Dua Pria Terkait ISIS di Australia Akan Menusuk Leher Target

Hanna Azarya Samosir/Reuters, CNN Indonesia | Kamis, 12/02/2015 19:00 WIB
Dua Pria Terkait ISIS di Australia Akan Menusuk Leher Target Polisi kontra-terorisme Australia menangkap dua pria yang disebut akan melakukan serangan dan menemukan bukti keterkaitan mereka dengan ISIS, seperti senjata hingga bendera ISIS. (Reuters/Andrew Taylor)
Jakarta, CNN Indonesia -- Polisi kontra-terorisme Australia menggagalkan serangan yang diduga akan diluncurkan oleh dua pria di Sydney, Australia, pada Rabu (11/2).

Setelah menyaksikan video yang disita, Perdana Menteri Australia, Tony Abbot, mengungkapkan bahwa kedua orang tersebut berencana untuk menikam ginjal dan menusuk leher calon korbannya.

“(Mereka) berlutut di depan bendera kultus dengan pisau dan golok di tangannya, salah satu orang yang ditahan berkata, 'Saya bersumpah kepada Allah yang Mahakuasa, kami akan membawa implementasi pertama untuk tentara-tentara dari khalifah di Australia ini,'" ujar Abbott di hadapan parlemen seperti dikutip Reuters, Kamis (12/2).


Melanjutkan penuturannya, Abbott berkata, "Ia kemudian mengatakan, 'Saya bersumpah kepada Allah Mahakuasa, orang pirang, tidak ada ruang untuk kesalahan antara Anda dan kami. Kami hanya menikam ginjal dan menusuk leher.'"

Kedua pria yang namanya tidak diungkapkan kepada publik ini masing-masing berusia 24 dan 25 tahun. Keduanya ditangkap dengan tuduhan merencanakan aksi terorisme setelah polisi menggeledah sebuah rumah di pinggiran kota Sydney bagian barat pada Selasa (10/2).

Selain video tersebut, pihak kepolisian Australia juga menyita barang bukti berupa sebilah parang, pisau berburu, dan bendera buatan yang mewakili kelompok militan ISIS.

Penangkapan ini merupakan salah satu perwujudan dari komitmen Australia untuk memberantas terorisme. Australia tengah menghadapi serangan dari kelompok simpatisan ISIS dan menetapkan status "siaga tinggi".

Australia juga meningkatkan keamanan sejak drama penyanderaan selama 16 jam di Kafe Lindt, Sydney yang menewaskan dua orang, pada September lalu.

Pemerintah Australia menyakini bahwa sedikitnya 70 warganya bergabung bersama ISIS dan ikut berperang di Suriah dan Irak. Mereka disinyalir didukung oleh sekitar 100 orang fasilitator yang bermarkas di negara ini.

Australia merupakan salah satu negara yang bergabung dengan koalisi serangan udara melawan ISIS yang dipimpin AS. Perdana Menteri Tony Abbott juga memperkenalkan hukum baru yang ketat terhadap mereka yang bergabung dengan ISIS, dan meningkatkan kewenangan aparat keamanan di dalam negeri. (stu)