Seperti dilansir Sputnik akhir pekan lalu, dalam gulungan tisu tersebut Chun-ying digambarkan memiliki taring dan terdapat tulisan "bohong" di dahinya. Di gulungan tisu lain terlihat Chun-ying membawa simbol palu dan arit simbol Partai Komunis Tiongkok.
Ribuan tisu tersebut disita dari sebuah pabrik di kota Shenzhen. Lo Kim-hei, wakil ketua Partai Liberal Hong Kong mengatakan bahwa tidak alasan dari aparat terkait penyitaan ribuan tisu senilai US$12.900 atau setara Rp162,7 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya rasa pemerintah Tiongkok tidak suka orang mencemooh pejabat pemerintah, terutama pejabat tinggi setelah gerakan protes. Mereka jadi lebih sensitif terhadap kritik," ujar Lo.
Sekitar 3.000 demonstran melakukan aksi di pusat perbelanjaan dan finansial di Hong Kong. Aksi tersebut dibayangi oleh sekitar 2.000 polisi yang berupaya mencegah demonstran menguasai dan menginap di jalanan seperti tahun lalu.
Ini adalah aksi pertama setelah demonstrasi sebelumnya berakhir pada Desember tahun lalu. Pada aksi sebelumnya, ribuan demonstrasi berhasil bertahan di jalan hingga 2,5 bulan hingga akhirnya dibubarkan polisi.
Pihak penyelenggara mengatakan bahwa aksi saat itu ini bertujuan damai, menuntut pemilihan umum demokratis untuk Hong Kong. Mereka juga mengatakan bahwa tidak akan menduduki jalan seperti aksi tahun lalu.
Pasca aksi itu, wakil kepala departemen bantuan hukum dan urusan luar negeri Kementerian Keuangan Tiongkok, Zhang Xiaoming, mengingatkan pegiat demokrasi di Hong Kong untuk tidak menuntut kemerdekaan dan melawan Beijing.
“Kami tidak akan membiarkan upaya menolak yurisdiksi pemerintah pusat di Hong Kong dengan dalih otonomi lebih besar yang pada akhirnya menuntut ‘kemerdekaan Hong Kong’ atau bahkan secara terbuka menentang pemerintah pusat melalui cara-cara ilegal,” kata Zhang pada Rabu (4/2) seperti dikutip media pemerintah Tiongkok, Xinhua. (den)