TILIKAN

Konser 'Hijau' di Indonesia, Cuma Angan atau Memang Ada Harapan?

Vandeniar Kennindya | CNN Indonesia
Jumat, 05 Jun 2026 14:30 WIB
Ilustrasi konser
Mewujudkan mimpi konser musik yang seru dan menyenangkan tanpa merusak Bumi, terutama di Indonesia, memang tidak semudah memasak mi instan. (Anthony Delanoix via StockSnap)

Arti penting regulasi hingga infrastruktur ini diamini oleh Sigit Pramono selaku founder Jazz Gunung Indonesia. Bagi Sigit, izin penyelenggaraan konser memang penting, tapi yang tak kalah penting adalah dukungan infrastruktur konser ramah lingkungan.

"Mereka punya peran lagi untuk bantu di hari-hari itu untuk mengerahkan armada. Kebersihannya kan enggak seberapa biayanya tapi itu kan kesannya bagus sekali," kata Sigit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Iya, pemerintah menyelenggarakan fasilitas kebersihan, dari mulai kalau perlu truk-truk, sampahnya sudah di samping (venue konser) begitu, menyelenggarakan tempat-tempat sampah dan sebagainya," lanjutnya.

CNNIndonesia.com sudah mengajukan permohonan wawancara kepada Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar terkait topik ini, tapi belum mendapatkan tanggapan.

Namun Sigit menegaskan hal yang tidak kalah penting adalah edukasi kepada penonton soal kepedulian terhadap lingkungan. Hal ini karena setiap penyelenggaraan, penonton yang datang berpeluang besar beda dari tahun sebelumnya.

Menurutnya, jika penonton sudah mulai memahami bagaimana konser berdampak pada lingkungan, maka biaya yang dibebankan kepada penyelenggara untuk mitigasi dan mengelola dampak lingkungan pun tidak akan terasa berat.

"Menjadi mahal kalau kita tidak pernah melakukan edukasi. Tapi kalau dari awal itu sudah dijelaskan, penonton pada akhirnya kalau diberi contoh dan diberitahu, mudah kok bakal mengikuti," katanya.

Dilema biaya 'ramah lingkungan'

Sejumlah penelitian juga menyebut bahwa kesadaran penonton punya peran penting atas keberlangsungan konser ramah lingkungan. Salah satunya Hak Jun-song dkk pada 2012 menyebut pengunjung yang sadar akan lingkungan lebih terdorong untuk memilih atau membeli produk dan layanan yang relevan.

Lagipula, salah satu alternatif cara yang bisa dilakukan penyelenggara dalam menerapkan konser ramah lingkungan adalah membeli kredit karbon yang setara dengan jejak karbon penggemar dan artis mereka.

Marie Connolly, Jérôme Dupras, dan Charles Séguin pada 2016 menghitung, biaya kompensasi karbon itu bisa dimasukkan ke harga tiket dan hanya akan menambah sekitar satu persen secara rata-rata yang diklaim tidak menghalangi penonton untuk membeli tiket.

Tindakan serupa pernah dilakukan Makassar International Writers Festival (MIWF) pada 2024. Mereka mencatat menghasilkan emisi mencapai 17 ton CO2e, yang kemudian dikompensasi lewat penanaman 335 pohon mangrove.

"Konser ramah lingkungan sangat potensial. Penonton anak muda semakin peduli pada isu lingkungan, gaya hidup berkelanjutan, dan citra sosial dari aktivitas yang mereka konsumsi," kata Revie.

"Selain itu, bagi sponsor, konsep ini juga mungkin bisa menarik karena banyak brand sekarang membutuhkan aktivasi yang sejalan dengan agenda sustainability. Jadi konser tetap harus seru, musiknya tetap kuat, pengalaman penonton tetap nyaman, tetapi dampak lingkungannya dikurangi," lanjutnya.

Meski begitu, Revie juga menyoroti gagasan konser ramah lingkungan ini memang akan memakan biaya yang tidak ramah kantong pada fase awal. Bila biaya itu sepenuhnya dibebankan kepada penonton, bisa jadi mengurangi daya beli penonton terhadap konser itu.

Upaya jalan tengah dalam menyediakan konser ramah lingkungan yang bisa dilakukan salah satunya adalah bila para pemangku kebijakan dan otoritas terkait saling bekerja sama, seperti dalam menyediakan integrasi transportasi umum menuju venue.

"Mungkin model pembiayaannya bisa ditanggung bersama oleh promotor, sponsor, vendor, atau melalui efisiensi produksi, dan sebagian kecil mungkin masuk dalam harga tiket. Jadi perlu kerja kolektif dari para stakeholders," kata Revie.

Dengan begitu, konser ramah lingkungan sebenarnya sangat potensial untuk diterapkan di Indonesia. Kesadaran penonton sudah mulai ada, begitu juga dengan sebagian promotor, tinggal menanti aksi nyata pemerintah dan pemangku kepentingan dalam menentukan standar juga arah masa depan industri konser, tanpa harus mengorbankan rumah umat manusia.

(end) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]

HALAMAN:
1 2