Derita Anak-anak Vietnam Diperbudak di Ladang Ganja Inggris

Denny Armandhanu/Reuters, CNN Indonesia | Kamis, 26/02/2015 10:11 WIB
Anak-anak ini dibawa dari Vietnam dengan jalan kaki, naik perahu atau rakit, butuh berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk bisa sampai ke Inggris. Lebih dari 2,7 juta orang di Inggris mengonsumsi lebih dari 1.000 ton cannabis dan menghabiskan uang sekitar 5,9 juta pound sterling setiap tahunnya. (Ilustrasi/Getty Images)
London, CNN Indonesia -- Puluhan ribu orang menjadi korban perbudakan di era modern di Inggris. Kebanyakan mereka adalah anak-anak asal Vietnam, korban perdagangan manusia di negara asal dan menjadi budak di ladang-ladang ganja di Inggris.

Menurut data Kementerian Dalam Negeri Inggris yang dikutip Reuters, Rabu (25/2), ada lebih dari 13 ribu korban perbudakan di negara itu pada tahun 2013. Selain Vietnam, mereka berasal dari Albania, Nigeria dan Vietnam.

Menurut pengacara pembela tindak pidana Inggris Philippa Southwell, anak-anak Vietnam dibawa ke Inggris dengan berjalan kaki, perahu atau rakit selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sebelum sampai ke negara Ratu Elizabeth tersebut.


"Biasanya mereka dibawa melalui Rusia, Jerman, Perancis. Beberapa dengan berjalan kaki melalui hutan selama berhari-hari. Mereka tidur di tenda dan disembunyikan di belakang mobil van yang sempit. Tidak bisa bergerak, udara yang tipis. Mereka harus kencing di dalam kotak tempat mereka bersembunyi," kata Southwell.

Sesampainya di Inggris, anak-anak ini ditempatkan di penjara virtual, yaitu ladang ganja di dalam sebuah rumah dengan sistem pemanas dan pencahayaan yang canggih. Bayaran mereka akan direbut untuk membayar utang perjalanan ke Inggris, jumlahnya bahkan bisa mencapai 30 ribu pound sterling atau hampir Rp600 juta.

"Tempat itu sangat berbahaya. Listriknya mencuri, kabel dimana-mana. Jendelanya dipaku agar mereka tidak bisa kabur. Ada saringan di jendela agar tidak tembus cahaya," ujar Southwell lagi.

Walaupun mariyuana ilegal di Inggris sejak tahun 1928, namun daun ganja adalah narkoba paling populer di negara tersebut.

Menurut Unit Pengawasan Narkoba Independen Inggris, lebih dari 2,7 juta orang mengonsumsi lebih dari 1.000 ton cannabis dan menghabiskan uang sekitar 5,9 juta pound sterling setiap tahunnya.

Asosiasi Petugas Polisi Inggris mengatakan bahwa kebanyakan pengonsumsi cannabis Inggris menumbuhkan sendiri ganja mereka, dan dalam empat tahun hingga 2011, jumlah ladang ganja rumahan di Inggris meningkat dua kali lipat, hampir berjumlah 8.000.

Sayangnya, jika ladang-ladang ini ditemukan, anak-anak Vietnam di dalamnya diperlakukan seperti kriminal, bukan sebagai korban.

"Kita lebih sering memenjarakan, menghukum atau mendakwa para korban ketimbang mengadili orang-orang yang telah mengeksploitasi mereka," kata Chloe Setter, kepala kampanye, kebijakan dan advokasi ECPAT UK, badan donasi untuk anak-anak korban perdagangan manusia.

Tahun 2013 pemerintah Inggris telah memperkenalkan rancangan undang-undang soal perbudakan modern. Dengan UU ini, para korban perbudakan bisa berargumentasi bahwa pelanggaran hukum yang mereka lakukan karena pemaksaan pihak tertentu.

Beberapa korban perbudakan yang tidak terbukti bersalah akan ditempatkan di panti atau hidup bersama orang tua asuh, namun kebanyakan mereka melarikan diri. Setter mengatakan, salah seorang anak Vietnam meninggalkan memo "permintaan maaf" saat kabur dari orang tua asuhnya.

"Dia mengaku bersalah karena kabur tapi dia mengatakan, 'mereka mengancam adik saya. Saya harus pergi'," kata Setter.

"Itulah perbudakan modern. Tidak selalu merantai atau memenjarakan orang. Ini adalah bentuk pengendalian mental seseorang," lanjut dia.

Menurut Kementerian Keamanan Publik Vietnam, sekitar 60 persen dari para pelaku perdagangan manusia yang ditangkap adalah mantan korban.

"Yang mereka tahu hanyalah dunia kriminal. Mereka diperkosa, dipukuli, dilecehkan. Mereka direndahkan kemanusiaannya, jadi tidak sulit bagi mereka untuk melakukan hal yang sama," ujar Mimi Fi dari Yayasan Pacific Links, yang mengurusi korban perbudakan di Vietnam. (stu)