NUKLIR DI IRAN

PBB Kritik Penolakan Visa di Iran

Arie Riswandy, CNN Indonesia | Kamis, 09/10/2014 12:50 WIB
Iran mengatakan mereka memiliki hak untuk menentukan siapa yang mereka izinkan untuk masuk ke dalam wilayah mereka, termasuk para peneliti nuklir. Anggota PBB sedang membahas mengenai nuklir Iran. (Reuters/Mike Segar)
Jakarta, CNN Indonesia --

Iran menyanggah Badan Tenaga Atom Internasional yang mengkritisi keputusan negeri para mullah tersebut karena tidak memberi visa kepada seorang anggota BTAI yang ingin menyelidiki dugaan adanya riset oleh Iran untuk mengembangkan senjata nuklir.

Teheran mengatakan mereka memiliki kedaulatan hak untuk menentukan siapa yang mereka izinkan untuk masuk ke dalam wilayah mereka.

Keengganan mereka memberikan izin bagi pejabat BTAI tersebut dapat menumbuhkan kecurigaan Barat akan usaha Iran menghambat investigasi BTAI.


Bulan lalu, BTAI mengatakan Iran menolak memberikan visa bagi pejabat merupakan anggota dari tim yang ditugaskan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menyelidiki apakah ada aspek militer dari program nuklir Iran.

Kejadian itu merupakan ketiga kalinya pejabat tersebut tidak dapat memasuki Iran. Belum ada kabar yang jelas terkait apakah pejabat yang sama telah diberikan izin sebagai bagian dari delegasi BTAI yang akan melakukan diskusi di Teheran minggu ini.

Dalam sebuah pernyataan tertulis yang diberikan ke negara anggota BTAI minggu ini, Iran mengatakan pemberian visa adalah “kedaulatan hak kami dan akan kami berikan jika menurut kami pantas”.

BTAI sudah berusaha bertahun-tahun untuk menyelesaikan penyelidikan atas dugaan Iran sedang mencoba membuat bom nuklir.

Iran mengatakan program nuklir mereka tidak bertujuan untuk dipakai sebagai senjata, namun kecurigaan Barat akan tujuan sebenarnya program tersebut telah berbuah sanksi ekonomi. 

Teheran berharap sanksi-sanksi tersebut dapat diangkat jika negosiasi dengan Barat berhasil.

Lanjutkan kerja sama 

Sebuah tim tingkat tinggi BTAI lainnya, yang anggota timnya berasal dari Prancis, Amerika Serikat, dan Inggris, telah menggelar beberapa pertemuan di Teheran sejak awal 2012, termasuk sebuah rapat yang akan dilakukan minggu ini.

Iran mengatakan mereka telah memberikan visa pada waktu yang tepat untuk tiga anggota baru tim BTAI tersebut dalam beberapa bulan belakangan ini.

Pejabat-pejabat Barat mengatakan Iran perlu bekerja sama dengan BTAI jika negeri pimpinan Hassan Rouhani itu ingin mencapai kesepakatan diplomatik dengan negera-negara kuat dunia.

Bulan lalu, sebuah laporan BTAI mengatakan Iran telah gagal menjawab beberapa pertanyaan tentang aspek militer program nuklir mereka. 

Kegagalan tersebut dapat menyebabkan mundurnya pembicaraan antara Iran dengan AS, Prancis, Jerman, Inggris, Tiongkok, dan Rusia.

Iran menyebutkan tuduhan-tuduhan tersebut tidak berdasar. Namun, Iran telah berjanji untuk bekerja sama dengan BTAI untuk menghilangkan kecurigaan-kecurigaan yang telah timbul sejak Hassan Rouhani menjadi presiden tahun lalu. Rouhani sendiri ingin mengakhiri pengasingan internasional selama ini dialami Iran.

“Kami melanjutkan kerja sama dengan BTAI untuk mengklarifikasi dan menyelesaikan beberapa keambiguan yang ada ,” ujar surat dari Iran untuk negara anggota BTAI tertanggal 19 September namun baru dapat dibaca di situs BTAI minggu ini.

Menggaris bawahi keinginannya untuk meningkatkan kapasitas nuklir mereka, pernyataan tertulis Iran mengatakan negeri tersebut telah memasang sebuah alat pemusing baru bernama IR-8 tahun lalu di fasilitas pengayaan nuklirnya di Natanz. Alat pemusing dapat memurnikan uranium, bahan bakar nuklir yang dapat digunakan untuk kepentingan militer maupun sipil.

Iran mengatakan IR-8 adalah sebuah “alat pemusing baru dan lengkap”. Jika Iran berhasil menukar IR-1 yang rawan rusak, negeri tersebut dapat mengumpulkan bahan pembuat bom nuklir dengan lebih cepat.

REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK