Dilansir Channel NewsAsia, Senin (2/3), dua anggota Partai Demokrasi ini datang ke Kantor Polisi Wan Chai sambil memegang payung kertas kuning yang merupakan lambang gerakan demokrasi. Di sekitar mereka, berdiri para pendukung yang berteriak, "Kami ingin hak pilih universal."
Sebelum masuk ke kantor polisi, Helena berkata, "Kami rakyat Hong Kong yang mencoba berjuang untuk demokrasi yang sebenarnya dan pemerintah Tiongkok merenggut demokrasi itu dari kami."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, pemimpin siswa perwakilan pergerakan anak muda Hong Kong, Joshua Wong, juga telah menjalani pemeriksaan di kepolisian. Ia ditahan dan diinterogasi, kemudian dibebaskan beberapa jam kemudian tanpa tuntutan apapun.
Memberikan keterangan pasca pemeriksaan, Wong menyatakan bahwa polisi baru dapat menghukum para siswa jika menemukan bukti atas kesalahan yang dituduhkan.
Namun, pihak kepolisian mengatakan bahwa mereka memiliki hak untuk menuntut demonstran yang sudah dilepas. Pengacara Joshua, Michael Vidler, menganggap hal tersebut merupakan upaya kontrol pemerintah.
"Ini menyebabkan rasa kecemasan dan mereka menggunakan itu, menurut pandangan saya, sebagai cara untuk mengontrol," katanya.
Senada dengan Vidler, salah satu mantan pejabat bernama Audrey Eu yang akan menyerahkan diri pada Senin sore berkata, "Penahanan yang sudah direncanakan ini adalah pemborosan sumber daya dan uang. Polisi mencoba mengintimidasi rakyat Hong Kong."
Sementara itu, beberapa pejabat pro-demokrasi lain juga dikabarkan akan memenuhi panggilan polisi hari ini, di antaranya Martin Lee dan Charles Mok.
(ama/stu)