Bentrokan yang terjadi pada 25 Januari lalu dan menewaskan 44 orang di Mamasapano tersebut menggiring Aquino terhadap krisis politik terbesar dalam pemerintahannya.
Sejumlah uskup Katolik Roma, anggota parlemen, dan kelompok masyarakat sipil serta aktivis menyerukan Aquino untuk mengundurkan diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menangkap Marwan, pasukan khusus komando polisi Filipina menyelinap ke daerah pemberontak di selatan. Namun, operasi tersebut gagal, dan polisi terlibat bentrokan dengan MILF dan BIFF.
Operasi itu dipimpin oleh Jenderal Getulio Napenas tersebut tidak terkordinasi dengan MILF. Padahal MILF telah menyetujui gencajan senjata sebagai bagian dari perundingan damai dengan pemerintah Filipina.
Aquino menyatakan bahwa operasi yang dipimpin Napenas telah menyimpang dari rencana semula yang diajukan kepadanya dua pekan sebelumnya.
Aquino menyatakan "tuduhan yang tepat" akan diajukan terhadap Napenas untuk aksi pembangkangan tersebut.
Aquino bertemu pendeta gereja Kristen di istana presiden pada Minggu (8/3) dalam pertemuan dan doa khusus. Pertemuan ini tanpa didampingi oleh uskup Katolik Roma yang mengkritiknya karena memberikan kepercayaan bagi Kepala Polisi Filipina, Alan Purisima, untuk mengawasi dan bertanggung jawab secara keseluruhan terhadap misi rahasia tersebut. (ama)