Pengeboman Perang Dunia II Membuat Dresden Anti Islam

Reuters, CNN Indonesia | Rabu, 11/02/2015 13:52 WIB
Pengeboman Perang Dunia II Membuat Dresden Anti Islam Kota Dresden hancur setelah dibom oleh sekutu selama empat hari pada Perang Dunia II yang masih disesali hingga sekarang. (Reuters/MHM/Willy Rossner/Handout)
Dresden, CNN Indonesia -- Tujuh puluh tahun sejak pengeboman Sekutu yang menewaskan 25 ribu orang, dan menghancurkan gereja dan istana bergaya Barok, rasa benci masih terasa di kota Dresden.

Perasaan ini membuat kota itu menjadi lokasi yang mudah ditumbuhi oleh kelompok-kelompok ekstrim kanan dan anti-Muslim.

Setiap tanggal 13 Februari, anggota neo-Nazi dari seluruh penjuru Eropa berkumpul di Dresden untuk mengenang aksi yang disebut sebagai ‘holokos pengeboman’ di kota itu, hanya tiga bulan sebelum Perang Dunia II berakhir.


Tahun ini, sejumlah kalangan khawatir kebangkitan PEGIDA, kelompok anti-Islam yang memperingatkan bahwa Jerman semakin dipenuhi oleh Muslim, akan meningkatkan aksi parade tradisional ekstrim kanan dan membayangi upacara peringatan yang diadakan oleh para pemimpin Eropa.

Ketidakpastian mengenai jumlah warga yang tewas dan apaka kota itu pantas menjadi sasaran pengeboman Sekutu mempertebal ‘mitos perasaan menjadi korban’ yang membuat penderitaan Dresden adalah sesuatu yang unik.

Mitos ini diciptakan oleh Nazi, diabadikan oleh Komunis Jerman Timur dan diadopsi oleh kelompok ekstrim kanan.

“Bagaimana anda bisa membenarkan pembunuhan begitu banyak warga sipil di penghujung perang? Tentu saja kami masih merasakannya. Itu adalah kejahatan perang,” ujar Michael Pickert yang ikut dalam aksi PEGIDA bulan lalu.

Kelompok yang merupakan singkatan dari Patriot Eropa Melawan Islamisasi Barat, ini sekarang tercerai-berai setelah ketuanya mengundurkan diri akibat penyebaran foto yang menggambarkan dia berpose sebagai Hitler.

Lima pendiri awal lainnya pun kemudian keluar dan mendirikan gerakan tandingan baru.

Pada Senin (9/2) malam, sektiar 2.000 orang mengikuti aksi protes mingguan di Dresden, jauh dari 25 ribu orang yang pernah mengikuti aksi ini sebelumnya.

Sementara itu, aksi protes anti-rasisme yang diadakan bulan lalu diikuti oleh 35 ribu orang yang memperlihatkan ada penentangan keras terhadap perilaku ekstrim kanan di kota itu.

Tetapi jikapun gerakan ini kemudian terbukti hanya sekedar percikan kecil, PEGIDA telah mengguncang Jerman.

Kanselir Angela Merkel mengatakan bahwa sejumlah anggota kelompok ini memiliki “kebencian di dalam hati mereka”, dan Menteri Luar Negeri Frank-Walter Steinmeier mengakui kelompok itu telah merusak reputasi negara tersebut.

Mengapa Dresden?

Para ahli sejarah mengatakan peristiwa pengemboman pada Februari 1945 tersebut menjelaskan, setidaknya sebagian, alasan ekstrim kanan berhasil memperluas daya tarik di kota ini dibandingkan kota lain di Jerman.

Di malam hari tanggal 13 Februari 1945, di tengah udarah yang cerah dan tidak ada perlawanan dari senjata anti pesawat Jerman, sejumlah pesawat Inggris menyerang Dresden dengan campuran antara bahan peledak mematikan dan bom api.

Dalam dua hari setelah malam itu, pesawat AS bergabung dalam serangan udara tersebut. Hal ini menghalangi upaya menyelamatkan korban yang masih hidup dan mencari korban tewas.

Dalam empat kali serangan udara, Sekutu menjatuhkan setidaknya bom seberat 3.900 ton. Tujuan misi udara untuk menyebabkan kekacauan dan menghancurkan moral warga sipil pun berhasil dicapai.
Jumlah korban aksi sekutu pada PD II diperkirakan mencapai 25 ribu orang, tetapi angka ini digelembungkan untuk memperkuat mitos Dresden sebagai korban. (Reuters/MHM/Willy Rossner/Handout)
“Itu adalah serangan udara yang berakhir dengan baik meski mematikan,” ujar Frederick Taylor, seorang ahli sejarah.

Dresden bukan satu-satunya kota yang diserang oleh pesawat Sekutu. Kota lain seperti Hamburg, Pforzheim di wilayah Black FOrest dan kota Ruhr juga dibom yang menewaskan ribuan korban.

Direktur Museum Sejarah Militer Jerman di Dresden Matthias Rogg mengatakan bagi Dresden, peristiwa itu merupakan saat yang menentukan.

“Peristiwa itu menjadi titik awal semua hal yang terjadi. Pengemboman ini menambah mitos bahwa Dresden adalah korban tak bersalah dari perang yang tidak memiliki tujuan, dan menyembunyikan fakta bahwa kota ini merupakan pusat gerakan Nazi dan pusat penting bagi pengerahan persenjataan,” ujarnya kepada Reuters.

“Meskipun pengeboman Dresden itu memang mengerikan, hal ini penting karena tanpa 1 September 1939, tanpa Warsawa, Rotterdam, Coventry, London, tidak akan ada Dresden,” ujar Rogg yang merujuk pada tanggal invasi Nazi ke Polandia dan kota-kota yang dibom oleh pasukan Hitler saat itu.

Tidak lama setelah serangan ke Dresden, para pejabat memperkirakan 25 ribu orang tewas tetapi fakta ini dirahasiakan.

Dalam perkembangannya jumlah korban itu diperbesar, terkadang hingga mencapai 50 ribu. Dan ini sejalan dengan upaya Jerman Timur yang komunis untuk menodai musuh “imperalis barat”.

Setelah Tembok Berlin runtuh, giliran kelompok ekstrim kanan untuk memanfaatkan rasa benci akibat pengemboman tersebut.

“Anda tidak bisa mengerti pentingnya membesarkan jumlah korban pengeboman Dresden bagi kelompok ekstrim kanan. Hal ini penting untuk mendapatkan dukungan massa, sama seperti kepercayaan agama,” ujar Taylor.

Pada 2010 satu Komisi Sejarah menyebutkan hingga 25 ribu sebagai angka resmi korban pengeboman kota Dresden, hampir menyamai perkiraan sebenarnya yang dirahasiakan itu.

Rokok Hingga Peluru

Kota Dresden dikenal sebagai ‘Florensianya Elbe’ karena kemegahan budaya kota itu seperti opera Semper dan Frauenkirche, satu gereja yang sengaja dibiarkan sebagai puing-puing sebagai simbol hingga akhirnya dibangun kembali setelah Jerman bersatu kembali.

Tetapi para pakar sejarah mengatakan bahwa kota itu merupakan sasaran yang memang pantas diserang.

Saat itu di Dresden, satu pabrik rokok memproduksi peluru, produsen kamera diubah menjadi pengasil sistem pemandu torpedo, dan rel kereta penting bertemu di kota ini.

Taylor menganggap bahwa pengeboman kota Dresden “dipertanyakan secara moral”.

“Kota ini telah dibangun kembali tetapi traumanya masih mendalam. Kota ini tidak pernah bangkit dari kesedihan yang mendalam dan budaya pesisme,” ujarnya.

Taylor menambahkan bahwa iklim ini membuat kota itu menjadi terbuka bagi kelompok-kelompok seperti PEGIDA yang memang memanfaatkan ketakutan dan kebencian.

Seakarang, Dresden yang berpenduduk 500 ribu orang dan menjadi ibukota negara bagian Saxony, dianggap sebagai cerita sukse Jerman Timur yang jarang terjadi.
Kelompok ekstrim kanan seperti PEGIDA memanfaatkan perasaan benci warga Dresden terhadap pengeboman sekutu untuk menyuburkan gerakan ekstrim kanan mereka. (Reuters/Fabrizio Bensch)
Kubu konservatif Kanselir Angela Merkel memerintah negara bagian ini sejak penyatuan kembali Jerman hampir 25 tahun.

Tetapi pemilu negara bagian tahun lalu memperlihatkan bahwa hampir 15 persen pemilih mendukung partai-partai yang cenderung ke ekstrim kanan: Partai Demokrat Nasional, NPD, yang ekstrim kanan dan Alternatif untuk Jerman, AfD, yang baru berdiri.

Kecenderungan para pemilih ini sejalan dengan kekhawatiran terhadap imigrasi.

Dengan latar belakang ini, Rogg mengatakan dia merasa memiliki satu tanggung jawab khusus untuk mengubah mitos tersebut.

“Salah satu pesan pentingnya adalah bahwa gambar ini memiliki banyak wajah.”

Banyak saksi mata pengemboman ini menggambarkan harus bersembunyi selama berjam-jam di bawah tanah sementara rumah dan keluarga mereka dibakar.

“Orang terbakar berlarian sambil berteriak seperti obor berjalan dan jatuh. Kami tidak bisa berdiri sehingga harus jongkok selama berjam-jam. Kekacauan terjadi di sekeliling kami,” tulis Peter Hoffman, lahir pada 1932.

Akan tetapi ada juga cerita-cerita lain, seperti puluhan warga Yahudi yang dipaksa bekerja untuk bisa menghindari kamp konsentrasi akibat kekacauan yang disebabkan oleh pengeboman itu. (yns)