Sekitar 90 Persen Udara di Tiongkok Tidak Aman Dihirup

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Selasa, 03/02/2015 14:30 WIB
Sekitar 90 Persen Udara di Tiongkok Tidak Aman Dihirup Pembuatan daging babi asap dan batu bara disebut pemerintah Tiongkok sebagai penyebab polusi. (Reuters/Aly Song)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tiongkok kini tengah berjuang untuk melawan polusi udara yang mulai memprihatinkan. Menurut data Kementerian Perlindungan Lingkungan Tiongkok, sekitar 90 persen udara di kota-kota Tiongkok di ambang batas standar keamanan pada 2014 sehingga tidak aman untuk dihirup.

Diberitakan RT pada Senin (2/1), tujuh dari sepuluh kota yang paling berpolusi terletak di sekitar Beijing.

Sementara itu, hanya delapan dari 74 kota besar di Tiongkok yang memenuhi standar keamanan udara. Angka ini sudah meningkat dari tahun 2013, di mana hanya tiga kota yang mencapai standar, yaitu Haikou, Lhasa dan Zhoushan.


Secara umum, keadaan polusi udara di Tiongkok membaik. Kandungan partikel udara berbahaya, PM 2,5, perlahan menurun  dari 106 pada tahun lalu hingga 93 mikrogram per-meter kubik pada tahun ini di Beijing, Hebei dan Tianjin.

Kendati demikian, perjalanan masih panjang menuju standar internasional yang menetapkan udara sehat dengan kandungan PM 2,5 di bawah 35 mikrogram per-meter kubik. Tiongkok diperkirakan tidak akan mencapai standar sebelum tahun 2030.

Pada pertengahan Januari lalu, pemerintah Tiongkok menyatakan bahwa polusi di Provinsi Sichuan berasal dari daging babi asap. Menurut pemerintah, level polusi menjadi tak terkontrol karena warga lokal masih terikat dengan tradisi membakar daging babi pada malam Tahun Baru Imlek.

Selain itu, produksi batu bara juga dianggap sebagai salah satu penyumbang polusi di Tiongkok, terutama Sichuan.

Pemerintah Provinsi Sichuan dikabarkan mengalami kepanikan yang lebih ketimbang wilayah lain. Pasalnya, keenam kota dalam teritorial Sichuan masuk daftar tempat terpolusi kabut asap dan batu bara. Sichuan sendiri mengambil porsi 60 persen dari keseluruhan polusi di Tiongkok.

Tantangan terbesar yang dihadapi pemerintah adalah mencari sumber tenaga baru. Sejauh ini, upaya pemerintah baru sebatas menutup pabrik-pabrik. (stu)