Konser 'Hijau' Bukan Cuma Gimik Bebas Plastik
Konser musik sejatinya bukan hanya menikmati musik dan merasakan pengalaman konser untuk dikenang. Namun lebih dari itu, konser musik juga berkembang menyesuaikan dengan lingkungan yang semakin nyata berubah dari masa ke masa.
Seiring dengan perubahan lingkungan seperti pemanasan global yang nyata terjadi dan berdampak ke berbagai aspek kehidupan, gagasan akan konser musik yang ramah lingkungan atau dikenal sebagai konser hijau juga semakin digalakkan.
Lihat Juga : |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampak lingkungan dari konser
Dasar pemahaman konser hijau ini bermula dari kesadaran yang tumbuh terkait lingkungan dan industri pertunjukan musik yang pesat sejak beberapa dekade lalu.
Konser musik dalam bentuk tur yang dilakukan musisi mengunjungi satu kota ke kota lain, bahkan lintas negara dan benua, serta seberapa jauh penonton menempuh perjalanan demi sebuah konser jadi pemicu kesadaran ini terbentuk.
Konsultan lingkungan dari Carbon Footprint, John Buckley, mencatat tur Sticky & Sweet World Tour dari Madonna pada 2008 yang membawa 250 orang kru ke 37 lokasi selama empat bulan sudah menghabiskan energi yang setara dengan menyalakan lampu 100 watt selama 400 tahun.
Asia Guerreschi dalam tulisannya pada 2021 mencatat konsumsi energi luar biasa dari konser musik itu terus bertambah pada konser-konser berikutnya, seperti pada tur U2 360° Tour dari band Irlandia, U2, pada 2009.
Sementara itu, C Bottrill, D Liverman, dan M Boykoff pada 2010 menyebut emisi gas rumah kaca di Inggris pada 2007 bisa mencapai 540 ribu ton CO2e per tahun. Dari jumlah itu, 26 persen atau setara 138 ribu ton CO2e setahun berasal dari proses rekaman dan penerbitan musik.
Kemudian sebanyak 74 persen atau 400 ribu ton CO2e setahun justru berasal dari aktivitas yang terkait dengan pertunjukan musik langsung, termasuk konser.
Sebagai perbandingan, emisi 400 ribu ton CO2e setahun dari konser musik di Inggris itu setara dengan menyetir mobil bensin sejauh 1,6 miliar kilometer yang setara dengan keliling bumi sebanyak 40 ribu kali, atau hasil dari listrik untuk 190 ribu rumah selama setahun penuh.
Guerreschi juga mengutip temuan di Inggris pada 2007 yang menyebut 46 persen gas berbahaya yang dihasilkan industri musik hanya berasal dari transportasi yang digunakan oleh penonton konser dan artisnya, dan 27 persen lainnya disebabkan oleh energi yang dikonsumsi acara musik seperti penggunaan generator bensin alias genset.
Selain itu, D Getz pada 2010 yang dikutip Siti Adelita Raif Khadijah dan Wiwik Dwi Pratiwi pada 2023 menyebut, ulasan terkait konser musik lebih sering digambarkan berupa dampak negatifnya tanpa melihat potensi aspek keberlanjutannya.
Lihat Juga : |
Ramah lingkungan = keadilan untuk semua
Aspek keberlanjutan dalam sebuah acara atau event, disebut Khadijah dan Pratiwi, didasarkan pada konsep pembangunan berkelanjutan untuk meningkatkan ekonomi global sembari melestarikan sumber daya agar semua pihak bisa berlaku adil dan tidak egois.
Agar bisa disebut sebagai event berkelanjutan, konser musik diyakini S Henderson pada 2011 yang dikutip Khadijah dan Pratiwi bukan hanya mementingkan aspek komersil belaka, tetapi juga manajemen yang bertanggung jawab, ramah lingkungan, ada tanggung jawab sosial, serta ramah sosial, budaya, juga ekonomi.
Tentu saja, berbagai aspek tersebut juga diintegrasikan dalam urusan logistik, operasi, dan produksi manajemen festival yang dilakukan secara efektif.
Lanjut ke sebelah..
Add
as a preferred source on Google



