HUKUM SYARIAH

Wanita Terpidana Mati Menunggu Eksekusi

Amanda Puspita Sari, CNN Indonesia | Kamis, 09/10/2014 14:35 WIB
Reyhaneh Jabbari kini tengah depresi dan putus asa menanti hukuman mati yang dijatuhkan atasnya karena dia membunuh atasan yang mencoba memperkosanya. Pada 2009, pengadilan Iran menyatakan Jabbari bersalah dan menjatuhkan eksekusi mati terhadap Reyhaneh Jabbari atas pembunuhan atasan yang mencoba memperkosanya. (CNN Indonesia/Laudy Gracivia)
Teheran, CNN Indonesia -- Juru bicara pengadilan Iran, Gholamhossein Mohseni-Ejei menyatakan eksekusi mati untuk Rayhaneh Jabbari, wanita terpidana mati asal Iran mungkin saja dibatalkan.

Dalam konferensi pers pada Senin, (6/10) Mohseni-Ejei meminta keluarga korban untuk membatalkan tuntutan eksekusi mati atas Jabbari.

Sementara itu, Menteri Kehakiman Mustafa Pourmohammadi menyatakan hukuman gantung atas Jabbari akan ditunda paling tidak selama satu bulan.


Pengamat menilai pernyataan tersebut mengindikasikan pengadilan Iran mungkin tidak akan menerapkan hukuman mati terhadap Jabbari, ditengah banyaknya kecaman masyarakat internasional di atas kasus ini.

Namun hingga kini belum jelas jika Jabbari terbebas dari hukuman mati akan menambah masa hukumannya sebagai tahanan.

Jabbari ditangkap pada 2007 dan mendekam dalam jeruji penjara atas kasus pembunuhan atasannya, Morteza Abdolali Sarbandi, mantan pegawai Kementerian Intelijen dan Keamanan Iran yang berusaha memperkosanya.

Pada 2009, pengadilan Iran menyatakan Jabbari bersalah dan menjatuhkan eksekusi mati terhadap Jabbari.

Semenjak ditangkap Jabbari tidak berkesempatan untuk menghubungi pengacaranya, keluarganya, mendapatkan penyelidikan dan peradilan yang layak. Diduga, Jabbari juga disiksa dan mendapat perlakukan kejam selama di penjara.

tekanan masyarakat internasional kepada pemerintah Iran kian menguat setelah bulan lalu Reyhaneh dipindahkan ke penjara Rajai-Shahr di Tehran, tempat dia akan menjalani hukuman mati.

Sesaat setelah pengumuman penundaan pelaksanaan hukuman mati, ibu Jabbari memberikan pernyataan di Facebook dan mengungkapkan keinginan dirinya untuk mengumpulkan tubuh anaknya setelah eksekusi.

Halaman Facebook yang didedikasikan untuk menyelamatkan Jabbari dari eksekusi juga telah dibuat dan sekarang sudah didukung oleh lebih dari 14 ribu orang.

Badan pengawas penerapan hak asasi manusia, Human Rights Watch, dan organisasi HAM lain, Amnesty Internasional, telah meminta pemerintah Iran untuk membatalkan eksekusi mati terhadap Jabbari.

"Reyhaneh Jabbari memang menusuk Sarbandi, namun dia mengatakan ada orang ketiga di dalam rumah tersebut yang terlibat dalam pembunuhan. Jika terbukti, pengakuan ini dapat membebaskan dia, namun Jabbari tidak mendapatkan proses penyelidikan yang adil," ujar organisasi HAM tersebut kepada CNN, Rabu (1/10).

Sementara pengacara pribadi Jabbari, Parisa Ghanbari mengungkapkan kasus pembunuhan ini tidak melalui proses investigas yang layak dan Jabbari tidak mendapatkan penyelidikan dan peradilan yang adil.

Pada April 2014 lalu, pengadilan Iran memutuskan menunda eksekusi mati terhadap Jabbari dan berjanji akan meninjau ulang kasus pembunuhan ini.

"Insya Allah kami akan mendapat persetujuan pembatalan eksekusi mati dari keluarga korban, sehingga Jabbari dapat selamat," kata Ghanbari.

Seorang rekan Jabbari menyatakan bahwa Jabbari tengah depresi dan putus asa.
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK