yang membekas di hati.
Elemental berusaha menawarkan tontonan ringan yang mudah dicerna sejak cerita dimulai. Sebagai sutradara, Peter Sohn langsung menjelaskan kehidupan elemen air, tanah, udara, dan api di Element City.
Penjelasan yang digambarkan lewat kaca mata Ember si makhluk api itu pun mudah nyetel dalam pikiran. Sebab, Sohn terlihat berusaha menjaga agar cara kerja makhluk dari setiap elemen itu tetap akurat dengan hukum alam di dunia nyata.
Seperti udara dengan sifat aslinya yang dapat berubah bentuk menyesuaikan ruangan, makhluk air yang cair dan fleksibel, hingga tanah yang bisa menjadi medium tanaman tumbuh ketika sudah tua.
Sifat alamiah itu juga yang tampak menjadi alasan Sohn menciptakan Ember, sang elemen api, sebagai karakter utama. Ia mengeksplorasi api sebagai elemen yang dijauhi karena dianggap berbahaya secara hukum alam.
Review film Elemental: film ini mungkin tak sehebat karya Pixar yang melegenda, tapi tetap meninggalkan hangat di hati. (Pixar)
Premis tersebut kemudian berkembang menjadi masalah sosial dengan Ember dan keluarga sebagai poros cerita. Ingatan saya langsung tertuju kepada cerita Peter Sohn tentang ide di balik Elemental.
Dalam sejumlah kesempatan, ia mengatakan karya ini diangkat dari pengalamannya sebagai imigran Korea di Amerika Serikat. Inspirasi itu pun membantu imajinasi luas Sohn tentang semesta elemen tetap terasa dekat dan relevan bagi banyak orang.
Ia menerjemahkan api sebagai perwujudan imigran yang susah payah bertahan hidup di tempat baru, berhadapan dengan kelompok mapan, hingga punya sentimen negatif terhadap elemen tertentu.
Elemental: Forces of Nature juga tidak luput membawa nyawa Pixar yang berkutat dengan tema pencarian jati diri serta berkembang menjadi lebih baik. Usaha tersebut terlihat jelas dari jerih payah Ember mengakhiri benturan budaya serta tuntutan antargenerasi.
Perjalanan Ember itu membuktikan di balik isu imigran dan toleransi antarkelompok yang diangkat, ada asa setiap individu yang layak diperjuangkan.
Elemental juga menyuguhkan warna cerita khas Pixar yang selalu melibatkan peran teman hingga keluarga dalam petualangan sang karakter utama. Dalam hal ini, Ember punya Wade si makhluk air serta orang tuanya, Bernie dan Cinder.
Peter Sohn, bagi saya, tetap berhasil meramu cerita yang autentik dengan formula berusia puluhan tahun tersebut.
Lanjut ke sebelah...
Review Film: Elemental
Review film Elemental: film ini mungkin tak sehebat karya Pixar yang melegenda, tapi tetap meninggalkan hangat di hati. (Pixar)
Keberhasilan itu juga membuktikan keunggulan animasi sebagai medium yang menawarkan kesempatan bagi kreator untuk mengeksplorasi imajinasi hingga tanpa batas.
Di sisi lain, aspek visual yang disajikan juga memperkaya pengalaman saya selama menonton Elemental: Forces of Nature. Komposisi warna yang disuguhkan memukau dan cukup memerhatikan detail.
Element City yang dibangun sebagai kota tempat tinggal elemen-elemen itu penuh warna tanpa perlu mencolok mata. Animator yang bekerja di balik film ini juga cukup jeli dalam memanfaatkan hukum alam sebagai bagian cerita.
Seperti ketika Wade menciptakan pelangi dari cipratan air yang terpapar sinar matahari hingga Ember yang bisa meleburkan pecahan kaca dan mendaur ulang menjadi barang baru.
Meski demikian, ada beberapa aspek yang mengganjal dari Elemental: Forces of Nature. Keputusan Peter Sohn yang memusatkan cerita kepada Ember dan Wade mau tak mau membuat elemen tanah dan udara seperti anak tiri.
Review film Elemental: aspek visual yang disajikan juga memperkaya pengalaman selama menonton Elemental: Forces of Nature. (Pixar)
Ia tak menggali lebih dalam kedua elemen itu, bahkan seolah hanya seperti pelengkap cerita. Karakter tanah dan udara rasanya cukup bisa dihitung jari, apalagi yang mendapat jatah dialog.
Mereka justru lebih banyak muncul sebagai umpan untuk adegan komedi yang dilontarkan berulang kali. Untung saja rentetan adegan tersebut benar-benar lucu dan menghibur banyak orang.
Selain itu, desain kota Element City yang diciptakan sang sutradara juga masih bisa dieksplorasi lagi. Ada banyak sistem tata kota yang terabaikan sehingga meninggalkan tanda tanya.
Sohn juga tidak menawarkan pemahaman yang jelas tentang aturan sosial kota itu, meski pada awal cerita sudah dijelaskan cara kerja setiap elemen di Element City.
Keputusan tersebut mungkin dibuat agar penonton lebih fokus dengan cerita Ember dan Wade. Namun, saya pikir tidak masalah jika penonton diajak melihat Element City lebih dekat mengingat durasi film ini baru berdurasi 109 menit.
Namun, catatan tersebut pada akhirnya tak mengurangi kepuasan saya selama menonton Elemental: Forces of Nature. Sama seperti karya Pixar lainnya, film ini tepat untuk ditonton dengan siapa pun, termasuk jika hanya dengan diri sendiri.