Kepada CNN Indonesia, Deputi Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) Arief Dharmawan, mengungkapkan selain tawaran klasik berupa penampungan aspirasi semangat “jihad”, faktor bujuk rayu materi belakangan diketahui menjadi motivasi lain bagi para warga Indonesia untuk bergabung dengan ISIS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
”Belum jelas benar soal besaran, namun saya yakin ada iming-iming harta selain hanya menampung syahwat jihad versi mereka,” katanya.
Terakhir diketahui, Pemerintah Turki telah menahan 16 warga Indonesia yang hendak menyeberang ke Suriah pada Rabu pekan lalu. Sebelumnya, ada sebanyak 16 warga Indonesia dikabarkan menghilang ketika mereka berkunjung ke Turki dengan menggunakan biro perjalanan resmi Smailing Tour dari Indonesia.
Sementara itu, masih dari data telaahan BNPT menyebutkan hanya segelintir saja warga Indonesia yang bisa masuk dan berada di garis depan ISIS. Paling banyak, kata Arief, jumlahnya hanya berkisar 50 orang saja.
“Sedikit yang ikut bertempur di garis depan, menurut informasi cukup sulit untuk bisa mendapatkan kepercayaan bertempur di garis depan,” ujarnya.
Menjadi apapun warga Indonesia di dapur ISIS sebenarnya bukan isu yang harus dicermati. Namun, bagaimana negara bisa mencegah warganya agar tak terbujuk rayu oleh gerakan teroris dan membahayakan warga lainnya adalah tugas utama pemerintahan Joko Widodo. (sip/obs)