Keluarga Teroris Museum Tunisia: Abidi Tak Tega Sakiti Burung

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Sabtu, 21/03/2015 11:54 WIB
Keluarga Teroris Museum Tunisia: Abidi Tak Tega Sakiti Burung Penembakan di Museum Bardo, Tunis, terjadi saat banyak turis tengah berkunjung. (Reuters/Tunisia TV handout via Reuters TV)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sesaat sebelum serangan bersenjata terjadi di Museum Bardo, Kota Tunis, Tunisia, Rabu (18/3), Yassine al-Abidi menikmati sarapan bersama keluarganya lalu pamit untuk bekerja di sebuah agen pariwisata --seperti biasanya.

Tak heran keluarga Abidi masih sulit menerima kenyataan bahwa Abidi menjadi tersangka dalam penyerangan yang menewaskan 17 turis asing dan dua warga Tunisia lainnya di Museum Bardo itu.

Di mata keluarga, Abidi adalah tipikal seorang pemuda dari daerah pinggiran Omrane Superier pada umumnya. Ia menuntut ilmu di Perancis dan pulang ke kampung halaman untuk bekerja. Tak ada kejanggalan yang mengindikasikan Abidi terjerumus dalam radikalisme.


Namun beberapa kerabatnya mengaku belakangan ini Abidi sering menghabiskan waktu di masjid-masjid lokal. Di tempat itulah biasanya kaum Salafi mencuci otak para pemuda untuk berjihad di Irak, Suriah, atau Libya.

Kendati demikian, saat berada di rumah, Abidi tidak menunjukkan tanda-tanda sudah dirasuki paham radikalisme seperti menolak musik populer dan hiburan duniawi.

"Ia selalu menyenangkan. Kami berdansa bersama dalam beberapa acara pernikahan saudara. Ia tidak seperti Salafi garis keras. Misalnya, ia tidak pernah melarang kami menonton televisi," ujar kerabat Abidi yang enggan diungkap identitasnya kepada Reuters.

Sampai akhirnya Abidi meninggalkan rumah selama dua bulan, mengaku ingin bekerja di kota komersial Sfax di tepi pantai Tunisia.

Menurut pemerintah Tunisia, saat sedang berada di masjid pada September 2014, Abidi dan salah satu rekannya direkrut untuk menjalani latihan di kamp jihad di Libya. Abidi pun sebenarnya sudah dimonitor oleh aparat keamanan Tunisia.

"Labidi dikenal oleh aparat keamanan. Ia telah ditandai dan dimonitor," ujar Perdana Menteri Tunisia Habib Essid kepada stasiun radio Perancis, RTL, Kamis (19/3).

Sebelumnya, Essid mengatakan pelaku serangan teror di Bardo adalah kelompok radikal. Namun ia belum dapat memastikan di kelompok radikal mana para penyerang tersebut bernaung.

"Kami masih menjalani proses investigasi lebih lanjut. Kami belum dapat mengumumkan ia termasuk dalam organisasi apa," kata Essid.

Sementara itu, ISIS memuji tindakan Abidi dan rekannya, Saber Khachnaoui. Mereka mengatakan Abidi dan Khachnaoui adalah pejuang ISIS.

Setelah mendengar klarifikasi dari ISIS ini, kerabat Abidi terperangah. "Saya sedih melihat Yassine, tapi lebih sedih lagi terhadap korban yang dibunuh Yassine. Mereka tak bersalah. Mengapa mereka harus menjadi korban dari kesalahpahaman pengertian Islam? Mereka adalah korban terorisme," tuturnya.

Senada dengan kerabat tersebut, ibunda Abidi, Zakia, juga heran bukan kepalang. "Anak yang saya kenal sebelumnya tidak dapat melakukan ini. Ia bahkan tidak tega menyakiti seekor burung," ujar Zakia.

Museum Bardo yang diserang kelompok bersenjata berlokasi di jantung Kota Tunis. Museum itu terletak di sebuah gedung yang terhubung ke pusat kota dan selalu ramai dikunjungi turis mancanegara.

Saat penyerangan terjadi, dua kapal pesiar dengan penumpang lebih dari 3.000 orang, MSC Splendida dan Costa Pascinosa, sedang berlabuh di Tunis. Para penumpang kedua kapal itu tengah melakukan tur ke Museum Bardo. Turis asal Polandia, Italia, Jerman, dan Spanyol termasuk di antara mereka yang tewas. (agk)