Konflik Dua Korea

Memuji Korut, Wanita AS Dideportasi dari Korsel

Denny Armandhanu/Reuters, CNN Indonesia | Senin, 12/01/2015 11:02 WIB
Memuji Korut, Wanita AS Dideportasi dari Korsel Shin Eun Mi, wanita AS keturunan Korea dideportasi dan dilarang mendatangi Korsel selama lima tahun ke depan karena memuji rezim Korut. (Reuters/Kyodo)
Seoul, CNN Indonesia -- Seorang wanita Amerika Serikat keturunan Korea dideportasi dari Korea Selatan setelah beberapa kali menggelar ceramah yang isinya memuji Korea Utara. Keputusan Korsel ini dikritik oleh pemerintah AS.

Diberitakan Reuters, Minggu (11/1), Shin Eun-mi wanita AS yang lahir di Korsel kembali ke kampung halamannya pada akhir tahun lalu dengan visa turis. Di Korsel, dia beberapa kali menyampaikan ceramah di beberapa wilayah bersama dengan aktivis sayap kiri, memuji kehidupan di Korut.

Penyanyi yang mengaku telah tiga kali ke Korut ini dalam salah satu ceramahnya menyanyikan lagu Korut yang isinya menyanjung mendiang Kim Jong Il yang meninggal pada 2011.


Media Korsel juga mengutip Shin yang mengatakan bahwa rakyat Korut kini berbahagia di bawah kepemimpinan Kim Jong Un. Selain itu dia juga mengatakan menggemari bir dari Korut.

Shin juga mengaku berbicara dengan beberapa pembelot dari Korut yang mengatakan ingin kembali ke negaranya. Komentar ini menuai kecaman dan kemarahan pada pembelot Korut yang mengatakan Shin menciptakan gambaran palsu soal Korut.

Bulan lalu, seorang siswa SMA melempar bahan peledak buatan sendiri ke atas mimbar tempat Shin berpidato. Dia selamat tanpa luka dan pelakunya ditahan polisi.

Korsel menganggap tindakan Shin adalah sebuah pelanggaran imigrasi dan dia dianggap melanggar Undang-undang Keamanan Nasional. Pejabat Kementerian Kehakiman Korsel mengatakan, Shin telah dideportasi dan dilarang mendatangi negara itu selama lima tahun ke depan.

Shin membantah tuduhan pelanggaran keamanan nasional, dan mengatakan bahwa ceramahnya bukan untuk memuji Korut, melainkan mendorong rekonsiliasi kedua negara.

Deportasi itu juga menuai kecaman dari pemerintah Amerika Serikat yang mengatakan Korsel telah memberangus kebebasan berekspresi. "Kami khawatir Undang-undang Keamanan Nasional Korsel, yang diinterpretasikan dan diterapkan di beberapa kasus, telah membatasi kebebasan berekspresi dan pemblokiran situs internet," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Jen Psaki, Jumat lalu.

Undang-undang Keamanan Nasional diterapkan setelah dua Korea berpisah di akhir Perang Dunia II dan sebelum Perang Korea tahun 1950-1953, berisi larangan bagi warga Korsel untuk memuji rezim Korut.

Kedua negara masih dalam keadaan berperang setelah Perang Korea hanya berakhir dengan gencatan senjata bukan perundingan damai. (stu)