Selandia Baru Bergabung dengan Koalisi Melawan ISIS

Hanna Azarya Samosir/CNN, CNN Indonesia | Selasa, 24/02/2015 14:14 WIB
Selandia Baru Bergabung dengan Koalisi Melawan ISIS Dalam misi dua tahun terhitung Mei mendatang ini, pasukan Selandia Baru akan melatih tentara keamanan Irak di Kompleks Militer Taji di utara Baghdad. (Reuters/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selandia Baru akan menjadi negara ke-63 yang bergabung bersama koalisi melawan ISIS di bawah komando Amerika Serikat. Keputusan ini diumumkan oleh Perdana Menteri Selandia Baru, John Key, di depan anggota dewan pada Senin (23/2).

Diberitakan CNN, Selasa (24/2), Key akan menerjunkan 143 personel ke Irak untuk misi non-tempur. Dalam misi dua tahun terhitung Mei mendatang ini, pasukan Selandia Baru akan melatih tentara keamanan Irak di Kompleks Militer Taji di utara Baghdad. Selandia Baru juga akan mengirimkan tentara untuk mengamankan proses pelatihan.

Key mengatakan bahwa ISIS mengancam stabilitas Timur Tengah dan Selandia Baru memiliki kewajiban untuk mendukung negara-negara di kawasan itu secara hukum internasional.


"Warga Selandia Baru adalah pelancong aktif dan kita tidak kebal terhadap ancaman ISIS. Kebrutalan ISIS semakin buruk dan aksinya telah menyatukan koalisi antara 62 negara untuk menyerang dan melumpuhkan kelompok ini," ucap Key dalam sebuah pernyataan seperti dikutip CNN.

Partai posisi Selandia Baru dengan cepat menentang keputusan pemerintah tersebut. Menurut mereka, hal ini masih harus dirundingkan di parlemen.

Pemimpin Partai Buruh, Andrew Little, mengatakan bahwa partainya menentang pengiriman tentara ke Irak.

"Perdana Menteri mengatakan mereka akan aman, tapi kita tahu mereka tidak akan aman. Mereka tidak bisa bertahan di sana, mereka tidak bisa tinggal di sana, mereka tidak bisa melakukan itu. Mereka tidak bisa hanya diam di dalam teritori, mereka akan berada dalam konflik yang lebih besar. Bukan hanya tentara yang akan kita kirim ke Irak, akan ada warga negara Selandia Baru juga pergi ke luar negeri," papar Little.

Senada dengan Little, Pemimpin Partai Hijau, Russel Norman, mengatakan, "(Key) menarik Selandia Baru ke medan tempur orang lain tanpa mandat."

Norman juga berpendapat Key membuat Selandia Baru dan penduduknya menjadi target ISIS.

Kritik juga datang dari pemimpin Partai New Zealand First, Winston Peters, yang mengatakan bahwa Key membuat gerakan besar dengan keputusan pengiriman pasukan ini.

"Tidak ada yang berubah di Irak, kecuali kelompoknya mempersuasi Key untuk menerjunkan pasukan kita," katanya.

Membendung banjir kritik ini, Key mengatakan bahwa pemerintah sudah mempertimbangkan dengan cermat keputusan Selandia Baru untuk berkontribusi dalam koalisi AS ini.

"Misi pelatihan seperti ini bukan tanpa bahaya dan ini bukan keputusan yang mudah untuk diambil. Saya telah mengajukan jaminan bahwa warga kita di dalam dan Taji akan aman," tutur Key.

Pasukan ini dikerahkan atas permintaan pemerintah Irak yang menginginkan Selandia Baru untuk bergabung dengan koalisi melawan ISIS. Kabinet Selandia Baru akan meninjau ulang keputusan ini setelah sembilan bulan. (stu)