Menurut direktur lembaga HAM Iraqi Observatory for Human Rights, Mustafa Saadoun, dalam wawancara dengan stasiun TV Al Hadath, dikutip al-Arabiya, bocah yang diduga berusia 11 tahun itu ditangkap di Provinsi Diyala.
Bocah itu dituduh terlibat dalam gerakan terorisme dan ditembak mati. Saadoun mengatakan bahwa tindakan itu sangat "barbar" dan melanggar hukum internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam video tersebut terlihat anak kecil itu dikelilingi para tentara Irak yang meneriakinya. Tersirat jelas ketakutan di wajah anak itu saat tentara menamparinya dan menodonginya dengan senapan.
Seorang tentara terlihat mencoba melerai. Tentara lainnya mulai mundur, termasuk tentara yang melerai mereka. Bocah itu dijauhi sekitar lima meter sebelum dia ditembaki. Tidak satu kali, tapi diberondong peluru. Tewas seketika.
Dalam menghadapi pasukan ISIS yang menguasai wilayah itu, pasukan Irak sangat mengandalkan bantuan dari militan Syiah yang kerap dilaporkan membantai dan menyiksa warga Sunni.
"Militan Syiah kerap melakukan serangan pembalasan sektarian terhadap sipil Sunni yang tidak terlibat dalam peperangan. Kami prihatin atas keadaan ini dan meningkatnya serangan seperti itu dalam operasi yang tengah berlangsung," kata Donatella Rovera, penasihat krisis di lembaga Amnesty International.
Sebelumnya militan Syiah Irak dilaporkan mengeksekusi mati sedikitnya 70 warga desa Sunni. Perdana Menteri Haider al-Abadi memerintahkan penyelidikan atas laporan tersebut.
Abadi juga dinilai semena-mena dari kalimatnya dalam pidato di parlemen, menyerukan rakyat Tikrit melawan ISIS. Abadi mengatakan "dalam peperangan, tidak ada pihak yang netral" menyiratkan bahwa rakyat Irak yang tidak memihak pemerintah sudah otomatis adalah simpatisan ISIS.
"Pernyataan itu salah. Setiap orang yang tidak turut serta dalam peperangan secara langsung adalah warga sipil, dan dilindungi dari serangan yang disengaja atau tidak disengaja," kata direktur Timur Tengah dan Afrika Utara Human Right Watch.
"Sipil tidak dilindungi oleh tentara Iran saat ISIS mengambil alih kota dan desa tahun lalu," kata Rovera lagi. (den/den)