Kolumnis Tidak Terdaftar

Kolom

Saatnya Hentikan Perang Dingin Obama vs Netanyahu

Kolumnis Tidak Terdaftar, CNN Indonesia | Senin, 02/03/2015 16:15 WIB
Saatnya Hentikan Perang Dingin Obama vs Netanyahu Sudah saatnya bagi pemimpin Israel dan Amerika Serikat menghentikan perang kata-kata sebelum mereka menyebabkan kerusakan serius yang berdampak lama.(Diolah dari Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- David Gergen adalah analis politik senior CNN dan penasihat Gedung Putih untuk empat presiden . Lulusan Sekolah Hukum Harvard, Gergen adalah seorang profesor pelayanan publik dan direktur Center for Public Leadership di Harvard Kennedy School. Dalam tulisannya yang dipublikasikan di CNN, Gergen memberikan pandangannya soal hubungan AS dan Israel yang semakin renggang akibat beda pendapat tentang nuklir Iran.

Sudah saatnya bagi pemimpin Israel dan Amerika Serikat menghentikan perang kata-kata sebelum mereka menyebabkan kerusakan serius yang berdampak lama.

Menjelang pidato Benjamin Netanyahu di depan sidang umum Kongres pada Selasa (3/2), kedua pemimpin harus segera menyepakati satu gencatan senjata.


Pidato itu sendiri merupakan kesalahan besar. Menjadwalkannya tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan Gedung Putih tidak hanya merupakan penghinaan terhadap Barack Obama, tetapi juga terhadap Kepresidenan Amerika Serikat.

Seseorang kemungkinan berpikir bahwa setelah timbul polemik, Netanyahu akan menderita “flu” dan menundanya, tetapi karena dia tetap berencana melakukan pidato itu, Netanyahu setidaknya harus memberi pidato yang terukur dan dipikir dengan mendalam, bukan pidato berapi-api yang biasa dia keluarkan.

Tetapi, perlu diingat bahwa Netanyahu berhak tampil di sidang umum Kongres yang dihadiri oleh kedua partai politik besar di AS.

Penyebab memburuknya hubungan antara kedua negara itu memang jelas terlihat di Amerika Serikat dan Israel.

Konflik itu dimulai ditingkat pribadi. Pihak yang dekat dengan Obama dan Netanyahu mengatakan kedua pemimpin ini memang saling tidak suka sejak bertahun-tahun lalu, dan perasaan itu berkembang menjadi saling membenci.

Mereka mengatakan Obama memandang Netanyahu keras kepala, suka membesar-besarkan dan tidak berhati-hati. Sementara Netanyahu memandang Obama lemah, tidak bisa diandalkan dan sombong.

Tim Obama juga menuduh Netanyahu mengatur waktu pidato di Kongres untuk mendapatkan dukungan dari rakyat menjelang pemilu dua minggu mendatang, Bibi bertindak seperti Churchil ketika menentang Nazi.

Sementara, tim Netanyahu memandang Obama sangat ingin mencapai kesepakatan nuklir dengan Iran sebagai peninggalannya, pemenang Nobel yang menciptakan perdamaian.

Masing-masing memandang satu sama lain sebagai orang yang membahayakan masa depan dunia dan mereka mengijinkan petinggi-petinggi masing-masing negara untuk melakukan serangan bertubi-tubi melalui media.

Perpecahan Serius

Rasa benci yang dimulai di tingkat pribadi ini semakin mendalam dalam beberapa bulan terakhir dan memperlebar perpecahan serius terkait cara terbaik menangani langkah agresif Iran untuk menjadi satu negara nuklir.

Ancaman Iran sejak lama memang menjengkelkan; mantan Menteri Pertahanan Bob Gates pernah mengatakan kepada saya bahwa itu adalah masalah paling sulit dalam 50 tahun karirnya di bidang keamanan nasional.

Tidak ada solusi yang bisa diterima oleh semua pihak yang terkait.

Pemerintah Obama memandang kesepakatan bersifat kompromi dengan Iran yang akan membatasi - tetapi tidak mencabut - kemampuan nuklirnya lebih baik daripada kegagalan perundingan saat ini, yang berisiko pertikaian bersenjata.

Pemerintah Netanyahu yakin kesepakatan yang tampaknya siap diterima oleh Obama akan membuat Iran bisa bergerak dengan leluasa dan bisa membuat bom.

Sebenarnya, beda pandangan itu ada benarnya. Sisi negatifnya tidak terletak pada rincian tetapi pada struktur kesepakatan itu. Seperti yang diyakini oleh Obama, kesepakatan yang dirundingkan itu jauh dari lebih baik daripada kemungkinan perang atau membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.

Tetapi yang mengejutkan, tidak hanya bagi Israel tetapi juga sekutu Amerika di wilayah, adalah bahwa AS dan mitranya dalam perundingan dengan Iran (Rusia, Tiongkok, Inggris, Perancis dan Jerman) berulangkali membuat konsesi agar Iran menandatangani kesepakatan, tanpa meminta konsesi dari Iran.

Konsesi Sepihak?

Pertimbangan: AS dan Israel memulai jalan perundingan dengan mengatakan secara terbuka bahwa Iran harus menghentikan benar-benar program nuklir sebagai imbalan pencabutan sanksi ekonomi terhadap Teheran.

Tetapi bocoran perundingan memperlihatkan bahwa dalam rangka mencapai kesepakan, AS sekarang siap menerima lebih banyak sentrifugal yang dimiliki oleh Iran, 6.500 pada perundingan terakhir.

Israel khawatir diplomasi Presiden AS, Barrack Obama, dengan Iran dan enam negara lainnya mengizinkan musuh bebuyutannya tersebut membangun senjata atom. (Ilustrasi/Getty Images/Mario Tama)
Washington dan Tel Aviv pernah membicarakan satu kesepakatan yang akan berlangsung selama 20 tahun. Tetapi bocoran perundingan mengisyaratkan bahwa kesepakatan itu hanya akan berlaku 10 tahun, dan kemudian memberi Iran kesempatan untuk mengatasi kerugian yang diderita dalam masa tersebut. Ini hanya awal dari perbedaan yang terjadi.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry mengeluarkan pernyataan penting bahwa satu kesepakatan sementara yang dicapai 18 bulan lalu berisi kompromi yang ternyata lebih sukses dibandingkan perkiraan pengriktiknya, dan oleh karena itu perundingan yang sekarang dibicarakan harus diterima dengan tangan terbuka.

Tetapi pengkritik pemerintah Obama juga benar ketika mengatakan bahwa pemerintah AS tampaknya bertaruh bahwa jika diberi masa tenggang beberapa tahun, satu rezim yang mendukung terorisme di Timur Tengah ini akan berubah dan menjadi mitra perdamaian.

Mengatasi Perbedaan Masa Lalu

Sejak dulu, para pemimpin AS dan Israel terkadang saling membenci tetapi tetap mencapai satu kemajuan besar. Presiden Jimmy Carter sangat membenci Menachem Begin, tetapi kedua pemimpin dan Presiden Anwar Sadat dari Mesir berhasil merumuskan perdamaian Camp David pada 1978.

Meski ada pernyataan menusuk ketika Israel berperang dengan Hamas tahun 2014, terutama dikeluarkan oleh Israel ke John Kerry, Obama memastikan bahwa Israel tetap mendapat pasok militer yang cukup terutama untuk sistem pertahanan rudal Kubah Besi yang berhasil menyelamatkan nyawa warga Israel.

Tetapi perselisihan kali ini tampaknya lebih dalam. Hal ini tidak hanya di tingkat pribadi tetapi juga pada isi, dan terjadi ketika terjadi kekacuan di Timur Tengah.

Israel harus ingat bahwa Amerika adalah sahabat utama ketika anti-Semistisme kembali muncul di dunia. AS juga harus menghargai bahwa bagi Israel, Iran yang memiliki senjata nuklir merupakan ancaman terbesar.

Amerika juga memiliki teman di dunia Arab Timur Tengah yang memiliki kepentingan besar di sini, seperti Arab Saudi yang akan merasa harus memiliki senjata nuklir jika memandang kesepakatan itu lemah. Hal ini akan menciptakan perlombaan senjata di wilayah.

Ini adalah period yang menuntut pemimpin Israel dan AS mengecilkan suara mereka, membicarakan perbedaan pendapat di balik layar dan mulai memperbaiki rasa percaya yang rusak itu.

Dalam perundingan tertutup, mereka harus bekerja keras mencari jalan untuk menjembatani perbedaan, bisa dimulai dari usul yang kreatif dari sejumlah diplomat veteran AS yang baru-baru ini diajukan.

Dennis Ross, misalnya, mengatakan kekhawatiran negara-negara sekutu bisa diatasi jika AS bisa memperkuat rezim pemeriksaan, tim yang lebih besar untuk bisa datang kapan saja ke Iran, dan membuat undang-undang yang mengatur bahwa pelanggaran oleh Iran akan dijawab dengan aksi militer.

Martin Indyk mengusulkan AS bisa membuat satu traktat formal dengan Israel yang disetujui oleh Kongres, yang menjamin satu “jaminan nuklir” AS untuk Israel jika Iran bertindak.

Singkatnya, situasi saat ini memang kelam tetapi bukannya tanpa harapan. Yang diperlukan adalah satu gencatan senjata.

Menlu John Kerry tampaknya bergerak ke arah ini ketika dia mengatakan Netanyahu bisa berbicara di depan Kongres pada Selasa.

Para politisi lain harus mulai memikirkan hal ini, dan mengakui bahwa musuh AS sebenarnya bukan di Tel Aviv atau Washington, tetapi ada di Teheran yang mendukung terorisme dan kekacauan di Timur Tengah.
(yns/yns)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS