Review Film: Lupa Daratan

Gisella Keilsa | CNN Indonesia
Jumat, 02 Jan 2026 20:15 WIB
Review film: Lupa Daratan ibarat obrolan internal yang diubah Ernest Prakasa untuk bisa dimengerti dan terhubung dengan orang luar tongkrongan. (Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia --

Lupa Daratan mungkin ibarat obrolan internal yang kemudian diubah Ernest Prakasa untuk bisa dimengerti dan terhubung dengan orang di luar tongkrongan.

Topik dalam film yang dibintangi Vino G Bastian ini hampir seluruhnya berkaitan dengan isu dan permasalahan dalam industri perfilman dan hiburan. Memang pada dasarnya adalah masalah di industri lokal, tetapi sebenarnya juga terjadi secara global.

Pembahasan tersebut kemudian diracik oleh Ernest dengan kisah andalannya: masalah keluarga. Dalam konteks ini, adalah berkaitan dengan hubungan abang dan adik yang masih terbilang jarang dibahas di Indonesia.

Selain itu, Ernest juga membungkus kisah tersebut dengan sketsa-sketsa komedi untuk menyeimbangkan drama dan melankolia yang berpendar dari karakter yang diperankan oleh Vino.

Keputusan Ernest memilih Vino jadi keputusan menarik karena komika yang sekaligus sutradara, aktor, dan produser tersebut mencoba memainkan ironi sekaligus, yakni bagaimana karakter aktor pemenang penghargaan yang mendadak tidak bisa akting dimainkan oleh aktor pemenang penghargaan sungguhan?

Mengingat nama karakternya juga Vino Agustian, agaknya bukan jadi kesulitan berarti untuk Vino G Bastian berakting tidak bisa akting. Tentu saja Vino sungguhan mulus membawakan tantangan tersebut dan tingkah konyolnya menjadi pemancing gelak tawa.

Review Lupa Daratan: Keputusan Ernest memilih Vino jadi keputusan menarik karena komika yang sekaligus sutradara, aktor, dan produser tersebut mencoba memainkan ironi sekaligus. (Netflix)

Meski adegan itu adalah premis utama, menariknya justru bukan menjadi strong point dalam film ini. Vino G Bastian baru benar-benar tampil sebagai aktor sungguhan saat bertemu dengan yang sepadan: Agus Kuncoro.

Sebagai aktor pendukung, Agus justru tampil sangat prima. Karakter Ikhsan yang ia bawa berperan sangat penting, bukan hanya untuk perkembangan karakter Vino, tetapi juga pesan inti yang ingin disampaikan oleh Ernest dalam film ini.

Lewat dinamisasi Vino dan Ikhsan, yang lengkap menampilkan love-hate relationship khas kakak-adik, pesan dan makna dari "lupa daratan" justru bisa lebih tersampaikan dibanding premis seorang aktor tampil jemawa seperti yang ada di awal film.

Hal itu pula yang menjadi kendaraan utama Ernest dalam membawakan kisah keluarga dalam film ini, soal bagaimana pun keluarga adalah rumah bagi para anggotanya, tempat untuk kembali di saat dunia luar mungkin terlalu kejam untuk ditinggali.

Review film Lupa Daratan: Sebagai sebuah film, Ernest sukses menghibur penonton dengan Lupa Daratan. Namun bagi mereka yang berekspektasi bahwa film ini akan memiliki kedalaman emosional seperti Ngenest, Cek Toko Sebelah, dan Imperfect, agaknya ekspektasi tersebut mesti diturunkan. (Netflix)

Cerita kacang yang semula lupa kulitnya tapi kemudian ingat tersebut ditampilkan terasa natural berkat chemistry yang terjalin antara Vino G Bastian dan Agus Kuncoro. Rentang usia yang 10 tahun di antara keduanya memang terasa seperti abang dan adik, walaupun Vino kadang terlihat seperti pria 40-an dengan mental usia 20-an.

Agus Kuncoro pula yang sukses membawakan sisi emosional film ini. Tanpa perlu adegan tangis yang berlebihan, Agus menampilkan kerentanan seorang pria dewasa yang selama ini memilih untuk menanggung beratnya hidup dan segala emosi yang ia rasakan secara sendirian. Cara yang sebenarnya dilakukan banyak pria di luaran sana.

Selain itu, Ernest juga berusaha menampilkan sisi keras industri film dengan mengangkat isu sensitif, yaitu pelecehan seksual di lingkungan perfilman yang pernah ramai beberapa waktu lalu. Isu ini penting diangkat karena menekankan perlunya menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi semua pihak, terutama perempuan.

Sebagai sebuah film, Ernest sukses menghibur penonton dengan Lupa Daratan. Namun bagi mereka yang berekspektasi bahwa film ini akan memiliki kedalaman emosional seperti Ngenest, Cek Toko Sebelah, dan Imperfect, agaknya ekspektasi tersebut mesti diturunkan.

Namun bagi saya hal ini wajar, karena film-film sebelumnya memang terasa lebih personal dari kehidupan pribadi Ernest dan istrinya. Sementara Lupa Daratan terlihat sebagai karya hasil dari pengalaman dan pengamatan Ernest di industri perfilman Indonesia.

Meski film ini dibuat dengan gaya alur maju-mundur sebagai penguat konteks cerita, hal tersebut masih bisa diikuti dengan mudah. Lupa Daratan jelas menjadi sebuah film ringan tanpa harus melupakan makna yang cukup menyentuh, yang cocok untuk disaksikan saat momen liburan.

(end)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK