Review Film: Panji Tengkorak

Muhammad Feraldi Hifzurahman | CNN Indonesia
Jumat, 29 Agu 2025 19:50 WIB
Review film Panji Tengkorak: Segudang catatat membuat film ini jauh dari kata sempurna, tapi sungguh tak rugi menghabiskan 1,5 jam menonton film animasi ini. (dok. Falcon Pictures via YouTube)
Jakarta, CNN Indonesia --

Panji Tengkorak memang masih meninggalkan sejumlah catatan yang perlu dibenahi. Namun, film produksi Falcon Pictures ini jelas pantas didukung sebagai IP animasi Indonesia baru yang potensial.

Saya cukup antusias dalam menyambut Panji Tengkorak, apalagi di tengah industri animasi lokal yang kian diperhatikan sejak kesuksesan Jumbo (2025).

Karya terbaru sutradara Daryl Wilson ini juga mengusung cerita dan tone yang kontras dari animasi dalam negeri kebanyakan. Jauh lebih gelap, brutal, dan spesifik mengincar pasar penonton dewasa.

Ekspektasi semakin berlipat karena film animasi ini diadaptasi dari komik legendaris karya Hans Jaladara yang berjudul sama. Eksplorasi dunia dalam karakter Panji Tengkorak terbuka luas berkat sumber materi yang melimpah.

Sayangnya, harapan menjulang saya tak selalu berbuah manis setelah 1,5 jam menonton Panji Tengkorak. Realita seringkali datang--bukan dalam wujud tamparan--tetapi cubitan yang membuka mata.

Ada sejumlah catatan yang perlu diperhatikan dari eksekusi Panji Tengkorak, baik dari urusan penulisan cerita, eksekusi visual, maupun tata suara yang (seharusnya) memperkuat nuansa setiap adegan.

Review Film Panji Tengkorak (2025): Meski masih banyak catatan, animasi ini jelas pantas didukung sebagai IP animasi Indonesia baru yang potensial. (Falcon Pictures)

Cerita Panji Tengkorak yang berlatar zaman kerajaan itu sebenarnya berkarakter dan khas. Kisah itu sanggup memadukan cerita tentang sosok antihero dan muatan lokal yang sangat Indonesia.

Agung Prasetiarso dan Theo Arnoldy sebagai duo penulis mengambil risiko karena menulis plot itu dengan alur maju mundur. Metode ini memiliki risiko yang berlipat mengingat tema origin tale dalam Panji Tengkorak sangat kuat.

Tema ini, idealnya, membawa penonton lebih dekat mengenali seorang pendekar bernama Panji Tengkorak (Denny Sumargo), mulai dari masa lalunya, motivasi hidupnya, krisis yang dihadapi, hingga dunia di sekitarnya.

Alih-alih menuturkan cerita itu dari titik paling awal, film ini langsung mengajak penonton ke babak baru kehidupan Panji setelah kematian Murni (Aisha Nurra Datau) sang istri tersayang.

Cerita kemudian berulang kali mengilas balik kehidupan Panji sebelum dikuasai ilmu hitam. Pada bagian ini pula, penulis menuturkan asal usul Panji dan lapisan dasar karakternya.

Gaya semacam ini memang terkesan segar karena tidak mengadopsi penuturan cerita tradisional. Namun, efek sampingnya, ada berbagai bagian penting yang kurang kuat penceritaannya.

Sebut saja masa lalu Panji yang penuh nestapa, tetapi emosinya kurang sampai karena bagian itu dituturkan secara terpisah-pisah. Belum lagi latar belakang kerajaan dan keberadaan pusaka Adidaya yang hanya terungkap permukaannya.

Review Film Panji Tengkorak (2025): Agung Prasetiarso dan Theo Arnoldy sebagai duo penulis mengambil risiko karena menulis plot itu dengan alur maju mundur. Metode ini memiliki risiko yang berlipat mengingat tema origin tale dalam Panji Tengkorak sangat kuat. (Falcon Pictures)

Sebagai film pembuka, Panji Tengkorak juga menuturkan terlalu banyak cerita dan karakter. Saya cukup kerepotan mencerna peran-peran setiap karakter baru, belum lagi saat jalan cerita tiba-tiba kembali ke masa lalu.

Mempertahankan fokus dari awal hingga akhir rasanya menjadi tip penting dalam menonton Panji Tengkorak. Sebab, satu kepingan penting cerita bisa saja terlewat walau hanya lengah sedikit.

Selain itu, tidak banyak catatan selain apresiasi terhadap departemen pengisi suara yang telah terlibat. Denny Sumargo kembali membuktikan tajinya sebagai ahli lakon, kali ini hanya dengan suara.

Ia sanggup mengerahkan kemampuannya untuk mengisi sebagian nyawa Panji, termasuk dalam adegan-adegan dramatis. Para pengisi suara lainnnya juga berperan dengan bagus lewat dialog-dialog baku khas film bertema kerajaan.

Di antara pertempuran dramatis nan serius dari setiap karakter, terselip adegan komikal ringan yang nyaris semuanya dipikul karakter Kuwuk. Kehadiran Kuwuk dengan komedian naik daun Candra Mukti sebagai pengisi suara cukup mampu meringankan ketegangan di beberapa bagian.

Sementara itu, secara visual, Panji Tengkorak dieksekusi memakai gaya animasi digital 2D dengan proporsi dan ekspresi yang realistis. Kualitas animasi yang dihasilkan sudah cukup matang, tetapi sebenarnya bisa dieksplorasi lebih jauh.

Film thriller dengan banyak adegan laga seperti Panji Tengkorak sebenarnya memberikan ruang bagi kreator untuk berimajinasi lebih luas ketika menciptakan rangkaian adegan.

Namun, kreativitas itu baru terasa optimal saat cerita menginjak babak terakhir di pertarungan puncak Panji Tengkorak lawan Lembugiri (Cok Simbara).

Daryl Wilson dan tim animator di balik Panji Tengkorak sebenarnya dapat lebih unjuk gigi dengan menampilkan visual adegan-adegan lainnya secara megah dan intens.

Sebut saja ketika cerita menapaki masa lalu Panji saat membantai penduduk satu desa, atau pada beberapa pertarungan sebelum klimaks. Namun, entah mengapa, kesempatan itu tidak terlalu dimanfaatkan.

Satu catatan terakhir dari Panji Tengkorak ada pada tata musik. Sungguh, saya beberapa kali merasakan bahwa kehadiran scoring musik di Panji Tengkorak justru mendistraksi adegan.

Ada beberapa adegan yang isian musiknya terlalu berlebihan hingga menutupi dialog hingga mengaburkan fokus penonton atas adegan itu sendiri.

Panji Tengkorak lagi-lagi dibekali modal yang mewah, kali ini lewat lagu Bunga Terakhir versi Iwan Fals dan Isyana Sarasvati sebagai official soundtrack.

Namun, penempatan lagu itu seringkali kurang cocok dengan adegan yang sedang muncul di layar. Lagu itu bahkan diputar mendadak pada beberapa momen, padahal tensi atau emosi di adegan tersebut belum terbangun.

Penempatan lagu yang tidak selalu tepat ini membuat kehadiran Bunga Terakhir kurang menyatu dengan cerita. Padahal, lagu ikonis tersebut dibawakan dengan indah oleh Iwan Fals dan Isyana.

Segudang catatan ini membuat Panji Tengkorak terkesan seperti film animasi yang jauh dari kata sempurna. Namun, jika boleh terang-terangan, karya ini tak membuat saya merasa rugi walau sudah menghabiskan 1,5 jam lebih di bioskop.

Panji Tengkorak justru pantas didukung karena sudah menunjukkan keberanian dalam bertutur cerita lewat medium animasi.

Bahkan, jika kreator mau berbenah, studio setia mendukung, dan investor tetap berani menaruh kepercayaan, tidak ada arah lain untuk Panji Tengkorak kecuali melesat ke atas.

(end)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK